Teknologi ini hadir sebagai solusi di tengah maraknya produk makanan olahan dan jajanan pasar yang rawan kontaminasi bahan tambahan terlarang. Dengan desain praktis, Si-AZA diharapkan dapat menjadi senjata utama bagi pengawas pangan untuk melakukan inspeksi mendadak, tanpa perlu lagi menunggu hasil uji laboratorium yang memakan waktu lama.
Urgensi penggunaan alat ini semakin meningkat, terutama saat memasuki momen penting seperti bulan suci Ramadan. Pada bulan tersebut, konsumsi masyarakat terhadap takjil dan jajanan buka puasa meningkat drastis.
Selama bulan Ramadan, potensi penyalahgunaan bahan kimia berbahaya oleh pedagang yang tidak bertanggung jawab cenderung meningkat. Dengan Si-AZA, pengawasan dapat dilakukan responsif guna memberikan rasa aman bagi masyarakat sebelum mengonsumsi hidangan mereka.
Fitur unggulan dan kemampuan deteksi Si-AZA
Si-AZA bukan sekadar alat uji biasa. Mengutip unggahan dalam akun Instagram @brinpedia, alat ini memiliki spesifikasi teknis yang mumpuni untuk kebutuhan praktis di lapangan:
1. Deteksi multi-zat
Mampu mengidentifikasi kandungan Alkohol, Formalin, Boraks, hingga pewarna tekstil berbahaya seperti Rodamin B.2. Akurasi tinggi
Memiliki tingkat akurasi di atas 90% dan telah terkalibrasi dengan metode standar laboratorium.3. Hasil real-time
Hasil pengujian dapat keluar hanya dalam hitungan detik, memudahkan pengambilan keputusan cepat di lokasi.4. Desain portabel
Desain portabel dilengkapi dengan baterai internal, sehingga alat dapat dioperasikan di pasar atau pusat keramaian tanpa perlu mencari colokan listrik.5. Digitalisasi data
Seluruh hasil pengecekan langsung tersimpan secara digital di dalam sistem untuk memudahkan pelaporan dan pengarsipan.Melalui slogan "pastikan aman, sebelum dimakan", BRIN mengingatkan tampilan makanan yang menggugah selera bukanlah jaminan keamanan bagi tubuh. Penggunaan zat seperti boraks atau formalin sering kali sulit dideteksi hanya dengan indra penglihatan atau penciuman.
Dengan adanya Si-AZA, proses pengujian pangan kini bisa dilakukan langsung di lokasi penjualan. Hal ini tidak hanya memangkas prosedur pengujian, tetapi juga memberikan efek jera bagi produsen pangan yang tidak bertanggung jawab. Inovasi ini merupakan bukti nyata komitmen BRIN dalam mengimplementasikan riset yang berdampak langsung pada perlindungan kesehatan masyarakat luas. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News