Inovasi peneliti BRIN untuk penyaringan air. DOK BRIN
Inovasi peneliti BRIN untuk penyaringan air. DOK BRIN

Peneliti BRIN Ubah Sampah Botol Plastik Jadi Alat Penyaring Air

Renatha Swasty • 12 Juni 2026 11:26
Ringkasnya gini..
  • Peneliti BRIN membuat membran berbahan dasar limbah botol plastik PET untuk pengolahan air limbah dan pemurnian air sungai.
  • Limbah botol plastik PET dipilih karena merupakan jenis plastik sekali pakai yang jumlahnya sangat besar dan banyak ditemukan di lingkungan.
  • Ke depan, ia dan tim terus meningkatkan performa membran, terutama pada aspek fluks aliran dan selektivitas penyaringan.
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi membran berbahan dasar limbah botol plastik PET (polyethylene terephthalate) untuk pengolahan air limbah dan pemurnian air sungai. Inovasi ini menjadi solusi ganda mengurangi pencemaran sampah plastik sekaligus menghasilkan teknologi filtrasi air yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan.
 
Peneliti Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Badrut Tamam Ibnu Ali, mengatakan selama ini membran komersial berbahan keramik maupun polimer memiliki performa yang baik, tetapi harganya relatif mahal. 
 
“Karena itu, kami mencoba menggabungkan dua persoalan menjadi satu solusi, yaitu memanfaatkan limbah botol plastik menjadi material membran berbasis ekonomi sirkular dan ramah lingkungan,” kata Badrut dikutip dari laman brin.go.id, Jumat, 12 Juni 2026. 

Ia mengungkapkan limbah botol plastik PET dipilih karena merupakan jenis plastik sekali pakai yang jumlahnya sangat besar dan banyak ditemukan di lingkungan. Plastik tersebut diolah menjadi membran filtrasi yang dapat dimanfaatkan untuk menjernihkan air sungai maupun limbah industri melalui pendekatan rekayasa material.
 
Pihaknya menjalin kolaborasi dengan PDAM untuk mengembangkan penerapan membran dalam pengolahan air baku sungai. Dengan teknologi ini, proses pengolahan air dapat dibuat lebih sederhana karena mampu mengurangi tahapan konvensional seperti sedimentasi dan koagulasi.
 
“Melalui teknologi membran, air sungai dapat langsung difiltrasi sehingga proses pengolahan menjadi lebih efisien,” ungkap dia.
 
Dalam proses pembuatannya, botol plastik PET dihancurkan menjadi potongan kecil, kemudian dilarutkan menggunakan pelarut organik hingga membentuk larutan polimer. Larutan tersebut selanjutnya dicetak menggunakan metode phase inversion hingga terbentuk lembaran membran berlapis dengan ketebalan sekitar 0,19 mm.
 
“Membran yang dihasilkan memiliki struktur berlapis dan dapat digunakan untuk menyaring air sungai maupun limbah cair tertentu. Ketebalan membran bisa diatur sesuai kebutuhan aplikasi,” jelas dia.
  Teknologi membran ini telah diuji untuk pengolahan air sungai dengan karakteristik awal yang belum memenuhi standar baku mutu air layak pakai berdasarkan Permenkes Nomor 32 Tahun 2017. Sebelum filtrasi, air sungai memiliki tingkat kekeruhan sebesar 440 NTU, TDS 506 ppm, TSS 793 ppm, COD 17,05 ppm, dan BOD 6,94 ppm.
 
Setelah melalui proses filtrasi menggunakan membran berbahan limbah plastik PET, kualitas air mengalami peningkatan signifikan. Tingkat kekeruhan turun menjadi 1,42 NTU, TDS menjadi 374 ppm, TSS menjadi 37 ppm, COD menjadi 2,45 ppm, dan BOD menjadi 1,24 ppm.
 
Hasil tersebut telah memenuhi standar baku mutu air layak pakai, yakni kekeruhan maksimal 25 NTU, TDS 1000 ppm, TSS 1000 ppm, COD 10 ppm, dan BOD 2 ppm. Selain itu, teknologi ini juga telah diaplikasikan terhadap air limbah dari industri elektroplating yang mengandung ion chromium (VI) dan menghasilkan fluks 200 Lm-2h-1 bar−1 serta rejeksi 70 persen.
 
Riset ini juga diarahkan untuk aplikasi pengolahan limbah industri, termasuk industri elektroplating, industri batik, dan industri lain yang menghasilkan limbah cair berbahaya bagi lingkungan.
 
Badrut menyebut keunggulan utama inovasi ini terletak pada biaya produksinya yang sangat rendah dibandingkan dengan membran komersial. Satu botol plastik PET dapat dimanfaatkan menjadi beberapa lembar membran filtrasi.
 
“Kalau membran keramik harganya bisa mencapai jutaan rupiah per meter persegi, sementara bahan baku membran kami berasal dari limbah botol plastik yang praktis tidak memiliki nilai ekonomi. Ini menjadi solusi sangat murah sekaligus ramah lingkungan,” kata dia.
 
Ke depan, ia dan tim terus meningkatkan performa membran, terutama pada aspek fluks aliran dan selektivitas penyaringan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah penambahan nanopartikel untuk meningkatkan kemampuan membran dalam menyaring partikel tertentu secara lebih optimal.
 
Badrut berharap inovasi ini dapat mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam pengurangan limbah plastik, penyediaan air bersih, serta pengembangan teknologi berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular.
 
“Kami terus berkomitmen melakukan riset yang berdampak dan ramah lingkungan. Tidak hanya untuk mengatasi masalah limbah, tetapi juga menghasilkan teknologi yang murah dan kinerja yang baik bagi masyarakat,” ujar dia. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA