Menyikapi beredarnya riset fiktif tersebut, Dimas memastikan bahwa ia sama sekali tidak mengenal maupun memiliki ikatan dengan karya ilmiah yang beredar.
"Terkait dengan pemberitaan yang beredar akhir-akhir ini menyangkut kemunculan beberapa publikasi yang mencantumkan nama serta afiliasi yang menyerupai iden tas saya, dengan ini saya mengklarifikasi dan menegaskan bahwa itu bukan saya dan dak berkaitan dengan diri saya dalam bentuk apa pun," tegas Dimas dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu, 30 Mei 2026.
Lebih lanjut, ia menepis segala bentuk asumsi yang mengaitkan dirinya dengan penulis maupun proses penyusunan jurnal bodong tersebut. "Saya tidak ada sangkut pautnya dengan hal tersebut. Saya tidak pernah sama sekali membuat penelitian tersebut, terlibat dalam penelitian tersebut, mengikuti kegiatan tersebut, maupun mengetahui dan bekerja sama dengan penulis dalam penelitian tersebut," ungkapnya.
Beda Jauh dengan Bidang Kepakaran
Kejanggalan utama dari pencatutan nama ini terlihat jelas dari topik penelitian yang sangat menyimpang. Di BRIN, Dimas adalah peneliti yang fokus dan memiliki kepakaran spesifik di bidang Offshore and Marine Systems Engineering.Selama meniti karier dan rekam jejak akademiknya, Dimas selalu menjaga integritas dan etika riset. Karena itu, pencantuman namanya pada penelitian di luar keilmuannya dinilai sangat tidak masuk akal.
"Sejak awal perjalanan akademik dan penelitian, saya selalu menjunjung nggi research ethics serta komitmen untuk terus memperdalam kepakaran sesuai bidang keilmuan yang saya tekuni," jelas Dimas. "Oleh karena itu, sebagaimana diberitakan bahwa nama saya tercantum dalam beberapa penelitian yang sangat berbeda di luar bidang kepakaran saya, hal tersebut jelas dak sejalan dengan aktivitas akademik maupun profesional yang selama ini saya jalankan," tegasnya.
Terindikasi Pemalsuan dan Penipuan Identitas
Melihat fenomena academic fraud ini, Dimas menduga kuat adanya praktik pemalsuan nama secara sengaja yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab. Menurutnya, hal ini bukan sekadar kelalaian, melainkan pelanggaran yang merugikan nama baik pribadi sekaligus institusi BRIN."Apabila nama dan afiliasi yang menyerupai dengan saya digunakan dalam penelitian yang tidak saya ketahui sama sekali, maka hal tersebut patut diduga sebagai bentuk penggunaan identitas serta afiliasi tanpa persetujuan saya," papar Dimas.
"Saya memandang pencantuman nama saya tanpa izin sebagai tindakan tidak bertanggung jawab dan merupakan indikasi pemalsuan nama pada karya keilmuan yang dapat merugikan nama baik saya maupun institusi ditempat saya bernaung dan mengabdi," tambahnya.
| Baca juga: Belajar dari Skandal Pemalsuan Riset di ISPPD 2026: Ini Istilah-Istilah dalam Konferensi Ilmiah |
Tutup Akun Media Sosial
Untuk menghindari penyalahgunaan identitas yang lebih jauh dan melindungi data pribadinya, Dimas mengambil langkah cepat dengan menonaktifkan sejumlah akun media sosial miliknya untuk sementara waktu."Terkait dengan beberapa media sosial yang saat ini saya nonaktian, hal itu saya lakukan untuk meminimalisir kemungkinan penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang dak bertanggung jawab," tuturnya.
Di akhir klarifikasinya, Dimas berharap agar publik dan komunitas akademik tidak salah paham mengenai isu ini. "Demikian klarifikasi ini saya sampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat luas. Semoga hal ini dapat menjadi pembelajaran dan pengingat bersama akan pentingnya sikap bijak dan tanggung jawab dalam kegiatan akademik dan publikasi ilmiah," tutupnya.
Baca Juga :
Bawa Nama Kampus, ITB Kecam Alumni yang Diduga Palsukan Riset di Konferensi Internasional
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News