“Ikan kakap pada umumnya aman dikonsumsi. Risiko muncul pada kondisi tertentu, terutama terkait jenis dan ukuran ikan, habitat, lokasi penangkapan, serta cara penanganannya,” ujar Joko dalam siaran persnya, Selasa, 15 September 2026.
Waspadai Ciguatoksin
Joko menjelaskan, salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah ciguatera, yakni keracunan akibat ciguatoksin. Toksin ini tidak hilang meskipun telah dimasak.Ciguatoksin berasal dari rantai makanan laut, termasuk mikroalga atau ganggang laut kecil seperti Gambierdiscus, yang menghasilkan toksin. Racun kemudian dapat terakumulasi pada ikan yang memakan organisme laut terkontaminasi.
Meski demikian, risiko ini tidak sama pada semua ikan kakap. Beberapa jenis kakap, terutama ikan karang berukuran besar dan bersifat predator, dapat mengandung toksin tersebut.
“Spesies, habitat, ukuran, umur, dan lokasi penangkapan menjadi faktor penting. Kakap yang hidup di ekosistem terumbu karang dan berukuran lebih besar serta lebih tua cenderung lebih berisiko mengakumulasi ciguatoksin," ujarnya.
“Selain itu, ciguatera terutama menjadi perhatian di wilayah tropis dan subtropis tertentu. Karena itu, tidak semua perairan memiliki tingkat risiko yang sama,” katanya.
Tak Terlihat dari Fisik
Menariknya, Joko melanjutkan, ikan yang mengandung ciguatoksin tidak harus terlihat sakit dan perairannya tidak harus tampak kotor. Ikan yang mengandung toksin juga umumnya tidak menunjukkan perubahan khusus pada rasa, bau, maupun tampilan.“Selain ciguatoksin, ikan dari perairan tercemar dapat mengandung merkuri atau polutan lainnya. Risiko biasanya lebih diperhatikan pada ikan predator yang besar dan berumur panjang,” kata Joko.
7 Tips Aman Pilih Ikan Kakap
Joko memberikan tujuh tips agar masyarakat mampu memilih ikan kakap dengan lebih aman. Berikut ketujuh tips tersebut:Pilih ikan dari sumber yang jelas seperti nelayan, pasar, atau penjual yang mengetahui asal tangkapan. Tanyakan lokasi penangkapan ikan. Hindari kakap yang berasal dari wilayah yang diketahui sedang memiliki kasus ciguatera atau mendapat peringatan resmi.
Lebih berhati-hati terhadap kakap berukuran sangat besar, terutama kakap predator yang berasal dari ekosistem terumbu karang. Pilih ikan berukuran lebih kecil bila tersedia, karena ikan yang besar dan tua dapat mengakumulasi lebih banyak toksin.
Jangan mengandalkan kesegaran ikan untuk mendeteksi ciguatoksin. Ikan yang terlihat segar tetap dapat mengandung toksin. Untuk mengurangi risiko keracunan akibat bakteri, pilih ikan yang matanya jernih, insangnya tidak berlendir atau berbau menyengat, dagingnya kenyal, dan disimpan dalam kondisi dingin.
Masak ikan hingga matang untuk mengurangi risiko mikroorganisme. Namun, memasak tidak menghancurkan ciguatoksin. “Yang paling penting, jika suatu daerah memiliki peringatan resmi mengenai ciguatera, sebaiknya jangan mengonsumsi ikan karang predator dari daerah tersebut meskipun ikannya tampak sehat,” kata Joko.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu menghindari ikan kakap secara umum. Mengetahui asal ikan, memperhatikan jenis dan ukurannya, serta memastikan penanganan dan penyimpanan dilakukan dengan baik menjadi langkah penting, terutama untuk ikan karang predator dari wilayah yang diketahui memiliki risiko ciguatera.