Guru Besar Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor. Foto: Dok Humas IPB University.
Guru Besar Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor. Foto: Dok Humas IPB University.

Peneliti IPB Berhasil Ungkap Misteri Kerbau Belang Toraja

Arga sumantri • 20 Januari 2022 09:21
Jakarta: Konservasi ternak lokal sangat erat hubungannya dengan budaya setempat yang sudah mengakar selama ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Salah satu contohnya yaitu keberadaan kerbau belang di Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel).
 
Guru Besar Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor mengatakan, keberadaan kerbau belang di Tana Toraja sangat penting bagi masyarakat setempat. Ini lantaran terkait dengan budaya dan kepercayaan setempat yang diwariskan secara turun menurun.
 
Menurut Ronny, terkonsentrasinya populasi kerbau belang di Tana Toraja dalam jumlah yang cukup banyak memang sangat unik dan tidak ditemui di belahan dunia manapun. Bagi masyarakat Toraja, kerbau tidak saja melambangkan kesejahteraan pemiliknya namun juga merupakan bagian penting dalam upacara Rambu Solo. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ritual acara pemakaman yang telah  mengakar di budaya masyarakat Toraja," ujar Roony mengutip siaran pers IPB University, Kamis, 20 Januari 2022.
 
Baca: Peneliti BRIN Identifikasi Tumbuhan Paku Jenis Baru di Papua Nugini
 
Ia menambahkan dalam ritual ini kerbau dipercaya merupakan kekuatan dan wahana arwah untuk mencapai nirwana. Semakin banyak kerbau yang dikorbankan dalam ritual pemakaman ini maka dipercaya akan semakin baik kehidupan mendiang di alam baka.  
 
"Oleh sebab itu harga seekor kerbau belang berkisar antara ratusan juta sampai Rp1 miliar dan sangat tergantung pada pola warna kerbau belang ini," ujarnya.
 
Menurut Ronny, kerbau belang yang ada di Tana Toraja memiliki pola warna yang berbeda-beda dan masing-masing memiliki nama sendiri. Salah satu pola warna yang paling penting dan berharga adalah yang dinamakan Tedong Bonga Saleko.
 
"Kerbau belang yang masuk kategori Tedong Bonga Saleko memiliki warna dasar hitam dengan corak warna putih dengan ciri khas pola tertentu. Jarangnya kemunculan kerbau belang dengan pola warna ini membuat harga seekor Tedong Bonga Saleko dapat mencapai 1 milyar rupiah," paparnya.
 
 

Ia mengatakan misteri munculnya pola warna yang sangat khas pada kerbau belang ini memang sudah lama menarik perhatian ilmuwan untuk menguak rahasia ini. Namun, salah satu faktor yang membuat penelitian ini tidak dapat dilakukan dengan secara mendalam adalah karena pemilik kerbau belang ini umumnya tidak memperbolehkan kerbaunya menjadi objek penelitian.
 
"Bagi pemiliknya, kerbau belang ini memang diperlakukan dengan sangat istimewa dan tidak boleh sembarang orang menyentuh kerbaunya," ungkap Ronny.
 
Dalam rangka melestarikan keberadaan sumberdaya genetik ternak lokal yang sangat unik ini tim peneliti gabungan dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Swedish Agriculture University (Swedia) dan Uppsala University (Swedia) telah melakukan upaya untuk menguak rahasia di balik uniknya pola warna kerbau belang ini.
 
Ronny menyebut penelitian ini sangat strategis dan penting. Sebab, keberadaan kerbau belang ini terancam punah karena tingkat mortalitas embrio dan anak yang tinggi, tingkat kesuburannya juga rendah dan belum diketahuinya mekanisme penyebab munculnya pola belang dan pola pewarisannya.
 
Baca: 28 Kumbang Moncong Jenis Baru Ditemukan di Sulawesi
 
Setelah melakukan kesepakatan dengan tetua dan masyarakat adat, tim peneliti ini diizinkan untuk mengambil sperma kerbau belang yang telah dikorbankan dalam upacara dan diambil dari saluran epididymis. 
 
"Walaupun kerbau sudah mati, sperma masih dapat hidup dan bertahan di saluran epididymis selama beberapa saat," sebutnya.
 
Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh peneliti untuk mengambil materi genetiknya. Selanjutnya, dianalisa runutan basa gennya untuk mengetahui basis genetik apa sebenarnya yang menyebabkan kerbau ini memiliki pola warna yang sangat khas.
 
Ronny menjelaskan sperma ini selanjutnya dibekukan menggunakan nitrogen cair sebelum dianalisa lebih lanjut. Karena jumlah sperma kerbau belang ini relatif sedikit, maka tim peneliti juga mengembangkan dan menggunakan teknik Intra Cytoplasmic Sperm Injection. 
 
"Sehingga jumlah sperma yang sangat sedikit ini dapat digunakan dengan baik untuk melakukan inseminasi buatan," kata dia.
 
 

Menurutnya, dengan menggunakan teknologi ini hanya diperlukan satu sperma yang viable untuk membuahi sel telur sehingga dapat menghasilkan embrio. Selanjutnya dengan menggunakan teknik embrio transfer, embrio ini ditanamkan pada dinding uterus kerbau betina lain.  
 
Ronny menjelaskan bahwa penggunaan teknik ini memungkinkan kerbau belang dapat diperbanyak populasi dan juga dijaga kelestariannya.  Disamping itu, embrio kerbau belang beku ini dapat disimpan dalam waktu cukup lama sebelum digunakan untuk embrio transfer.
 
"Selanjutnya kami melakukan analisis DNA untuk mengetahui mekanisme genetik pemunculan pola belang ini. Analisis DNA yang dilakukan difokuskan pada  gen microphthalmia-associated transcription factor (MITF) yang secara umum mengatur kemunculan warna totol totol (spotted) pada kerbau rawa Asia (Bubalus bubalis carabanensis)," terangnya.
 
Ia menambahkan dalam mendeteksi terjadinya mutasi di gen ini semua ekson MITF, daerah intron, serta pengapitnya, diteliti dengan seksama. Dianalisa juga MITF cDNA mewakili jaringan kulit dan iris kerbau belang, kerbau biasa (normal) dan kerbau albino dirunut DNA-nya untuk mendeteksi mutasi dan membandingkannya.
 
Baca: LIPI Temukan Spesies Baru 'Katak-Pucat Pantaiselatan' di Hutan Garut
 
Menurut Ronny, hasil penelurusan DNA kerbau belang ini menunjukkan bahwa kemunculan pola belang ini disebabkan karena adanya mutasi DNA di gen MITF.  Ada dua mutasi independen yang dinamakan loss-of-function mutations yang terjadi yaitu premature stop codon (c.328C>T, p.Arg110*) dan donor splice-site mutation (c.840+2T>A, p.Glu281_Leu282Ins8). 
 
"Kedua mutasi DNA inilah yang menyebabkan kerbau Toraja memiliki pola warna belang," ungkap Ronny.
 
Keberhasilan tim peneliti mengidentifikasi dan menguak rahasia di balik munculnya pola belang pada kerbau Toraja ini tentunya sangat penting dalam upaya melestarikan keberadaan kerbau belang yang dianggap sakral dan sudah mengakar pada budaya masyarakat setempat.  Ke depan, embrio kerbau belang yang memiliki mutasi sangat spesifik ini dapat dikembangkan untuk memperbanyak populasi kerbau belang.
 
"Jika pada suatu saat nanti kerbau belang Toraja statusnya langka dan hampir punah," ujar Ronny.
 
Menurut Ronny, dengan diketahuinya penyebab dan mekanisme kemunculan warna belang pada kerbau Toraja ini maka keberadaan kerbau belang yang merupakan salah satu plasma nutfah khas Indonesia ini dapat dilestarikan dengan menggunakan pendekatan budaya dan teknologi modern.
 
(AGA)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif