Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Pakar UNS Beberkan Cara Waspadai Varian Omicron

Pendidikan Virus Korona UNS Varian Baru Covid-19 Omicron Varian Omicron
Arga sumantri • 02 Desember 2021 17:04
Surakarta: Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan temuan varian baru covid-19, B.1.1.529 atau Omicron. Varian ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan (Afsel) dan kini telah menyebar di sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Australia, dan Amerika Serikat (AS).
 
WHO sampai melabeli Omicron sebagai Variant of Concern (VOC) Omicron karena berpotensi membuat jumlah kasus covid-19 melonjak, . Ini tandanya, varian Omicron mampu menyebabkan peningkatan penularan dan peningkatan kematian.
 
Pemerintah Indonesia langsung merespons munculnya varian Omicron dengan melarang Warga Negara Asing (WNA) yang memiliki riwayat perjalanan 14 hari terakhir dari Afsel, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini, Malawi, Angola, Zambia, dan Hongkong untuk masuk ke Tanah Air.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, Warga Negara Indonesia (WNI) yang kembali ke Indonesia dan memiliki riwayat perjalanan dari negara-negara tersebut, akan dikarantina selama 14 hari.
 
Dokter Spesialis Patologi Klinik Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, meski pemerintah belum mengonfirmasi kasus varian Omicron di Indonesia, bukan berarti masyarakat bisa tenang dan abai dengan protokol kesehatan (Prokes).
 
Masyarakat justru harus berhati-hati dan disiplin menerapkan Prokes supaya kasus merebaknya varian Delta pada Juli-Agustus lalu tidak terulang di libur Natal-Tahun Baru.
 
"Yang melaporkan itu berarti sudah berhasil mendeteksinya. Yang belum melaporkan bukan berarti pasti bebas virus varian. Mungkin karena belum berhasil mendeteksinya saja," ujar Tonang mengutip siaran pers UNS, Kamis, 2 Desember 2021.
 
Baca: Bukan Hanya Pernapasan, Pakar UGM Sebut Covid-19 Bisa Serang Pencernaan
 
Tonang menyebut informasi tentang tingkat keganasan varian Omicron masih terus berkembang. Ia meminta agar masyarakat tidak terlalu memikirkan tingkat keganasan varian Omicron. Yang terpenting adalah mewaspadai tingkat penyebarannya.
 
Tonang berharap Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RS lebih siap bila sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus covid-19 akibat varian Omicron. Ia tidak ingin pasien covid-19 terlantar seperti Juli-Agustus lalu.
 
"Memaknai ganas atau tidak, sebenarnya sangat tergantung kondisi setempat. Proporsi angka kematian (CFR) varian Delta misalnya, sebenarnya rendah. Walau kasus tinggi di beberapa negara, bahkan sangat tinggi, tapi persentase kematian rendah," jelasnya.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif