"Uang sudah dikasih semua ke daerah, seluruh anggaran sudah dikasih, kebijakan sudah dikasih oleh Presiden (Prabowo Subianto) yang salah pelaksana di lapangan," kata Pigai dalam konferensi pers, Kamis, 5 Februari 2026.
Pigai mengatakan seluruh perangkat di pemerintah daerah mulai dari RT, RW, Kepala Desa, Camat, Bupati, dan Wali Kota punya andil dalam kelalaian. Dia mencontohkan banyak masyarakat yang masuk Desil 1 atau miskin ekstrem kesulitan mencairkan bantuan sosial (bansos).
Ini lantaran mereka tinggal tidak sesuai dengan alamat di KTP. Sedangkan, pencairan dana mesti sesuai dengan alamat yang ada di KTP. Nah, buat warga miskin ekstrem, mengurus administrasi ini membutuhkan uang tak sedikit karena harus pergi ke kabupaten jauh dari tempat tinggal.
"Pemda mau membantu mereka cek KTP, 'Oh kamu di Kabupaten A tidak dibiayai kami, kami tidak mau tanggung, pergi urus ini ke Kabupaten B'. Ini kelakuan tidak bagus, tapi kita tidak bilang ini kelakuan tidak bagus, tapi mari kita perbaiki," kata Piagai.
Pigai menegaskan perlu kesadaran semua pihak untuk saling membantu. Utamanya, membantu warga yang termasuk miskin ekstrem.
YBR ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon pada Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026. Saat proses evakuasi, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan milik korban.
Surat ditulis dalam bahasa daerah Ngada dan ditujukan kepada ibu korban. Isi surat mengungkap dugaan alasan korban memilih mengakhiri hidup.
Sebelum meninggal, YBR sempat meminta dibelikan buku dan pensil kepada ibunya. Namun, karena tidak mempunyai uang, ibu YBR tak bisa membelikan.
YBR sebetulnya penerima program PIP. Namun, karena pindah domisili, dana PIP nya tidak bisa cair dan perlu mengurus administrasi pemindahan lebih dulu.
YBR telah meminta ibunya untuk mengurus, namun sang ibu belum sempat mengurus. Berikut isi surat YBR dengan bahasa daerah Ngada beserta artinya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)
Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)
Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)
Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)
Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)
Peristiwa ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan warga tempat tinggal YBR di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu. YBR di lingkungannya dikenal baik, riang dan rajin belajar meski ekonomi keluarga tak mendukung.
YBR memutuskan bunuh diri hanya selang sehari setelah ia meminta uang untuk membeli buku dan pena kepada ibunya. Tapi, ibunya tak punya uang, sedangkan ayahnya sudah meninggal.
Sebelum kejadian bunuh diri itu, ibunya sudah memberikan nasihat untuk tetap rajin bersekolah, meski ekonomi keluarga serba terbatas. Apalagi, saat ini memperoleh uang tidak mudah.
YBR ditemukan tak bernyawa keesokan harinya oleh warga setempat yang sedang mengurus ternak kerbau. Tak jauh dari rumah nenek YBR, 80, tempat YBR tinggal. (Dashyauly Hutauruk)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News