Eunike Rhiza Febriana Setyadi, mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS. Foto: ITS/Humas
Eunike Rhiza Febriana Setyadi, mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS. Foto: ITS/Humas

Masker Kain dengan Filter Berbahan Dasar Tempurung Siwalan

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian ITS
Citra Larasati • 04 Mei 2021 14:00
Jakarta:  ?Peningkatan limbah masker di masa pandemi tidak hanya berdampak bagi lingkungan, namun juga berpotensi menularkan virus ke masyarakat sekitar. Untuk itu, mahasiswa ITS Eunike Rhiza Febriana Setyadi melalui esainya menggagas masker kain yang lapisan tengahnya diberi filter khusus berbahan dasar limbah tempurung siwalan.
 
Masker merupakan salah satu barang yang wajib dikenakan di masa pandemi, terutama jika ingin beraktivitas di luar rumah dan bertemu banyak orang. Tak ayal, jumlah limbah masker medis sekali pakai turut mengalami kenaikan.
 
“Limbah masker medis sulit terurai dan membutuhkan sumber daya yang cukup besar dalam pengelolaannya,” ungkap Ike dilansir dari laman ITS, Selasa, 4 Mei 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melalui esai bertajuk Potensi Active Carbon Sheet Mask Ramah Lingkungan dari Limbah Tempurung Siwalan guna Mengurangi Penyebaran Covid-19 di Indonesia, Eunike menggagas ide masker kain yang lapisan tengahnya diberi filter khusus berupa lembaran karbon aktif. “Lapisan karbon aktif dapat memaksimalkan efektivitas penyaringan kotoran terutama virus,” terang mahasiswa Teknik Kimia angkatan 2018 ini.
 
Lebih lanjut, mahasiswa asal Tuban ini menjelaskan bahwa karbon aktif ini bisa diperoleh dari kandungan selulosa yang sangat tinggi pada tempurung siwalan yaitu sebesar 89,2 persen. Buah ini juga mudah ditemukan, khususnya di Kabupaten Tuban yang memproduksi sebanyak 5.477 ton siwalan per tahun. “Selain harganya terjangkau, pemanfaatan buah siwalan juga dapat membantu perekonomian warga,” ucapnya.
 
Baca juga:  Pakar IPB: Bungkil Kedelai Potensial Jadi Pakan Ternak
 
Sebelum memproses limbah tempurung siwalan menjadi karbon aktif, tempurung terlebih dahulu dicuci untuk menghilangkan kotoran yang menempel. Lalu dikeringkan di oven bersuhu 150 °C selama dua jam untuk menghilangkan kandungan air (proses dehidrasi).
 
Kemudian tempurung siwalan akan melewati tahap karbonisasi. Sebanyak 1 kilogram sabut siwalan ditempatkan dalam wadah tertutup dan dipanaskan dalam tanur pada suhu 300 °C selama sejam. “Tempurung siwalan ini akan berubah menjadi bentuk arang yang kemudian didinginkan, digiling dan diayak hingga arang berukuran 90 mesh,” imbuh gadis kelahiran 2000 ini.
 
 
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif