"Tragedi ini bisa muncul karena ada faktor teknis, perilaku manusia, hingga kondisi sosial di sekitarnya," kata Arif di kantor BRIN, Selasa 28 April 2026.
Menurut Arif, untuk mengantisipasi insiden perkeretaapian tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sederhana. Menyederhanakan masalah pada aspek teknologi justru berisiko mengabaikan akar persoalan yang lebih luas.
| Baca juga: Tak Cuma Guru Kelas, Nurlaela Korban Tewas KRL Bekasi Juga Pembina Pramuka Berdedikasi |
Ia menegaskan jika keselamatan transportasi membutuhkan analisis yang komprehensif. Ia menjelaskan bahwa sistem perkeretaapian tidak berdiri sendiri sebagai infrastruktur teknis, melainkan bagian dari sebuah ekosistem yang melibatkan manusia dan lingkungan sosial.
“Jadi itu tidak bisa dilihat sebagai persoalan teknologi. Jadi ini yang membuat kita harus melihat persoalannya lebih luas,” lanjutnya.
Dalam ekosistem perkeretaapian tersebut, perilaku pengguna jalan, kedisiplinan masyarakat, hingga faktor sosial lainnya turut berperan besar dalam menentukan tingkat keselamatan. Untuk itu antisipasi pun mesti dilakukan dengan baik.
“Kereta api itu kan satu hal yang ekosistem ya. Jadi persoalan-persoalan sosial, persoalan perilaku itu juga sangat menentukan,” jelasnya.
| Baca juga: Catat! Nomor Darurat dan Posko Kecelakaan Kereta Bekasi Timur, hingga Cara Ambil Barang Hilang |
Arif menambahkan bahwa pendekatan berbasis ekosistem ini penting untuk merumuskan kebijakan keselamatan yang lebih efektif. Tanpa memahami keterkaitan antar faktor, solusi yang dihasilkan berpotensi tidak menyentuh akar masalah.
Karena itu, BRIN mendorong penguatan riset yang tidak hanya berfokus pada teknologi. Tetapi juga mencakup aspek sosial dan perilaku.
Ia menilai bahwa integrasi berbagai disiplin ilmu menjadi kunci dalam meningkatkan keselamatan perkeretaapian di Indonesia. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan yang lebih holistik dan berkelanjutan.
"Dengan demikian, upaya pencegahan kecelakaan kereta api tidak hanya mengandalkan inovasi teknologi, tetapi juga perubahan perilaku dan penguatan sistem sosial masyarakat," ujarnya.
Perkembangan terbaru kecelakaan kereta di wilayah Bekasi menunjukkan jumlah korban jiwa yang terus bertambah.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) menyampaikan bahwa korban meninggal dunia dalam insiden tersebut menjadi tujuh orang. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan data tersebut per Selasa pagi pukul 06.30 WIB.
“Meninggal dunia itu 7 orang, luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang, dan yang ada masih terperangkap itu ada sekitar 3 orang yang terperangkap di dalam kereta,” kata Bobby dilansir Antara, Selasa, 28 April 2026.
Bobby juga mengatakan selain korban meninggal, puluhan penumpang mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan, sementara sebanyak 3 korban masih terperangkap di dalam kereta.
“Meninggal dunia itu 7 orang, luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang, dan yang ada masih terperangkap itu ada sekitar 3 orang yang terperangkap di dalam kereta,” jelas Bobby.
Bobby menambahkan seluruh rangkaian kereta Argo Bromo Anggrek yang terdiri atas 12 gerbong telah berhasil dievakuasi dan dipindahkan ke Stasiun Bekasi.
“Evakuasi dari kereta Bromo Anggrek itu telah kami lakukan, jadi semua rangkaian sebanyak 12 gerbong itu telah kami lakukan evakuasi ke Stasiun Bekasi,” katanya.
Saat ini, KAI bersama Basarnas tengah mempersiapkan proses evakuasi lokomotif dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, khususnya bagi korban yang masih terperangkap.
Ia juga menyampaikan jalur hilir telah dibuka kembali untuk operasional kereta, meski layanan Commuter Line masih dibatasi hingga Stasiun Bekasi.
“Untuk Commuter Line kami batasi sampai di Stasiun Bekasi,” tutur dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News