Langkah ini sangat krusial mengingat kinerja nasional merupakan agregasi dari produktivitas di tingkat provinsi serta kabupaten/kota. Utamanya, dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen pada tahun 2026.
IDSD hadir sebagai alat ukur berbasis data yang memetakan kapasitas daerah secara objektif sejalan dengan tema pembangunan nasional mengenai kedaulatan pangan, energi, dan ekonomi inklusif.
Melalui IDSD, pemerintah daerah didorong tidak hanya mengandalkan keunggulan komparatif alamiah, tetapi mulai membangun keunggulan kompetitif melalui kebijakan pembangunan yang tepat sasaran (evidence-based policy).
Penguatan daya saing dalam kerangka IDSD mencakup penciptaan lingkungan yang kondusif bagi produktivitas jangka panjang. Mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, perbaikan iklim usaha, hingga pemanfaatan teknologi dan inovasi.
Keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, kementerian, dan lembaga terkait seperti BRIN, Bappenas, Kemendagri, serta BPS.
Selain sebagai rujukan ilmiah, peluncuran ini menjadi ruang dialog bagi para kepala daerah untuk berbagi praktik baik dalam mengelola ekosistem inovasi dan tata kelola pemerintahan yang efektif.
Baca Juga :
BRIN: IDSD Setiap Daerah Mesti Meningkat
BRIN melaporkan rilis IDSD 2025 merupakan edisi keempat sejak pertama kali diterbitkan pada 2022. IDSD mengukur daya saing melalui 4 komponen utama: Lingkungan Pendukung, Sumber Daya Manusia, Pasar, dan Ekosistem Inovasi mengadopsi konsep Global Competitiveness Index (GCI) 2019 dari World Economic Forum.
"Skor nasional IDSD 2025 tercatat sebesar 3,5 meningkat 0,07 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan ini terjadi pada 87 persen provinsi dan 77 persen kabupaten/kota, yang menunjukkan tren peningkatan daya saing daerah yang relatif merata," ungkap Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi, Boediastoeti Ontowirjo, dalam forum Rilis Indeks Daya Saing Daerah 2025 melalui Zoom Meeting pada Selasa, 24 Februari 2026.
Beberapa poin krusial yang menonjol dalam IDSD 2025 menunjukkan stabilitas data yang sangat kuat, di mana korelasi antara IDSD 2024 dan 2025 mencapai angka tinggi sebesar 0,98 yang mencerminkan konsistensi metodologi pengukuran serta stabilitas struktur daya saing daerah.
Namun, meski secara umum mengalami kenaikan, masih terdapat tantangan pemerataan yang perlu segera ditangani karena adanya kesenjangan kapasitas dengan rentang skor kabupaten/kota yang cukup lebar, yakni antara 2,7 hingga 4,68.
Di sisi lain, IDSD kini telah terbukti efektif sebagai instrumen kebijakan karena telah dimanfaatkan secara luas sebagai indikator dokumen perencanaan daerah, data dasar dalam pengambilan kebijakan, serta rujukan utama dalam penguatan ekosistem riset di daerah.
Dengan data kredibel sebagai kompas pembangunan, IDSD diharapkan mampu menyelaraskan agenda daerah dengan visi nasional guna mewujudkan Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya saing global. Hasil rilis ini menegaskan penguatan daya saing memerlukan intervensi yang lebih terarah berbasis karakteristik unik masing-masing daerah.
"IDSD memberikan dasar empiris bagi penyusunan kebijakan yang lebih baik dalam memperkuat ekosistem inovasi daerah demi Indonesia yang lebih tangguh," ujar Boediastoeti.
Kegiatan yang digelar secara hybrid ini dihadiri oleh pemangku kepentingan utama, termasuk perwakilan dari 10 Kementerian/Lembaga, serta diikuti oleh total 546 Kepala Daerah, baik secara luring maupun daring. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News