Penyusunan IDSD 2025 berlandaskan pada tiga pilar regulasi utama yaitu Undang-Undang (UU) Pemerintahan Daerah, UU Sisnas Iptek, serta Peraturan BRIN Nomor 5 Tahun 2023. Mengacu Global Competitiveness Index (GCI) 2019, IDSD memetakan daya saing daerah melalui empat komponen utama, yaitu Lingkungan Pendukung, SDM, Pasar, dan Ekosistem Inovasi yang dijabarkan ke dalam 12 pilar strategis.
"IDSD bukan sekadar angka, melainkan alat untuk mengetahui kondisi riil daya saing daerah guna mendukung penguatan ekonomi nasional," ujar Boediastoeti dalam forum Indeks Daya Saing Daerah 2025 melalui Zoom Meeting, Selasa, 24 Februari 2026.
Skor rata-rata nasional IDSD 2025 berada di angka 3,5 dari skala 5, dengan rentang skor provinsi tertinggi berada di kisaran 4,12 hingga 4,5. Berikut 20 provinsi dengan daya saing tertinggi dan terendah:
10 Provinsi dengan Daya Saing Tertinggi
Provinsi di Pulau Jawa dan Bali mendominasi daftar peringkat atas. DKI Jakarta menjadi yang terdepan berkat stabilitas infrastruktur pendukung dan ekosistem ekonomi yang matang.Berikut rinciannya:
- DKI Jakarta: 4,18
- Bali: 4,03
- DI Yogyakarta: 4,00
- Banten: 3,95
- Jawa Barat: 3,93
- Jawa Timur: 3,91
- Jawa Tengah: 3,87
- Sumatera Barat: 3,82
- Sulawesi Selatan: 3,71
- Kalimantan Selatan: 3,65
10 Provinsi dengan Daya Saing Terendah
Wilayah timur Indonesia, khususnya provinsi-provinsi di Papua, menempati posisi terbawah. Hal ini mencerminkan tantangan besar dalam membangun fondasi daya saing di wilayah tersebut.Berikut rinciannya:
- Papua Pegunungan: 2,44
- Papua Tengah: 2,51
- Papua Barat: 2,84
- Papua Selatan: 3,01
- Papua Barat Daya: 3,09
- Papua: 3,19
- Gorontalo: 3,28
- Kalimantan Utara: 3,29
- Kepulauan Bangka Belitung: 3,38
- Riau: 3,40
Sebaliknya, daerah dengan skor rendah seringkali terkendala oleh keterbatasan infrastruktur dan ekosistem inovasi. Namun, dia menekankan daerah yang belum memiliki kawasan fisik seperti Science Techno Park (STP) tidak perlu berkecil hati.
"Ekosistem inovasi tidak selalu berarti harus membangun fisik STP. Kerja sama antardaerah adalah kunci untuk meningkatkan dinamika bisnis dan komersialisasi hasil riset," tegas dia.
Selain itu, salah satu pemicu peningkatan skor adalah kelengkapan data daerah. BRIN mencatat adanya peningkatan kualitas informasi dari daerah yang memanfaatkan data sekunder secara maksimal. Daerah yang mampu menyajikan data akurat kepada wali data nasional cenderung memiliki perencanaan yang lebih presisi, yang pada akhirnya mendongkrak
BRIN juga memperkenalkan fitur Kalkulator IDSD sebagai pemicu kemajuan bagi daerah berskor rendah. Dengan alat ini, pemerintah daerah dapat mensimulasikan kenaikan skor dengan mencoba intervensi kebijakan tertentu, seperti menaikkan anggaran riset atau memperkuat sektor UMKM. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News