Penyusunan CP dan evaluasi yang ideal sebaiknya dilakukan berdasarkan bukti (evidence based). Namun, RS mengalami hambatan karena terkendala analisis data pelayanan. Hal tersebut mengakibatkan tujuan menjaga mutu dan pengendalian biaya belum tercapai secara optimal.
Padahal, lanjut dia, data yang dibutuhkan untuk menyusun informasi yang dibutuhkan telah tersedia di rumah sakit, seperti data rekam medis. Namun, dalam tahap analisis membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar bila dilakukan secara manual.
Aplikasi yang dikembangkan FKM UI ini merupakan bentuk kontribusi terhadap peningkatan mutu layanan dan kendali biaya di RS, sehingga RS dapat menggunakannya secara gratis. Pelaksanaan pengmas ini dilaksanakan sejak Juli 2020 hingga sekarang.
"Niat kami memang ini sebagai kontribusi FKM UI, sehingga RS dapat mengaksesnya secara gratis. Kami juga sudah memperoleh HAKI-nya," kata Atik.
Baca: Masker Kain dengan Filter Berbahan Dasar Tempurung Siwalan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti memberikan dukungan dan tanggapan positif terkait aplikasi ini. "Kendali mutu dan kendali biaya di RS amatlah penting saat ini, kami sangat mengapresiasi sekali sosialisasi dan perkenalan penggunaan tools clinical pathway ini," ujar Widyastuti.
Antusiasme pimpinan serta praktisi di rumah sakit juga sangat terlihat saat uji coba aplikasi tersebut. Kepala Bagian Keuangan RSUD Pasar Rebo misalnya, menyebut tools clinical pathway sangat berguna.
"Data yang ditampilan akan sangat jelas, sehingga dapat menjadi alat evaluasi yang tepat untuk penerapan clinical pathway di RS," kata Vera Marietha,
Sementara salah seorang tenaga medis RSUD Pasar Minggu Nurbani menyampaikan bahwa aplikasi ini akan sangat membantu dalam menyusun dan mengevaluasi CP.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News