Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, Dadang Sunendar saat memaparkan pentingnya perlindungan bahasa, di Jakarta, Kemendikbud/BKLM.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, Dadang Sunendar saat memaparkan pentingnya perlindungan bahasa, di Jakarta, Kemendikbud/BKLM.

Unesco: Setiap Dua Minggu Satu Bahasa Hilang

Pendidikan Penggunaan Bahasa
Intan Yunelia • 21 Februari 2019 18:49
Jakarta:Data Unesco (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) mengungkapkan keanekaragaman bahasa semakin terancam, karena semakin banyak bahasa yang hilang. Setiap dua minggu rata-rata satu bahasa hilang di dunia.
 
Hal itu setara dengan hilangnya warisan budaya dan intelektual bangsa itu sendiri.Fakta ini menjadi perhatian serius Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 28 Oktober 2018 (Hari Sumpah Pemuda).
 
"Kemendikbud mencatatkan sudah terdapat 668 bahasa daerah di Indonesia yang telah dipetakan. Pemetaan ini belum termasuk ragam dialek dan sub-dialek bahasa daerah di Indonesia," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, Dadang Sunendar, di Jakarta, Kamis 21 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dadang mengakui bahwa hasil pemetaan ini akan dijadikan langkah strategis untuk kekayaan bahasa yang selama ini dimiliki Indonesia. Dari 668 bahasa daerah yang telah dicatat dan diidentifikasi tersebut, baru 74 bahasa yang telah dipetakan vitalitas atau daya hidupnya (berdasarkan kajian vitalitas bahasa pada 2011—2017).
 
"Terdapat 11 bahasa yang dikategorikan punah, empat bahasa kritis, 22 bahasa terancam punah, dua bahasa mengalami kemunduran, 16 bahasa dalam kondisi rentan (stabil, tetapi terancam punah), dan 19 bahasa berstatus aman," tuturnya.
 
Baca:Bahasa Daerah Mulai Ditinggalkan Penuturnya
 
Ia melanjutkan, ke depan fokus Kemendikbud mengidentifikasi bahasa daerah di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Guna memetakan pelestarian dan penutur bahasa daerah di Indonesia.
 
"Jumlah hasil pemetaan tersebut tentunya akan bertambah, seiring bertambahnya jumlah daerah pengamatan dalam pemetaan berikutnya," ujar Dadang.
 
Tantangan pelestarian bahasa dan sastra sertakepunahan bahasa daerah masih menjadi tantangan yang signifikan dalam meningkatkan kontribusi keanekaragaman bahasa dan multilingualisme untuk pembangunan yang berkelanjutan di bidang pendidikan. Menurut Unesco, keanekaragaman bahasa dan multilingualisme dapat menjadi bagian integral untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, yaitu mendorong pendidikan berkualitas dan merata, dan pendidikan sepanjang hayat.
 
Ditargetkan, penggunaan bahasa daerah dan pendidikan multilingualisme dapat mendorong pemerataan pendidikan yang berkualitas untuk pembangunan yang berkelanjutan.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif