Kampus UGM. Foto: UGM/Humas
Kampus UGM. Foto: UGM/Humas

Mahasiswa UGM Telusuri Jejak Penanganan Wabah Lewat Kesusastraan Jawa

Pendidikan penelitian inovasi Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian UGM Mahasiswa
Citra Larasati • 10 September 2021 08:47
Jakarta:  Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penelitian terkait upaya penanganan wabah atau pageblug berbasis budaya dalam kesusastraan Jawa. Penelitian ini dilakukan sebagai bagian Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora yang menerima pendanaan penuh dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
 
Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang persoalan wabah covid-19 atau pagebluk yang tak kunjung usai menimbulkan berbagai pertanyaan, apakah wabah seperti ini belum pernah terjadi pada masa lalu?  Seakan-akan pagebluk covid-19 menimbulkan persoalan baru dan kepanikan yang menyebabkan kita terlihat sangat kewalahan dalam menghadapinya,"  jelas Muhammad Ibnu Prarista dikutip dari siaran pers, Jumat, 10 September 2021.
 
Oleh sebab itu, mahasiswa Fakultas Hukum ini menyampaikan, perlunya kajian untuk mengetahui jejak dan upaya penanganan pagebluk di masa lalu untuk bisa digunakan sebagai strategi menghadapi wabah di masa kini.
 
Selain Ibnu, Tim PKM-RSH ini beranggotakann Taruna Dharma Jati dari Fakultas Ilmu Budaya dan Zalsabila Purnama dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dari penelitian yang dilakukan keempat mahasiswa tersebut diketahui bahwa wabah atau pagebluk sudah pernah terjadi pada masa lalu yang termuat di kesusastraan Jawa.
 
Namun begitu, peristiwa pagebluk yang telah terjadi seakan-akan ditinggalkan dan dilupakan masyarakat sebagai akibat dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
 
Ibnu mengungkapkan, dalam kajian tanggap darurat wabah covid-19 saat ini adalah pengetahuan budaya tentang pagebluk dan upaya penanganannya pada masa lalu yang termuat di kesusastraan Jawa. Penelitian ini dilakukan di wilayah dalam lingkup Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Keraton Kasunanan Surakarta, dan Pura Mangkunegaran serta beberapa saksi hidup yang pernah mengalami wabah penyakit Pes di Gunungkidul, Yogyakarta.
 
Lebih lanjut Ibnu mengungkapkan, hasil penelitian menunjukkan upaya penanganan pageblug dikategorikan dalam dua hal, yaitu dalam tataran konseptual dan historis. Dalam tataran konseptual disampaikan bahwa orang Jawa memaknai terjadinya pagebluk sebagai sebuah fenomena kosmologi yang mendorong manusia untuk mengembalikan keselarasan antara manusia dengan sesama, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan.
 
Baca juga:  Penelitian Mahasiswa UGM, Daun Jambu Biji Potensial Atasi Fobia Kanker Mulut

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Konsep tersebut dijelaskan melalui sastra tulis berupa naskah Jawa dan melalui sastra lisan dalam beberapa ajaran yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat Jawa seperti Mangasah mingsing budi, memasuh malaning bumi, memayu hayuning bawana.  Wabah terjadi karena hukuman dari Bathara Kala kepada orang yang tidak pernah menghargai dan peduli kepada sesama dan lingkungan, dan Tri Hita Karana. 
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif