Sejumlah penelitian terbaru menemukan petunjuk menarik. Terapi hormon menopause, terutama jika diberikan pada waktu tertentu, dikaitkan dengan risiko Alzheimer dan demensia yang lebih rendah.
Namun, temuan tersebut belum berarti terapi hormon dapat mencegah Alzheimer. Para peneliti masih mencari tahu seberapa kuat hubungan tersebut dan apakah manfaatnya benar-benar berasal dari terapi hormon.
Melansir laman The Newyork Times, salah satu penelitian terbaru dilakukan Stanford Medicine dan dipublikasikan pada 12 Agustus 2026 di jurnal Neurology. Peneliti menganalisis data 21.462 perempuan berusia 50 tahun ke atas dari dua basis data penelitian Alzheimer, yakni National Alzheimer's Coordinating Center dan Alzheimer's Disease Neuroimaging Initiative.
| Baca juga: Studi Terbaru: Depresi Terbukti Ganggu Pembentukan Neuron Otak |
Data yang digunakan mencakup pemeriksaan klinis, pencitraan otak, biomarker semasa hidup, hingga hasil pemeriksaan autopsi setelah partisipan meninggal. Sebanyak 2.959 partisipan menjalani autopsi dengan usia rata-rata 82 tahun.
Peneliti kemudian membandingkan hasil autopsi 258 perempuan yang melaporkan pernah menggunakan terapi hormon menopause berbasis estrogen saja dengan sekitar 2.701 perempuan yang tidak pernah menggunakan terapi hormon. Hasilnya, penggunaan terapi hormon estrogen saja dikaitkan dengan kemungkinan 35 persen lebih rendah mengalami perubahan otak khas Alzheimer.
Secara keseluruhan, penggunaan terapi hormon juga dikaitkan dengan kemungkinan 39 persen lebih rendah mengalami diagnosis demensia dan 35 persen lebih rendah mengalami perubahan otak khas Alzheimer. Termasuk plak amiloid dan kekusutan protein tau.
Bahkan, sekitar 18 persen perempuan yang pernah menggunakan terapi hormon tidak menunjukkan tanda-tanda Alzheimer dalam pemeriksaan autopsi. Peneliti juga memperhitungkan sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi risiko Alzheimer, seperti usia, varian genetik APOE4, riwayat hipertensi, tingkat pendidikan, dan ras. Pola hasilnya tetap terlihat meski pengaruhnya tidak sebesar sejumlah faktor risiko utama Alzheimer.
Penelitian lain menunjukkan hubungan antara terapi hormon dan risiko demensia kemungkinan tidak sesederhana apakah seseorang menggunakan terapi hormon atau tidak. Waktu pemberian terapi juga diduga berperan.
Gagasan tersebut dikenal sebagai hipotesis "window of opportunity" atau jendela peluang. Teori tersebut menyebut terapi hormon mungkin memberikan efek berbeda tergantung kapan terapi dimulai setelah menopause.
Lebih lanjut, sebuah studi terhadap lebih dari 180.000 perempuan pascamenopause di Inggris menemukan pengguna terapi hormon pengganti memiliki risiko 10 persen lebih rendah mengalami semua jenis demensia selama masa pengamatan 13 tahun. Untuk Alzheimer, penurunan risikonya mencapai 16 persen.
Penelitian dari University of East Anglia dan University of Exeter juga menemukan perbedaan berdasarkan kondisi menopause dan riwayat paparan estrogen. Perempuan yang mengalami menopause akibat operasi memiliki penurunan risiko demensia hingga 26 persen setelah menggunakan terapi hormon dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya.
Sementara itu, perempuan yang memiliki paparan estrogen sepanjang hidup lebih rendah, misalnya karena menstruasi pertama yang lebih lambat atau menopause lebih dini, juga tampak memperoleh manfaat lebih besar. Pada kelompok tersebut, terapi hormon dikaitkan dengan penurunan risiko demensia sebesar 16 persen.
Meta-analisis lain yang mencakup puluhan penelitian juga menemukan pola serupa. Perempuan yang memulai terapi hormon dalam lima tahun sejak menopause memiliki risiko Alzheimer lebih rendah dalam sejumlah penelitian.
| Baca juga: Peneliti BRIN Ungkap Beda Tsunami Flores 1992 dan 2026 Meski Magnitudo Serupa |
Sebaliknya, memulai terapi hormon pada usia 65 tahun atau lebih dikaitkan dengan peningkatan risiko dalam sejumlah temuan. Hal tersebut membuat para peneliti menduga usia dan waktu pemberian terapi hormon menjadi faktor penting dalam kaitannya dengan kesehatan otak.
Meski sejumlah penelitian memberikan hasil yang menjanjikan, para ilmuwan belum sepakat bahwa terapi hormon dapat digunakan untuk mencegah Alzheimer atau demensia. Tinjauan sistematis yang diterbitkan di The Lancet Healthy Longevity, misalnya, tidak menemukan bukti yang cukup untuk mendukung penggunaan terapi hormon menopause sebagai cara mencegah demensia pada usia tertentu.
Di samping itu ada pula kemungkinan "healthy user bias" yang muncul dalam penelitian. Perempuan yang menggunakan terapi hormon bisa memiliki akses layanan kesehatan lebih baik, tingkat pendidikan berbeda, atau kondisi kesehatan jantung dan pembuluh darah yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya.
Profesor Psikiatri serta Obstetri dan Ginekologi University of Illinois Chicago, Pauline Maki, yang tidak terlibat dalam studi Stanford, menilai desain penelitian tersebut memiliki keterbatasan dalam menentukan hubungan sebab-akibat. Dengan kata lain, belum dapat dipastikan apakah terapi hormon secara langsung menyebabkan risiko Alzheimer lebih rendah atau ada faktor lain yang ikut berperan.
Peneliti Stanford sekaligus salah satu penulis studi, Hadi Hosseini, juga menekankan bahwa hasil penelitian tidak membuktikan estrogen dapat mencegah Alzheimer. Menurutnya, temuan tersebut justru memberikan alasan untuk meneliti lebih jauh bagaimana hormon dapat berhubungan dengan penyakit neurodegeneratif.
Hubungan antara menopause dan Alzheimer menjadi penting karena hampir dua pertiga penderita Alzheimer di dunia adalah perempuan. Usia menjadi salah satu faktor risiko utama. Namun, para ilmuwan juga mempertimbangkan kemungkinan adanya faktor biologis yang berkaitan dengan menopause.
Pemimpin studi University of East Anglia, Anne-Marie Minihane, mengatakan tingginya angka Alzheimer pada perempuan kemungkinan tidak hanya berkaitan dengan harapan hidup perempuan yang lebih panjang. Menurutnya, menopause dapat memengaruhi metabolisme otak.
Selain itu, faktor risiko genetik utama Alzheimer, APOE4, juga diduga memberikan dampak yang lebih besar pada perempuan. Karena itu, peneliti kini mendorong studi yang dapat mengikuti perempuan sejak masa perimenopause hingga setelah menopause.
Melalui penelitian semacam itu, perubahan biomarker Alzheimer dapat dipantau secara langsung melalui pemeriksaan darah, cairan tulang belakang, maupun pencitraan otak. Dengan demikian, penelitian terbaru belum memberikan jawaban bahwa terapi hormon dapat mencegah Alzheimer.
Meski begitu, temuan tersebut memberikan petunjuk bahwa hubungan antara menopause, hormon, dan kesehatan otak mungkin lebih kompleks dari yang selama ini dipahami. Waktu memulai terapi, jenis hormon yang digunakan, serta kondisi kesehatan masing-masing perempuan kemungkinan menjadi faktor penting yang perlu diteliti lebih lanjut.
| Baca juga: Kepala BRIN: Green Skill Kunci Hadapi Perubahan Iklim di Era 5.0 |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda