Bunuh diri. DOK Freepik
Bunuh diri. DOK Freepik

Siswa SD Bunuh Diri Karena Tak Bisa Beli Buku dan Pena, JPPI Sebut Bukti Kesalahan Alokasi Anggaran

Ilham Pratama Putra • 05 Februari 2026 10:36
Ringkasnya gini..
  • Siswa SD bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pena disebut sebagai sinyal lumpuhnya perlindungan hak anak atas pendidikan.
  • Kejadian ini menunjukkan ketimpangan anggaran pendidikan yang disebut pemerintah terus naik.
Jakarta: Kematian tragis seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan pena bukan sekadar berita duka. Jaringan Pemantau Pendidikan Indoensia (JPPI) memaknai hal ini sebagai sinyal lumpuhnya perlindungan hak anak atas pendidikan.
 
"Di tengah klaim pemerintah tentang anggaran pendidikan yang terus naik, realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa nyawa seorang anak bisa melayang hanya karena harga sebuah buku dan pena yang tak terjangkau," kata Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 Februari 2026.
 
Ia membantah pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang menyebut anak putus sekolah karena tidak bisa jajan. Pernyataan itu menjatuhkan realitas masyarakat miskin yang tak bisa sekolah karena masalah ekonomi.

"Kasus di NTT ini secara langsung membantah dan membungkam narasi tersebut. Anak-anak kita putus sekolah bukan karena mereka tidak bisa jajan cilok di kantin. Mereka menyerah karena biaya pendidikan yang mencekik,” tegas Ubaid.
 
Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR, 10, ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon pada Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026. Saat proses evakuasi, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan milik korban.
 
Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Ngada dan ditujukan kepada ibu korban. Isi surat mengungkap dugaan alasan korban memilih mengakhiri hidup.
 
Sebelum meninggal, YBR sempat meminta dibelikan buku dan pensil kepada ibunya. Namun karena tidak mempunyai uang, ibu YBR tak bisa membelikan.
 
Berikut isi surat dari YBR dengan bahasa daerah Ngada beserta artinya:
 
Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)
Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)
Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)
Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)
Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)
 
Peristiwa ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan warga tempat tinggal YBR di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu. YBR di lingkungannya dikenal baik, riang dan rajin belajar meski ekonomi keluarga tak mendukung.
 
YBR memutuskan bunuh diri hanya selang sehari setelah ia meminta uang untuk membeli buku dan pena kepada ibunya. Tapi, sang ibu tak punya uang, sedangkan ayahnya sudah meninggal.
 
Sebelum kejadian bunuh diri itu, ibunya sudah memberikan nasihat agar YBR tetap rajin bersekolah, meski ekonomi keluarga serba terbatas. Apalagi, saat ini tidak mudah memperoleh uang.
 
YBR ditemukan tak bernyawa keesokan harinya oleh warga setempat yang sedang mengurus ternak kerbau. Tak jauh dari rumah nenek YBR, 80, tempat YBR tinggal.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan