Anggota DPR RI Komisi XIII, Rieke Diah Pitaloka. DOK dpr.go.id/Yohanes/Karisma
Anggota DPR RI Komisi XIII, Rieke Diah Pitaloka. DOK dpr.go.id/Yohanes/Karisma

Rieke Diah Pitaloka Sebut Bobroknya Data BPS Biang Siswa SD Bunuh Diri

Ilham Pratama Putra • 06 Februari 2026 12:05
Ringkasnya gini..
  • Rieke Diah Pitaloka menguliti data yang digunakan untuk menentukan penerima bantuan sosial (bansos) merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS).
  • YBR termasuk keluarganya adalah korban pendataan yang tidak tepat. Sehingga, tidak terperhatikan oleh negara.
  • Rieke Diah Pitaloka mendorong anggaran BPS dialihkan untuk anggaran pendidikan.
Jakarta: Anggota DPR RI Komisi XIII, Rieke Diah Pitaloka, mengatakan kasus bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak cukup ditangani dengan kemarahan. Dia menguliti data yang digunakan untuk menentukan penerima bantuan sosial (bansos) yang harus merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS).
 
"Ini sudah masuk ranah akuntabilitas dan transparansi. Data yang tidak tepat, membuat program dan uang negara salah sasaran," kata Rieke melalui unggahan di akun Instagram @riekediahp dikutip Jumat, 6 Februari 2026.
 
Menurutnya, YBR termasuk keluarganya adalah korban pendataan yang tidak tepat. Sehingga, tidak terperhatikan oleh negara.

"Apakah metodologi pendataan dan data BPS yang seperti ini akan dipertahankan? Ini bukan soal mempertahankan segelintir jabatan orang di BPS. Ini soal hak konstutional rakyat dan tanggung jawab Negara," tegas dia. 
 
Rieke menyebut BPS mendapatkan anggaran tambahan ratusan miliar pada tahun 2025. Tahun ini, anggaran BPS lebih dari Rp6 triliun.
 
"Rasanya, uang sebesar itu lebih baik untuk anggaran pendidikan anak-anak tidak mampu. Di era otonomi daerah dan kewenangan Desa (Undang-Undang Desa). Saatnya data negara berbasis data desa/kelurahan," jelas dia
 
Saat ini, pemerintah sedang memperjuangkan data dasar negara yang akurat, aktual dan relevan. Data yang menggambarkan kebutuhan riil, kondisi riil dan potensi riil desa/kelurahan di seluruh tanah air.
 
"Kok sepertinya ada yang kasak-kusuk bermanuver mau gagalkan? Tiba saatnya kita buka siapa yang pertahankan data yang 'bobrok'," sebut politikus PDI Perjuangan itu. 
 
Padahal, Presiden RI Prabowo Subianto ingin data negara akurat. Namun menurutnya ada pihak yang mau keinginan Prabowo tidak tercapai.
 
"Kok indikasinya ada yang manuver gagalkan ya? Rasanya tiba saatnya kedok itu dibuka. Karena ini soal keberlangsungan hidup rakyat, bangsa dan negara. Hari gini masih mau pertahankan data negara yang tidak akurat? Shame on you! Yuk kita adu argumentasi terbuka, jangan main intimidasi," tegas dia. 
YBR ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon pada Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026. Saat proses evakuasi, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan milik korban.
 
Surat ditulis dalam bahasa daerah Ngada dan ditujukan kepada ibu korban. Isi surat mengungkap dugaan alasan korban memilih mengakhiri hidup.
 
Sebelum meninggal, YBR sempat meminta dibelikan buku dan pensil kepada ibunya. Namun, karena tidak mempunyai uang, ibu YBR tak bisa membelikan.
 
Berikut isi surat YBR dengan bahasa daerah Ngada beserta artinya:
 
Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)
Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)
Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)
Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)
Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)
 
Peristiwa ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan warga tempat tinggal YBR di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu. YBR di lingkungannya dikenal baik, riang dan rajin belajar meski ekonomi keluarga tak mendukung.
 
YBR memutuskan bunuh diri hanya selang sehari setelah ia meminta uang untuk membeli buku dan pena kepada ibunya. Tapi, ibunya tak punya uang, sedangkan ayahnya sudah meninggal.
 
Sebelum kejadian bunuh diri itu, ibunya sudah memberikan nasihat untuk tetap rajin bersekolah, meski ekonomi keluarga serba terbatas. Apalagi, saat ini memperoleh uang tidak mudah.
 
YBR ditemukan tak bernyawa keesokan harinya oleh warga setempat yang sedang mengurus ternak kerbau. Tak jauh dari rumah nenek YBR, 80, tempat YBR tinggal.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan