Cuk menegaskan bahwa isu pangan merupakan persoalan fundamental bagi keberlangsungan suatu bangsa. “Pangan adalah soal hidup dan mati suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan rakyat tidak terpenuhi, hal tersebut dapat menimbulkan persoalan besar. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang besar, radikal, dan inovatif untuk menjamin keberlanjutannya,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Pusat Riset Manufaktur Peralatan BRIN, Taufik Hidayat, menegaskan pentingnya pengembangan teknologi pertanian presisi di lahan rawa untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. “Program Presiden sangat jelas. Keberhasilan swasembada pangan tidak boleh bersifat sementara, tetapi harus berorientasi ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, optimalisasi potensi lahan rawa melalui penerapan teknologi yang tepat dan adaptif menjadi langkah strategis untuk mempertahankan keberhasilan tersebut.
Selanjutnya Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Budi Raharjo, menyatakan bahwa pengembangan lahan rawa sebagai lumbung pangan nasional dan global memerlukan dukungan teknologi serta inovasi peralatan pertanian presisi yang spesifik lokasi. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjawab tantangan ketahanan pangan di masa mendatang.
Ia menambahkan, lahan rawa menjadi pilihan strategis karena ketersediaan lahan irigasi teknis di Pulau Jawa dan wilayah lainnya semakin terbatas untuk dikembangkan.
“Tidak ada pilihan lain, lahan rawa merupakan peluang besar untuk dikembangkan sebagai sentra produksi padi. Pemerintah bahkan telah mendeklarasikan rawa sebagai lumbung pangan nasional hingga lumbung pangan dunia,” ia mengungkapkan.
Ia melanjutkan bahwa pengembangan lahan rawa bukan sekadar pembukaan lahan, melainkan proses integratif yang mencakup pengelolaan tata air, mekanisasi, dan penerapan teknologi presisi.
Menurutnya, persoalan utama di lahan rawa meliputi perataan lahan, sistem tanam, dan pengeringan. “Apabila ketiga aspek tersebut diselesaikan melalui teknologi presisi yang spesifik lokasi, maka lahan rawa dapat menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Selain itu Ketua Pusat Data dan Informasi Rawa dan Pesisir (PUSDATARAWA) Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanudin, menyatakan bahwa pengelolaan tata air yang tepat menjadi kunci keberhasilan mekanisasi pertanian di lahan rawa pasang surut. Tanpa sistem pengendalian air yang terstruktur, modernisasi pertanian berisiko menghadapi berbagai kendala, seperti degradasi tanah dan rendahnya produktivitas.
Menurutnya, mekanisasi merupakan kebutuhan mendesak di tengah keterbatasan tenaga kerja pertanian. Namun, penerapannya harus didukung tata air yang terstruktur serta infrastruktur pengairan yang berfungsi optimal.
“Pertanian modern dan mekanisasi harus dilakukan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada tata air dan bangunan air yang berfungsi dengan baik,” ujarnya.
Mekanisasi menjadi keniscayaan di kawasan rawa pasang surut yang umumnya memiliki luasan lahan lebih besar dibandingkan sawah irigasi. Namun, pengadaan alat dan mesin pertanian harus berbasis pada kebutuhan petani.
Ia menekankan pentingnya pendekatan partisipatif agar peralatan yang disediakan sesuai kebutuhan dan mudah dirawat sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, pengelolaan lahan rawa merupakan proses bertahap dan jangka panjang yang memerlukan evaluasi berkelanjutan terhadap infrastruktur tata air. Apabila tata air dikelola dengan baik, kematangan tanah akan lebih cepat tercapai, mekanisasi dapat berjalan efektif, dan produktivitas meningkat.
Dengan dukungan riset dan inovasi yang berkelanjutan, lahan rawa dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen pangan strategis, baik di tingkat nasional maupun global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News