"Tidak hanya terkait teknologi atau sistem perkeretaapian, tetapi apakah betul mobil listrik misalnya, terpengaruh oleh medan magnet yang besar di kereta api, itu juga merupakan salah satu kajian dari BRIN karena pengaruh medan magnet yang besar ketika kereta api itu akan lewat," ucap Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian di kantor BRIN, Jakarta, Selasa 28 April 2026.
Ia menyebutkan pentingnya riset mengenai netralisasi medan magnet yang ada di sekitar lintasan rel kereta api. Agar tidak memengaruhi kendaraan yang lewat di sekitarnya.
"Sehingga perlu dikaji metode netralisasi agar tidak mengganggu kendaraan lain," imbuhnya.
Ia menjelaskan medan magnet yang besar itu dihasilkan oleh kereta api yang mau lewat. Karena sumber listrik di lokomotif sangat besar.
| Baca juga: Ada Puluhan Riset tentang Kereta Api, Kepala BRIN Sebut Implementasinya Masih Jadi PR |
"Karena itu magnetnya itu terhantar sampai ke kereta api di depannya, ini mungkin perlu kita kaji atau riset bagaimana untuk netralisasi medan magnet di sekitaran lintasan kereta api itu supaya tidak mengganggu lalu lintas mobil yang akan lewat," sambungnya.
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi menambahkan sejauh ini memang akan ada pengaruh terhadap kendaraan yang melintasi kereta api. Baik itu kendaraan biasa maupun kendaraan listrik.
Namun, kata dia perlu dikaji seberapa besar pengaruhnya. Apakah memang bisa sampai menahan kendaraan.
"Memang ada pengaruhnya sedikit untuk mobil listrik, juga mobil biasa, tapi seberapa besar pengaruhnya itu tergantung objeknya," tutur dia.
| Baca juga: BRIN Bikin Sistem Deteksi Otomatis Cegah Kecelakaan Kereta Api, Real Time dan Gak 'nge-Bug' |
Ia pun menerangkan perlu kajian keamanan lebih lanjut untuk kendaraan yang melintas di atas rel kereta api. Termasuk waktu yang paling aman melintasi rel kereta setelah atau sebelum kereta api lewat.
Ia pun menjelaskan, rel kereta api di Indonesia yang dapat dilintasi kendaraan juga ada di luar negeri. Salah satunya Jepang.
Namun, Jepang kata dia telah menerapkan sistem keamanan untuk kendaraan yang melintas di rel kereta. Salah satunya dengan sistem antre.
"Jadi kalau dikita kendaraannya menempel ya mengantri untuk menyebrang. Kalau di Jepang saat ini kendaraan lewat satu persatu, dipastikan aman baru kendaraan berikutnya menyebrang," tutup Ratno.
Perkembangan terbaru kecelakaan kereta di wilayah Bekasi menunjukkan jumlah korban jiwa yang terus bertambah.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) menyampaikan bahwa korban meninggal dunia dalam insiden tersebut menjadi tujuh orang. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan data tersebut per Selasa pagi pukul 06.30 WIB.
“Meninggal dunia itu 7 orang, luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang, dan yang ada masih terperangkap itu ada sekitar 3 orang yang terperangkap di dalam kereta,” kata Bobby dilansir Antara, Selasa, 28 April 2026.
Bobby juga mengatakan selain korban meninggal, puluhan penumpang mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan, sementara sebanyak 3 korban masih terperangkap di dalam kereta.
“Meninggal dunia itu 7 orang, luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang, dan yang ada masih terperangkap itu ada sekitar 3 orang yang terperangkap di dalam kereta,” jelas Bobby.
Bobby menambahkan seluruh rangkaian kereta Argo Bromo Anggrek yang terdiri atas 12 gerbong telah berhasil dievakuasi dan dipindahkan ke Stasiun Bekasi.
“Evakuasi dari kereta Bromo Anggrek itu telah kami lakukan, jadi semua rangkaian sebanyak 12 gerbong itu telah kami lakukan evakuasi ke Stasiun Bekasi,” katanya.
Saat ini, KAI bersama Basarnas tengah mempersiapkan proses evakuasi lokomotif dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, khususnya bagi korban yang masih terperangkap.
Ia juga menyampaikan jalur hilir telah dibuka kembali untuk operasional kereta, meski layanan Commuter Line masih dibatasi hingga Stasiun Bekasi.
“Untuk Commuter Line kami batasi sampai di Stasiun Bekasi,” tutur dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News