Aplikasi ini diperkenalkan kepada seluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Provinsi DKI Jakarta Raya dalam sebuah workshop yang sudah terselenggara pada Maret lalu. Aplikasi akan dimanfaatkan untuk menganalisis pelayanan kepada pasien covid-19 di RS tersebut.
Anggota Tim FKM UI Atik Nurwahyuni mengatakan, RS memiliki data yang begitu banyak dan sangat berharga. Tapi, belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu salah satunya untuk menyusun clinical pathway yang berkualitas.
"Memang, cukup berat bagi RS untuk menganalisis data tersebut secara manual, makanya kami membuat tools untuk mempermudah analisis datanya," kata Atik melalui keterangan tertulis, Kamis, 6 Mei 2021.
Baca: Peneliti Lintas Kampus Kembangkan Ovula Propolis untuk Atasi Keputihan
Clinical pathway (CP) adalah sebuah proses yang melibatkan multidisiplin, berfokus pada perawatan pasien dengan diagnosis atau prosedur tertentu secara berkelanjutan. Selain itu, aplikasi ini tepat waktu dalam mendapatkan hasil terbaik yang telah ditentukan dengan sumber daya yang ada di RS.
Ia menjelaskan, salah satu permasalahan di RS saat ini adalah pelayanan yang bervariasi untuk penyakit yang sama. Itu sebabnya, keberadaan dan kepatuhan terhadap CP diyakini menjadi salah satu upaya strategis untuk mengurangi variasi pelayanan yang ada.
Dengan adanya CP, maka RS akan memiliki perencanaan dalam merawat pasien, sehingga diharapkan pelayanan menjadi lebih efektif, mutunya terjaga, dengan biaya yang terkendali. Akreditasi rumah sakit, baik di dalam maupun di luar negeri mensyaratkan adanya CP dan evaluasinya.
Penyusunan CP dan evaluasi yang ideal sebaiknya dilakukan berdasarkan bukti (evidence based). Namun, RS mengalami hambatan karena terkendala analisis data pelayanan. Hal tersebut mengakibatkan tujuan menjaga mutu dan pengendalian biaya belum tercapai secara optimal.
Padahal, lanjut dia, data yang dibutuhkan untuk menyusun informasi yang dibutuhkan telah tersedia di rumah sakit, seperti data rekam medis. Namun, dalam tahap analisis membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar bila dilakukan secara manual.
Aplikasi yang dikembangkan FKM UI ini merupakan bentuk kontribusi terhadap peningkatan mutu layanan dan kendali biaya di RS, sehingga RS dapat menggunakannya secara gratis. Pelaksanaan pengmas ini dilaksanakan sejak Juli 2020 hingga sekarang.
"Niat kami memang ini sebagai kontribusi FKM UI, sehingga RS dapat mengaksesnya secara gratis. Kami juga sudah memperoleh HAKI-nya," kata Atik.
Baca: Masker Kain dengan Filter Berbahan Dasar Tempurung Siwalan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti memberikan dukungan dan tanggapan positif terkait aplikasi ini. "Kendali mutu dan kendali biaya di RS amatlah penting saat ini, kami sangat mengapresiasi sekali sosialisasi dan perkenalan penggunaan tools clinical pathway ini," ujar Widyastuti.
Antusiasme pimpinan serta praktisi di rumah sakit juga sangat terlihat saat uji coba aplikasi tersebut. Kepala Bagian Keuangan RSUD Pasar Rebo misalnya, menyebut tools clinical pathway sangat berguna.
"Data yang ditampilan akan sangat jelas, sehingga dapat menjadi alat evaluasi yang tepat untuk penerapan clinical pathway di RS," kata Vera Marietha,
Sementara salah seorang tenaga medis RSUD Pasar Minggu Nurbani menyampaikan bahwa aplikasi ini akan sangat membantu dalam menyusun dan mengevaluasi CP.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News