Guru Besar FMIPA UI Agustino Zulys. Foto: Instagram @prof.zulys
Guru Besar FMIPA UI Agustino Zulys. Foto: Instagram @prof.zulys

Mitos atau Fakta Sound Horeg Bikin Otak Lemot? Ini Kata Pakar UI

Ilham Pratama Putra • 19 September 2026 11:13
Ringkasnya gini..
  • Sound horeg dapat mencapai 120-140 desibel dan berisiko merusak sel rambut koklea.
  • Gangguan pendengaran kronis berpotensi berkaitan dengan penurunan fungsi otak.
  • Belum ada penelitian primer di Indonesia yang membuktikan sound horeg langsung menurunkan fungsi otak.
Jakarta: Sound horeg belakangan menjadi fenomena di tengah masyarakat Indonesia. Suara bass yang sangat keras bahkan disebut-sebut bukan hanya berisiko mengganggu pendengaran, tetapi juga kerap dikaitkan dengan penurunan fungsi otak.

Namun, benarkah sound horeg bisa membuat fungsi otak menurun? Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Agustino Zulys, menjelaskan persoalan tersebut dari sisi sains.

Menurut Zulys, dampak sound horeg tidak bisa hanya dilihat dari jenis atau irama musiknya. Hal yang lebih penting adalah seberapa keras suara yang dihasilkan, berapa lama seseorang terpapar, dan seberapa sering paparan tersebut terjadi.

“Sound horeg memang fenomenal. Bass-nya bukan cuma terdengar dug, dug, dug, kadang sampai dada ikut bergetar,” kata Zulys melalui unggahan instagramnya, @prof.zulys dikutip Jumat 18 September 2026.
Ia menjelaskan sejumlah artikel ilmiah melaporkan tingkat suara sound horeg dapat berada pada kisaran 120-140 desibel (dB). Angka tersebut jauh di atas tingkat suara yang umumnya dianggap aman untuk paparan telinga manusia dalam waktu lama.

"Batas nyaman mendengar suara berada di bawah 85 dB. Sementara itu, rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut paparan suara sekitar 80 dB selama 40 jam per minggu sebagai tingkat yang masih nyaman untuk pendengaran," terang dia.

Menurut Zulis, salah satu bagian telinga yang perlu diperhatikan ketika terpapar suara keras adalah sel rambut pada koklea. Struktur tersebut berperan penting dalam proses pendengaran.

Paparan kebisingan berlebihan dapat merusak sel rambut koklea. Berbeda dengan rambut di kepala yang dapat tumbuh kembali atau dirawat, kerusakan pada sel rambut koklea tidak dapat begitu saja diperbaiki.

“Kalau rambut kepala rusak kita masih bisa ke salon, kalau sel rambut koklea rusak, sayangnya enggak ada salon koklea,” ujarnya.

Kerusakan akibat kebisingan juga dapat berlangsung secara perlahan. Karena itu, munculnya telinga berdenging setelah menghadiri acara dengan suara sangat keras sebaiknya tidak dianggap sepele.

Zulys mengatakan telinga berdenging justru dapat menjadi tanda peringatan dari tubuh. Telinga berdenging kata dia merupakan respons dari paparan suara yang terlalu keras.

Lantas, bagaimana dengan anggapan sound horeg dapat menyebabkan penurunan fungsi otak? Zulys menjelaskan bahwa literatur menunjukkan gangguan pendengaran kronis berpotensi berkaitan dengan penurunan fungsi otak. 

Salah satu penjelasannya adalah otak perlu bekerja lebih keras ketika seseorang mengalami gangguan pendengaran untuk memahami percakapan. “Bayangkan guru menerangkan pelajaran, tetapi setiap tiga kata cuma terdengar satu,” jelasnya.

Ilustrasi otak pexels
Ilustrasi otak/Pexels

Meski demikian, Zulys menekankan pentingnya membedakan antara hubungan gangguan pendengaran dengan fungsi otak dan klaim bahwa sound horeg secara langsung menyebabkan seseorang menjadi bodoh atau mengalami penurunan fungsi otak. Menurut dia, belum ada penelitian primer di Indonesia yang secara spesifik membuktikan sound horeg menyebabkan penurunan fungsi otak.

“Belum tentu sound horeg pasti bikin bodoh,” tegasnya. Dengan demikian, dampak terhadap fungsi otak tidak dapat disimpulkan secara langsung hanya karena seseorang terpapar sound horeg. Yang lebih jelas perlu diperhatikan adalah risiko paparan kebisingan terhadap kesehatan pendengaran.

Zulys menilai persoalan sound horeg tidak harus berujung pada pelarangan kreativitas masyarakat. Menurutnya, pendekatan berbasis sains dapat digunakan untuk menjaga hiburan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat.

Ia menyarankan adanya sound engineering dan regulasi berbasis sains. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain mengukur tingkat desibel, membatasi durasi paparan, serta mengatur jarak speaker dari masyarakat.

Selain itu, penyelenggara juga dapat menyediakan area atau waktu untuk istirahat pendengaran. Perlindungan khusus juga perlu diberikan kepada anak-anak dan kelompok yang lebih rentan terhadap paparan kebisingan.

“Jadi, teknologi audio boleh maju, tetapi keselamatan manusia jangan mundur,” kata dia.

Menurutnya, masyarakat tetap dapat menikmati hiburan dan kegembiraan. Getapi perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

“Sound-nya boleh horeg, akalnya jangan ikutan horeg,” pungkasnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan