Gerbang masuk Desa Wisata Penglipuran Bali. Foto: Medcom/Citra Larasati
Gerbang masuk Desa Wisata Penglipuran Bali. Foto: Medcom/Citra Larasati

Bestari Saintek

Beri 'Nyawa' pada Tradisi, Ketika Bambu dan Kode Batang Bersanding di Penglipuran

Citra Larasati • 30 Oktober 2026 18:25
Ringkasnya gini..
  • Berangkat dari ulasan bintang 1 Google Maps, Desa Penglipuran bangkit lewat terobosan smart edutourism berteknologi AR.
  • Kolaborasi Undiksha dan Kemendiktisaintek sulap 400 titik artefak budaya jadi barcode bambu edukatif sarat filosofi.
  • Bestari Saintek bawa kearifan lokal Bali melesat ke pentas sains global, selamatkan tradisi dari sekadar spot foto
Jakarta: Matahari mulai merambat ke barat di ufuk Bangli. Langit yang berawan menyapu atap sirap bambu dan dinding tanah pol-polan yang kokoh berdiri sejak ratusan warsa silam di desa wisata terbersih di dunia, Penglipuran.

Di sudut koridor desa, seorang pelancong tampak terpaku di depan gawainya, menyimak penuturan digital mengenai kearifan leluhur Bali pegunungan yang menjaga keseimbangan Tri Hita Karana.

Penglipuran kini tak lagi sekadar panggung foto yang hening. Lewat jembatan sains, komitmen para akademisi, dan restu tetua adat, desa ini membuktikan bahwa teknologi mutakhir tidak pernah bertujuan untuk menyingkirkan tradisi kuno.

Sebaliknya, Augmented Reality hadir layaknya lentera damar di teras rumah, menerangi lorong-lorong masa lalu, agar jiwa luhur kebudayaan nusantara tetap bernapas abadi di dada generasi penerus bangsa.

Berawal dari ulasan Google

Ketenangan yang magis, aroma dupa yang membubung dari sanggah, serta rimbunnya hutan bambu di ujung utara desa telah mengukuhkan tempat ini sebagai salah satu desa terbersih dan destinasi wisata terbaik di dunia. Kesohoran Penglipuran mampu mengundang pelancong domestik maupun mancanegara untuk datang.

Namun, di balik decak kagum mata lensa kamera dan riuhnya kilatan swafoto, sebuah paradoks sunyi sempat menyergap. Dari balik layar gawai di ruang kerjanya, I Wayan Pardi, Dosen dan Peneliti bidang Pendidikan, Sejarah dan Budaya Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), mendapati kenyataan getir yang terselip di ulasan Google Maps.

Desa yang menjadi sorotan dunia itu ternyata tak selamanya menuai puja-puji bintang lima.  “Jadi ini sebenarnya berawal dari review di Google Maps yang ternyata tidak semua turis kasih Bintang 5 untuk Desa Wisata Panglipuran. Ada pengunjung yang kasih bintang 1 dan 2," kata Dosen sekaligus peneliti Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)I Wayan Pardi saat ditemui di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali.
 
Penglipurana 9
Para turis domestik dan asing di Desa Penglipuran. Foto: Medcom/Citra Larasati


Alasannya, di desa kebanggaan Pulau Dewata ini minim interaksi, pemandu wisata yang ada dinilai masih penuh keterbatasan, kurang memadai dalam jumlah maupun kemampuan menarasikan keindahan Penglipuran secara utuh. "Itu yang menjadi dasar kenapa kita mengembangkan Smart Sustainable Edutourisme ini," kata Pardi. Ulasan itu menjelma jadi keresahan dan alarm batin bagi para akademisi di Undiksha. Ribuan wisatawan diakuinya datang silih berganti sepanjang tahun, namun mereka kerap hanya pulang berbekal album galeri foto tanpa pernah benar-benar mengerti denyut spiritual dan makna arsitektural di baliknya.

Pun rombongan pelajar yang datang, hanya berseliweran, berswafoto, lalu melangkah pergi tanpa meresapi nilai kearifan lokal warisan leluhur.

 
Penglipuran 6
Kunjungan Direktur Minat Saintek Kemendiktisaintek, Yudi Darma di Desa Penglipuran. Foto: Medcom/Citra Larasati

Lahirnya Smart Sustainable Edutourism

Enggan membiarkan Penglipuran terjebak menjadi sekadar panggung etalase visual, tim peneliti lintasdisiplin Undiksha kemudian memilih bergerak cepat. Mereka menjahit riset panjang yang telah ada sebelumnya ke dalam sebuah inovasi nyata bertajuk “Transformasi Desa Penglipuran Berbasis Smart Sustainable Edutourism Berteknologi Augmented Reality sebagai Media Edukasi, Konservasi dan Strengthening Tourism Activities”.

Gagasan bernas ini diajukan ke kancah kompetisi nasional dan sukses merebut pendanaan bergengsi program Bestari Saintek (Berdikari Sains dan Teknologi) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Dari 122 proposal yang lolos dari seluruh penjuru Nusantara, Undiksha membuktikan kapasitasnya dengan menembukan 3 hingga 4 proposal sekaligus di Progam Bestari Saintek.

Konsep Smart Sustainable Edutourism ini merupakan inovasi berbasis Augmented Reality (AR) yang dikembangkan Undiksha. Dirancang untuk menghadirkan pengalaman wisata edukatif yang lebih interaktif sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya lokal.

Pengembangan tersebut merupakan bagian dari Program Bestari Saintek Kemendiktisaintak yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).  Wisatawan nantinya cukup memindai QR Code atau mengakses titik lokasi tertentu melalui smartphone untuk memperoleh informasi dalam bentuk model tiga dimensi (3D), animasi, narasi sejarah, audio, video, hingga penjelasan mengenai budaya dan kearifan lokal yang melekat pada setiap objek wisata.

Inovasi yang juga dapat diakses melalui www. penglipuran.digowave.com ini juga menghadirkan pengalaman edukatif, sistem yang dikembangkan juga dilengkapi berbagai fitur pendukung yang mencakup QR Marker pada objek budaya, dashboard monitoring kepadatan wisatawan, peta wisata interaktif, katalog digital UMKM berbasis narasi budaya, hingga media edukasi digital yang mendukung interpretasi destinasi.
 
Penglipuran 1
Informasi dalam Smart Sustainable Edutourism Desa Wisata Penglipuran. Foto: Medcom/Citra Larasati

Langkah ini memadukan riset dasar bertahun-tahun dengan sentuhan teknologi Augmented Reality (AR) terkini. Tujuannya untuk memberikan "nyawa" pada batu, kayu, dan bilah bambu yang selama ini tak banyak bercerita di hadapan para pelancong.

“Dan kemarin itu sebenarnya ketika kita melakukan uji pengguna itu, tidak hanya menyasar pengelola dan dinas pariwisata, tapi juga menyasar wisatawan domestik dan wisatawan macam negara. Nah itu responnya luar biasa sekali. Jadi kata mereka inilah yang kami butuhkan, jadi kami berkunjung ke desa-desa tradisional yang ada di Bali," kata Pardi.

Selama ini berdasarkan pengalaman para pelancong, mengunjungi desa-desa tradisional, situs-situs peninggalan sejarah, objek-objek budaya hanya mampu mengisi visual belaka. Tanpa cerita dan maknanya yang utuh.

"Kalau kita lihat dulu, yang berkunjung ke sana itu hanya main saja, tanpa mereka mempelajari sesuatu yang baru terkait dengan desa pengelipuran, foto-foto lalu pulang

Sementara para akademisi menginginkan lebih dari itu. "Misi kita itu adalah untuk melakukan konservasi budaya-budaya, sejarah yang ada di Bali. Bahkan ke depannya kalau misalnya diizinkan oleh yang maha kuasa, kita bisa akan replikasi ke tempat lain," terang Pardi.

Kerja Keras di Balik Layar

Bagi tim periset yang digawangi tujuh akademisi lintas bidang, mulai dari Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd. (Pendidikan IPS), Prof. Dr. I Made Pageh, M.Hum. (Kajian Budaya), Dr. Nyoman Dini Andiani, S.St.Par., M.Par. (Pariwisata), I Wayan Pardi, S.Pd., M.Pd (Pendidikan Sejarah), I Gusti Lanang Agung Raditya Putra, S.Pd., M.T (Sistem Informasi), Dr. Ni Putu Era Marsakawati, M.Pd (Bahasa Inggris) pakar komunikasi bisnis, staf administratif, hingga puluhan mahasiswa, proyek ini adalah pengabdian yang menguras daya dan cipta.

Target awal yang semula hanya 20 hingga 25 objek budaya yang didigitalisasi membengkak drastis. Menunjukkan respons positif para warga dan tetua adat yang tinggi terhadap digitalisasi tersebut.

“Objek artefak budaya itu kan banyak banget ya, yang harus kita digitalisasi. Jadi sebenarnya  targetnya, hanya 20-25 objek. Tapi ketika kita komunikasi lebih lanjut dengan mitra, dengan masyarakat, jadi ada semacam keinginan dari mereka agar semua objek-objek budaya itu di-digitalisasi," paparnya.

Di koridor utama desa terdapat puluhan pekarangan rumah milik 40 kepala keluarga yang menaungi sekitar 1.000 jiwa warga adat. Di tiap rumah, digitalisasi menyentuh angkul-angkul, balai sakanem, dapur tradisional, tungku api kuno, lentera damar, gentong air bersejarah, hingga sanggah kemulan yang menaungi hingga belasan pelinggih.

Menjelang fase evaluasi indikator pada rentang November hingga Desember 2026, proyek yang telah berjalan enam bulan dan memasuki masa uji coba ini pun terus disempurnakan. Tak hanya mengangkat artefak budaya, namun juga hasil produk UMKM warga juga turut didigitalisasi.

Mulai dari minuman rumahan khas Bali loloh cencem, pakaian adat Bali, topeng rangda, barong dan lainnya.  "Terakhir saya cek itu sudah ada 40-an yang kita digitalisasi untuk UMKM. Nah karena saking banyaknya, akhirnya kita harus bekerja lebih keras lagi dan membutuhkan beberapa tambahan tim dari mahasiswa gitu sih sebenarnya. Itu salah satu kendala yang menurut saya paling penting," kata Pardi.

Living Live Bersama Sains

Langkah progresif di Desa Penglipuran ditinjau langsung oleh Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minat Saintek) Ditjen Saintek Kemendiktisaintek, Prof. Yudi Darma, Ph.D. Menyusuri lorong desa sembari mengamati interaksi pelancong dengan standing barcode bambu, Yudi menegaskan bahwa sains dan teknologi tidak boleh terkurung di menara gading kampus, melainkan harus hadir menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat.

“Living live bersama sains. Teman-teman dari Undiksha membuat satu konsep menguatkan yang sudah ada. Kami tinggal mendukung, ini luar biasa, alam yang bagus digabungkan dengan teknologi dengan hanya scan barcode, kita bisa dapat informasi,. Ini juga dapat dikembangkan lagi, dinikmati tak hanya masyarakat indonesia tapi juga masyarakat global," terangnya.
 
Penglipuran 8
Kunjungan Direktur Minat Saintek Kemendiktisaintek, Yudi Darma di Desa Penglipuran. Foto: Medcom/Citra Larasati

Menurut Yudi, keberhasilan implementasi di Penglipuran merupakan bukti konkret bagaimana alokasi pendanaan negara mampu bertransformasi menjadi daya ungkit peradaban dan ekonomi masyarakat berbasis kebudayaan.

Yudi berharap capaian di Desa Penglipuran ini tidak putus dan berlanjut ke ruang-ruang yang lebih luas. Sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas. 

“Kita sudah melihat langsung, didampingi tim kami, dari capaian akan dievaluasi, dalam rangka itulah kami datang kemari, mengapresiasi. Ini suatu hal yang sangat bagus dan baik. kita semakin yakin program yang kita inisiasi ini bisa ditangkap dan dimanfaatkan dengan baik. Kami berharap ini bisa jadi pilot project, role model yang dapat berkembang ke desa sebelah, kecamatan. Atau bahkan provinsi lain bisa mengadopsi kemajuan ini," ucap Yudi optimistis.

Harmoni Batang Bambu dan Barcode

Dalam perjalanannya, proses mengintegrasikan teknologi ke dalam ruang adat yang sakral pun mendapat respons positif dari berbagai pemangku kepentingan lainnya.  Saat itu ketika tim pengusul merancang medium fisik untuk penempatan standing barcode.

Ketika usulan awal sempat melirik material modern berupa besi holo, masyarakat dan pemerintah desa adat setempat dengan halus menolaknya. Besi dinilai dingin, kaku, dan merusak tata keselarasan visual maupun konsep kosmologis desa pegunungan.

Mendengarkan aspirasi tersebut, tim peneliti segera beralih merancang prototipe berbahan bambu alami di kampus Undiksha. Hasilnya justru melahirkan simfoni estetis, tiang bambu ramping khas Penglipuran berdiri anggun menopang barcode digital, menyatu sempurna dengan lanskap pekarangan tanpa mencoreng nuansa sakral desa.

“Program ini juga mendapatkan support tidak hanya dari kementerian, tidak hanya dari pemerintah desa, tidak hanya dari dinas pariwisata, tapi juga dari mitra-mitra desa," katanya.

Para pemangku kepentingan lainnya juga akan memberikan dukungan untuk menyempurnakan program ini dengan pembuatan standing barcode.  Agar informasi yang ada di dalamnya disanggah dengan sempurna dan estetik, tak asal ditempel begitu saja di sudut-sudut angkul-angkul. 

Kini, pelancong cukup mengarahkan kamera ponsel pintar mereka ke standing barcode bambu yang akan disebar di sekitar 400 titik tersebut. Seketika, layar ponsel menyajikan rekonstruksi visual 3D lengkap dengan narasi mendalam lintasbahasa mengenai artefak di hadapan mereka.

“Jadi tergantung objeknya. Jadi kalau misalnya tentang angkul-angkul, di dalamnya akan terungkap filosofis dari angkul-angkul itu, bahan pembuatan angkul-angkul itu dari apa, proses pembuatannya seperti apa, sampai fungsi angkul-angkul itu tersendiri dalam konteks masyarakat desa.

Sains pada akhirnya menemukan rumah sejatinya di sela-sela pekarangan Penglipuran. Tak hadir untuk menggurui, namun merawat apa yang sakral. Membuat gawai di genggaman mampu menerjemahkan heningnya bebatuan menjadi cerita peradaban yang utuh dari desa terbersih di dunia ini.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan