Sejumlah bukti empiris dan riset ilmiah justru menegaskan bahwa konsep gaya belajar individu tidak terbukti secara sains. Hasil studi menunjukkan bahwa pengajaran berdasarkan gaya belajar yang disukai tidak memberikan dampak perbedaan pada capaian belajar siswa.
Para pakar pun mendorong agar praktisi akademisi beralih dari mitos yang sudah berakar lama ini. Penggunaan metode yang tidak berbasis bukti nyata dinilai hanya membuang efisiensi dalam proses belajar mengajar, baik di sekolah maupun perguruan tinggi.
Gaya Belajar Individu Hanya Mitos
Penerapan metode mengajar yang disesuaikan dengan gaya belajar individu seperti visual, auditori, atau kinestetik selama ini dianggap mampu mendongkrak prestasi belajar siswa secara signifikan. Namun, pengujian berbasis sains membuktikan bahwa penyesuaian materi dengan preferensi belajar tersebut sama sekali tidak memengaruhi hasil akhir pembelajaran.“Mungkin kalau saya senangnya visual, ada juga siswa yang lebih bagus dengan kinesthetic writing. Nah, yang mau saya tanyakan itu mitos atau sungguh-sungguh saintifik? Jawabannya mitos, tidak terbukti sama sekali berdasarkan sains,” ungkap Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, dikutip dari unggahan akun Instagram @prof.stellachristie, Minggu, 2 Agustus 2026.
Berbagai paper ilmiah dan studi eksperimental telah membuktikan kelemahan konsep gaya belajar individu. Hasil studi menunjukkan bahwa performa belajar siswa yang diajarkan sesuai preferensi pilihan mereka ternyata memiliki hasil yang persis sama dengan siswa lain.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penyesuaian instruksi belajar dengan tipe kepribadian tidak memberikan dampak perbedaan nyata. Hingga kini, tidak ada bukti empiris yang mendukung bahwa metode berbasis preferensi gaya belajar mampu memberikan keunggulan akademis.
Gunakan Metode Pembelajaran Berbasis Bukti
Mengingat temuan ilmiah ini, para pendidik diimbau untuk tidak lagi terpaku pada mitos gaya belajar individu yang bersifat spekulatif. Sudah saatnya sistem pengajaran berpatokan pada efektivitas metode yang telah teruji secara statistik dan empiris di lapangan.“Jadi, para dosen dan para guru, ayo kita menggunakan bukti empiris tentang metode pembelajaran apa yang sungguh-sungguh menghasilkan cara belajar kita,” imbau Stella.
Dengan beralih ke metode pengajaran berbasis bukti atau evidence-based learning, proses belajar mengajar di kelas diharapkan menjadi lebih terarah, efisien, dan memberikan dampak nyata bagi perkembangan akademis siswa. (Talitha Islamey)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda