Presentasi Mahasiswa Unair dalam babak final Genera-Z Berbakti 2026. Dok Bakti BCA
Presentasi Mahasiswa Unair dalam babak final Genera-Z Berbakti 2026. Dok Bakti BCA

Inovasi dalam Penelitian Harus Bisa Dieksekusi, Bukan Sekadar Menarik di Atas Kertas

Ilham Pratama Putra • 13 Juli 2026 16:42
Ringkasnya gini..
  • Nicolas Saputra sebut ide riset harus bisa diterapkan, bukan hanya menarik.
  • Mahasiswa didorong inovasi yang realistis dan berdampak.
  • Empat tim terbaik akan mengimplementasikan program di desa binaan Bakti BCA.
Jakarta: Gagasan inovatif dalam sebuah pengembangan penelitian mahasiswa tidak boleh hanya menarik saat dipresentasikan. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan ide tersebut dapat diterapkan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
 
Pesan itu mengemuka dalam babak final Genera-Z Berbakti 2026, program call for proposal yang digelar Bakti BCA untuk menguji inovasi penelitian mahasiswa Indonesia. Duta Bakti BCA Nicholas Saputra yang menjadi salah satu panelis mengatakan banyak finalis menawarkan ide kreatif dengan cara penyampaian yang meyakinkan, namun, implementasi di lapangan menjadi ukuran keberhasilan yang sebenarnya.
 
"Berbagai ide dan cara presentasi finalis Genera-Z Berbakti 2026 cukup menarik. Bagi saya, hal tersebut memantik rasa penasaran mengenai bagaimana nantinya implementasi program-program yang ditawarkan di lapangan," kata Nicholas dalam keterangan tertulis dikutip Senin 13 Juli 2026.
 
Baca juga: Kelas 5 SD Baru Bisa Baca, Anak NTT Ini Lolos Tanpa Tes di UGM dan Kuliah Gratis  


Menurut Nicholas, tantangan di lapangan kerap berbeda dengan kondisi saat penyusunan proposal penelitian. Karena itu, mahasiswa dituntut mampu menjaga konsistensi sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat di desa tujuan.
 
Ia optimistis seluruh finalis memiliki peluang mewujudkan gagasannya selama mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang ditemui selama pelaksanaan program. Penilaian serupa disampaikan ilmuwan sekaligus wirausahawan sosial Tri Mumpuni. 
 
Menurut Tri, kualitas sebuah gagasan tidak hanya diukur dari kebaruan ide, tetapi juga dari kemudahan untuk diterapkan di masyarakat. Mahasiswa, kata Tri, perlu mampu menerjemahkan persoalan sosial menjadi program konkret yang realistis dijalankan di tingkat desa.
 
"Mereka layak disebut sebagai generasi yang memiliki kemampuan intelektual dan empati yang besar apabila mampu merespons persoalan sosial menjadi kegiatan nyata yang dapat diimplementasikan," ujarnya.
 
Pada babak final, delapan tim dari berbagai perguruan tinggi mempresentasikan solusi untuk beragam persoalan pembangunan desa. Salah satu persaingan yang mencuri perhatian terjadi antara tim Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Cenderawasih (UNCEN). 
 
Keduanya sama-sama mengangkat pemberdayaan perempuan sebagai motor penggerak pembangunan desa, tetapi menawarkan pendekatan yang berbeda. Perwakilan tim LESTARI dari UNCEN, Eli, mengaku sempat kehilangan fokus akibat gugup saat presentasi di hadapan dewan juri.
 
Baca juga: Beasiswa Tangerang Gemilang, Investasi Cetak Talenta AI dan Robotika  

 
"Saya sempat berhenti karena sudah sangat gugup. Setelah menenangkan diri, saya melanjutkan presentasi," ujarnya.
 
Sementara itu, Sam dari tim Amerta Pertiwi Universitas Airlangga mengaku tantangan terberat justru muncul ketika sesi tanya jawab. "Ketika mendapat pertanyaan dari Cinta Laura, saya cukup kesulitan menyederhanakan jawaban," katanya.
 
Dari delapan finalis, hanya empat tim yang akan memperoleh kesempatan mengimplementasikan proposal mereka di desa wisata binaan Bakti BCA. Yakni Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung, Desa Wisata Situs Gunung Padang di Cianjur, Desa Wisata Patakbanteng di Wonosobo, serta Desa Wisata Kakaskasen Dua di Tomohon.
 
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn berharap program tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk membuktikan bahwa inovasi sosial tidak berhenti sebagai konsep. Tetapi mampu menghadirkan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
 
"Kami sangat terpukau oleh semangat para finalis. Hal ini membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya mampu berpikir kritis, tetapi juga memiliki kepedulian untuk turun tangan memberi dampak nyata," ujar Hera.
 
Baca juga: Perjuangan Mendiktisaintek Kuliah S2 di Jepang: Beasiswa Kurang, Sempat Jadi Tukang Pel Kereta  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA