Kepala BRIN, Arif Satria. Foto: BRIN
Kepala BRIN, Arif Satria. Foto: BRIN

Riset Bukan Cuma Kertas, DPR Dukung Penuh Inovasi Nyata BRIN

Citra Larasati • 13 Juni 2026 13:11
Ringkasnya gini..
  • DPR mengapresiasi inovasi BRIN yang fokus pada solusi nyata, bukan sekadar tumpukan kertas publikasi.
  • BRIN siapkan inovasi canggih dari peredam gempa, padi biosalin, hingga riset khusus penyakit diabetes.
  • Komisi X DPR dukung penambahan anggaran BRIN karena riset adalah investasi fundamental masa depan bangsa.
Jakarta: Langkah strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memprioritaskan riset untuk kebutuhan nyata industri dan masyarakat mendapat acungan jempol dari DPR RI. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X di Jakarta, deretan inovasi yang dipaparkan sukses membuat para legislator terkesan.
 
Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, menegaskan bahwa ekosistem riset di Indonesia tidak boleh lagi hanya berujung menjadi tumpukan kertas publikasi. Inovasi yang dilahirkan wajib bertransformasi menjadi solusi konkret dan kebijakan berbasis bukti empiris (evidence-based policy).
 
"BRIN hadir untuk menyelesaikan persoalan riil di masyarakat, mulai dari mitigasi bencana, ketahanan pangan, hingga transisi energi berkelanjutan. Inovasi kita harus berdampak langsung," ujar Arif Satria di Jakarta, dikutip Sabtu, 13 Juni 2026.

Deretan Inovasi Keren BRIN

Dalam forum yang berjalan interaktif tersebut, Arif membeberkan sejumlah lompatan teknologi yang tengah digarap. Di sektor mitigasi bencana, BRIN mengenalkan Teknologi Peredam Gempa untuk memperkuat infrastruktur di wilayah rawan.

Sementara itu, untuk menjawab isu ketahanan pangan, periset sukses meracik Padi Biosalin, varietas unggul yang tahan terhadap kadar garam tinggi (salinitas). Anggota dewan merespons positif capaian ini dan mendorong agar varietas pangan terus disempurnakan agar makin produktif.
 
Tidak berhenti di situ, BRIN juga terus menggenjot implementasi pengolah sampah menjadi energi listrik (PSEL) untuk kawasan urban. Lebih menarik lagi, BRIN merilis platform bernama Rumah Inovasi Indonesia. Platform ini dirancang sebagai 'mak comblang' yang mempertemukan hasil riset dengan ekosistem industri, investor, dan filantropi agar hilirisasi teknologi bisa berjalan lebih cepat.

Catatan Kritis dari Senayan

Meski memberi apresiasi tinggi, Komisi X tetap memberikan catatan penting. Parlemen mengingatkan agar penerapan inovasi ini wajib menggunakan pendekatan sosiologis agar masyarakat mudah menerimanya dan tidak memicu resistensi budaya.
 
Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Hetifah, secara khusus mewanti-wanti soal keberlanjutan program. Ia menegaskan inovasi BRIN harus terus berlanjut dan pantang mandek di tengah jalan hanya karena pergantian kepemimpinan.
 
Di sisi lain, anggota dewan juga mendesak agar BRIN lebih memfokuskan riset pada isu kesehatan yang mendesak. Salah satu yang disorot adalah pengobatan penyakit diabetes, mengingat tingginya angka penderita di Indonesia.
 
Baca juga: Namanya Dicatut Riset Bodong, Peneliti BRIN Dimas Fajar Prasetyo Buka Suara

Dukungan Penuh Anggaran Riset

Untuk merealisasikan semua target brilian tersebut, infrastruktur yang mumpuni jelas menjadi harga mati. Arif Satria menyoroti perlunya modernisasi laboratorium secara masif agar peneliti lokal bisa bersaing di kancah global.
 
Arif pun secara resmi mengajukan usulan penguatan anggaran kepada parlemen. Dana ini difokuskan penuh untuk revitalisasi fasilitas vital nasional, termasuk infrastruktur nuklir untuk kebutuhan energi, industri, dan medis.
 
Gayung bersambut, Hetifah menegaskan bahwa Komisi X DPR RI siap mendukung penguatan anggaran BRIN. Ia menilai alokasi dana riset harus dilihat sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan nasional, bukan sekadar beban pengeluaran (cost). Sebagai bentuk pengawasan dan dukungan nyata, Komisi X berencana segera turun ke lapangan untuk melihat langsung implementasi inovasi BRIN.
 
Baca juga:  Peneliti BRIN Ubah Sampah Botol Plastik Jadi Alat Penyaring Air

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA