Kepala BRIN Arif Satria. Foto: Youtube BRIN
Kepala BRIN Arif Satria. Foto: Youtube BRIN

Kepala BRIN: Green Skill Kunci Hadapi Perubahan Iklim di Era 5.0

Ilham Pratama Putra • 25 Agustus 2026 14:33
Ringkasnya gini..
  • Kepala BRIN Arif Satria tegaskan dua kata kunci penting era 5.0 adalah humanity (kemanusiaan) dan sustainability (keberlanjutan).
  • Green skill kini sangat dibutuhkan di sektor publik maupun privat, salah satunya untuk bidang wildlife conservation.
  • Konservasi keanekaragaman hayati dan penerapan green skill kini membutuhkan teknologi tinggi seperti metode reproduksi ART.
Jakarta: Perkembangan teknologi menuju Revolusi 5.0 tidak hanya berbicara tentang kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyebut ada dua isu yang semakin penting di era 5.0, yakni humanity dan sustainability.
 
Menurut Arif, perubahan tersebut membuat kebutuhan terhadap keterampilan baru ikut berkembang. Salah satunya green skill atau keterampilan hijau yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan.
 
"Namun, ketika bicara 5.0, dua kata kunci adalah tentang humanity dan sustainability. Sekarang semua orang sudah mulai melihat kembali makna sustainability ketika ancaman perubahan iklim sudah menjadi keniscayaan," ujar Arif dalam YouTube BRIN dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.

Ia mengatakan green skill kini semakin dihargai di berbagai lembaga internasional. Keterampilan tersebut juga tidak hanya dibutuhkan dalam dunia akademik, tetapi mulai menjadi kebutuhan di sektor privat.
 
"Sekarang semua orang sudah mulai berlomba-lomba memikirkan bagaimana upaya untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati," kata dia.
 
Baca juga: Riset Bukan Cuma Kertas, DPR Dukung Penuh Inovasi Nyata BRIN  

Salah satu contoh green skill yang dinilai semakin penting ialah kemampuan di bidang wildlife conservation atau konservasi satwa liar. Menurut Arif, kebutuhan tersebut muncul karena tantangan menjaga keanekaragaman hayati semakin kompleks. 
 
Populasi satwa terancam, perubahan iklim, hingga kerusakan habitat membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami sains. Tetapi juga mampu menerapkannya dalam upaya keberlanjutan.
 
Konservasi bahkan mulai bersinggungan dengan teknologi tinggi. Arif mencontohkan pengembangan Assisted Reproductive Technology (ART) untuk membantu perkembangbiakan satwa dengan populasi sangat terbatas.
 
"Konservasi keanekaragaman hayati hari ini membutuhkan teknologi yang tinggi. Bahkan sekarang sudah mulai berkembang berbagai riset-riset unggulan terkait dengan hal ini," jelas dia.
 
Karena itu, Arif menilai pengembangan green skill perlu menjadi perhatian dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia. Keterampilan tersebut dibutuhkan untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka ruang inovasi baru.
 
"Green skill ini merupakan skill yang diperlukan untuk masa hari ini dan masa depan," tegas Arif.
 
Baca juga: Peneliti BRIN Ubah Sampah Botol Plastik Jadi Alat Penyaring Air  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan