Guru Besar Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor. Foto: Dok Humas IPB University.
Guru Besar Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor. Foto: Dok Humas IPB University.

Peneliti IPB Berhasil Ungkap Misteri Kerbau Belang Toraja

Arga sumantri • 20 Januari 2022 09:21

Menurutnya, dengan menggunakan teknologi ini hanya diperlukan satu sperma yang viable untuk membuahi sel telur sehingga dapat menghasilkan embrio. Selanjutnya dengan menggunakan teknik embrio transfer, embrio ini ditanamkan pada dinding uterus kerbau betina lain.  
 
Ronny menjelaskan bahwa penggunaan teknik ini memungkinkan kerbau belang dapat diperbanyak populasi dan juga dijaga kelestariannya.  Disamping itu, embrio kerbau belang beku ini dapat disimpan dalam waktu cukup lama sebelum digunakan untuk embrio transfer.
 
"Selanjutnya kami melakukan analisis DNA untuk mengetahui mekanisme genetik pemunculan pola belang ini. Analisis DNA yang dilakukan difokuskan pada  gen microphthalmia-associated transcription factor (MITF) yang secara umum mengatur kemunculan warna totol totol (spotted) pada kerbau rawa Asia (Bubalus bubalis carabanensis)," terangnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan dalam mendeteksi terjadinya mutasi di gen ini semua ekson MITF, daerah intron, serta pengapitnya, diteliti dengan seksama. Dianalisa juga MITF cDNA mewakili jaringan kulit dan iris kerbau belang, kerbau biasa (normal) dan kerbau albino dirunut DNA-nya untuk mendeteksi mutasi dan membandingkannya.
 
Baca: LIPI Temukan Spesies Baru 'Katak-Pucat Pantaiselatan' di Hutan Garut
 
Menurut Ronny, hasil penelurusan DNA kerbau belang ini menunjukkan bahwa kemunculan pola belang ini disebabkan karena adanya mutasi DNA di gen MITF.  Ada dua mutasi independen yang dinamakan loss-of-function mutations yang terjadi yaitu premature stop codon (c.328C>T, p.Arg110*) dan donor splice-site mutation (c.840+2T>A, p.Glu281_Leu282Ins8). 
 
"Kedua mutasi DNA inilah yang menyebabkan kerbau Toraja memiliki pola warna belang," ungkap Ronny.
 
Keberhasilan tim peneliti mengidentifikasi dan menguak rahasia di balik munculnya pola belang pada kerbau Toraja ini tentunya sangat penting dalam upaya melestarikan keberadaan kerbau belang yang dianggap sakral dan sudah mengakar pada budaya masyarakat setempat.  Ke depan, embrio kerbau belang yang memiliki mutasi sangat spesifik ini dapat dikembangkan untuk memperbanyak populasi kerbau belang.
 
"Jika pada suatu saat nanti kerbau belang Toraja statusnya langka dan hampir punah," ujar Ronny.
 
Menurut Ronny, dengan diketahuinya penyebab dan mekanisme kemunculan warna belang pada kerbau Toraja ini maka keberadaan kerbau belang yang merupakan salah satu plasma nutfah khas Indonesia ini dapat dilestarikan dengan menggunakan pendekatan budaya dan teknologi modern.
 
(AGA)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif