Kanker payudara. DOK Pexel
Kanker payudara. DOK Pexel

Temuan Riset NUS: Obat RX-5902 Penumpas Sel Kanker Payudara Agresif

Renatha Swasty • 25 Agustus 2026 14:03
Ringkasnya gini..
  • Peneliti NUS menemukan gen DP103 sebagai penentu utama kekambuhan dan penyebaran kanker payudara triple-negatif.
  • Pengujian obat RX-5902 terbukti mampu memperkecil ukuran tumor hingga 90% pada model laboratorium tanpa merusak sel sehat.
  • Gen DP103 berpotensi menjadi biomarker untuk menyeleksi pasien yang paling cocok menerima terapi RX-5902 secara personal.
Jakarta: Para peneliti dari Sekolah Kedokteran Yong Loo Lin, National University of Singapore menemukan sebuah obat yang mampu menghentikan “saklar utama” yang memicu pertumbuhan tumor pada kanker payudara triple-negatif. Hasil penelitian ini berpotensi membawa perawatan lebih efektif dan disesuaikan dengan kebutuhan kanker yang sangat agresif tersebut. 
 
Melansir The Straits Times, kanker payudara triple-negatif adalah subtipe agresif yang secara tidak proporsional menyerang wanita di bawah usia 40 tahun. Ini karena itu biasanya kekurangan tiga reseptor yaitu tempat estrogen, progesteron, dan protein HER2 menempel.
 
Karena obat kanker biasanya menargetkan pada reseptor ini, tidak adanya reseptor tersebut membuat kanker menjadi sangat sulit untuk disembuhkan.

Kanker payudara triple-negatif meliputi sekitar 15-20 persen dari semua jenis kanker payudara dan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kekambuhan lebih dini, penyebaran kanker ke bagian tubuh lain (metastis), serta angka harapan hidup yang lebih rendah.
 
Tim dari NUS Medicine menemukan kanker ini kurang memiliki terapi target yang tepat dan efektif, serta sebagian kecil sel kanker menolak pengobatan. Sehingga, menyebabkan tumor tumbuh kembali, yang berujung pada metastasis dan kekambuhan yang terjadi dengan cepat.
 
Dalam menyelidiki mekanisme yang memungkinkan sel-sel kanker ini menyebar dan menghindari terapi, mereka fokuskan dengan meneliti regulator jalur yang disebut pensinyalan Wnt, yang bertugas mengontrol proses seperti pertumbuhan dan perpindahan sel.
 
Tim tersebut menemukan regulator utama, yaitu gen yang mengatur proses biologis utama, yang bernama DP103. DP103 menciptakan siklus di mana sel kanker terus berkembang dan menyebar, sekaligus melawan pengobatan dan mempertahankan sel induk kanker yang menyebabkan penyakit kambuh kembali.
 
Para peneliti meneliti apakah obat yang ditujukan, yaitu Supinoxin atau RX-5902 dapat membunuh saklar utama tersebut, menghambat pengaruhnya dalam memicu pertumbuhan kanker payudara triple-negatif.
 
Tim menganalisis 21 sampel, yang terdiri dari jaringan tumor pasien, sel kanker payudara yang dikembangkan di laboratorium, serta organoid dari pasien kanker lokal. Hasilnya menunjukkan obat tersebut mampu mengurangi viabilitas sel induk kanker 40 hingga 60 persen dan pertumbuhan tumor pada model yang dibuat di laboratorium menurun sekitar 50 persen.
 
Dalam model di laboratorium, pengobatan tersebut berhasil memperkecil ukuran tumor hampir 90 persen dan sebagian besar tidak merusak sel-sel yang sehat. Temuan mereka dipublikasikan di jurnal Cell Death And Disease.
  DP103 sebelumnya telah diakui sebagai  biomarker untuk kanker payudara triple-negatif oleh tim yang dipimpin oleh Alan Prem Kumar, seorang asisten profesor di NUS Centre for Cancer Research (N2CR), yang juga menjadi peneliti utama dalam studi baru ini.
 
Meskipun RX-5902 sudah dipelajari dalam pengobatan kanker payudara, Kumar menjelaskan penelitian terbaru ini memberikan petunjuk mengenai cara mengidentifikasi pasien yang berpotensi memperoleh manfaat dari obat tersebut.
 
Hasil penelitian menunjukkan DP103 berpotensi digunakan sebagai biomarker diagnostik untuk menentukan pasien yang kemungkinan besar merespons pengobatan RX-5902. Temuan ini juga dapat mendukung penerapan terapi kanker payudara triple-negatif yang lebih tepat sasaran dan personal.
 
“Alih-alih memperlakukan semua pasien secara sama, uji klinis di masa mendatang dapat berfokus pada pasien yang tumornya memiliki kadar DP103 yang tinggi, di mana terapi tersebut diharapkan memberikan dampak terbesar,” kata Kumar, yang juga asisten profesor di departemen farmakologi NUS Medicine.
 
Penulis utama penelitian ini, Cai Wanpei, menjelaskan RX-5902 mampu menghambat beta-catenin sebuah protein mutasinys bisa menyebabkan berbagai jenis kanker, masuk ke inti sel manusia, sehingga menonaktifkan aktivitas gen yang memicu pertumbuhan dan penyebaran kanker.
 
Salah satu penulis pendamping penelitian, Celestial T. Yap, mengatakan kanker payudara triple-negatif masih menjadi salah satu jenis kanker yang sulit ditangani. Hal ini karena terapi konvensional, seperti operasi, kemoterapi, dan imunoterapi, belum tentu memberikan hasil yang efektif pada setiap pasien.
 
Menurutnya, DP103 berpotensi menjadi salah satu “kerentanan biologis” untuk penyakit tersebut.
 
“Penemuan ini menawarkan wawasan baru yang dapat mendukung pemilihan pasien yang lebih tepat dan membuka pintu bagi strategi yang lebih terarah untuk pengendalian penyakit yang berkelanjutan dan peningkatan hasil klinis,” kata profesor madya dari N2CR dan departemen fisiologi NUS Medicine.
 
Para peneliti mengatakan temuan ini bisa membuka peluang baru dalam mengobati kanker-kanker agresif lainnya, karena sinyal Wnt yang abnormal juga bisa menyebabkan beberapa jenis kanker lainnya.
 
Pada tahap berikutnya, tim peneliti akan menguji DP103 sebagai biomarker prediktif pada kelompok pasien yang lebih besar. Mereka juga berencana mengembangkan terapi yang secara khusus menargetkan regulator tersebut untuk kemudian diuji dalam uji klinis.
 
Selain itu, para peneliti akan mengeksplorasi kemungkinan mengombinasikan RX-5902 dengan terapi yang telah tersedia guna meningkatkan efektivitas pengobatan. (Levina Fidelia)
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan