Masa jabatan Dino ini menjadi perhatian publik setelah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyebutnya dalam keterangannya yang disampaikan melalui video beberapa waktu lalu. Teddy menyampaikan hal tersebut melalui instagram @sekretariat.kabinet.
"Saya pikir beliau (Dino) adalah diplomat hebat pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," kata Teddy.
Namun, bicara masa jabatan di pemerintahan, tak hanya Dino yang berumur singkat. Bahkan Ki Hadjar Dewantara, Bapak pendidikan Indonesia itu juga tak lama saat menjabat menjadi menteri pendidikan atau disebut sebagai menteri pengadjaran di era itu.
Ki Hajar Dewantara masuk dalam presidentil kabinet di awal kemerdekaan Indonesia. Saat itu Ki Hadjar Dewantara menjadi menteri pengadjaran, atau kini bernama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Bahkan Ki Hadjar Dewantara menjabat lebih singkat dibandingkan Dino. Ia cuma menjabat sekitar 2,5 bulan.
| Baca juga: Sejarah Hari Pendidikan Nasional, Usaha Ki Hadjar Dewantara 'Mencerahkan' Kaum Pribumi di era Kolonialisme |
Melansir laman kemendikdasmen.go.id, Ki Hadjar Dewantara menjabat sebagai menteri mulai 19 Agustus 1945 sampai 14 November 1945. Meski singkat, kapasitas Ki Hadjar tak bisa diremehkan apalagi ia didapuk sebagai bapak pendidikan Indonesia.
Diketahui, Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal kembali memberikan kritiknya kepada Presiden Prabowo Subianto. Kali ini, Dino mengkritik Presiden yang kerap kunjungan ke luar negeri.
Dalam unggahannya di akun Instagram @dinopattidjalal, Dino meminta Prabowo mengurangi perjalanan ke luar negeri. "Kami mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," kata Dino dikutip, Selasa, 2 Juni 2026.
Kritik itu ditanggapi langsung oleh Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Dalam video berdurasi 6 menit 54 detik itu, Teddy meluruskan sejumlah hal.
Tanggapan Teddy menjadi sorotan karena dibuka dengan menyidir masa bakti Dino sebagai wakil menteri luar negeri.
"Karena saya di-mention oleh Pak Dubes Dino, saya mau meluruskan beberapa hal. Sebelumnya terima kasih atas masukan yang telah diberikan. Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," kata Teddy.
Profil Dino Patti Djalal
Mengutip laman diaspora.id, Dino Patti Djalal merupakan salah satu tokoh diplomasi paling berpengaruh di Tanah Air. Dino lahir di Beograd, Yugoslavia, pada 10 September 1965.Dino adalah putra diplomat senior yang telah mengukir perjalanan panjang dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional melalui jalur akademik, pemerintahan, hingga gerakan komunitas.
Rekam jejak pendidikan dan karier Dino Patti Djalal
Ketertarikan Dino pada dunia politik internasional dibentuk oleh latar belakang pendidikannya yang mumpuni. Ia meraih gelar sarjana dari Carleton University (Kanada), magister dari Simon Fraser University, dan gelar Doktor dari London School of Economics (Inggris).Karier diplomasinya dimulai pada 1987 di Departemen Luar Negeri, saat ia mencuri perhatian publik saat menjadi juru bicara pemerintah dalam Referendum Timor Timur tahun 1999.
Puncak karier birokrasinya adalah saat ia dipercaya menjadi Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bidang Urusan Internasional, sekaligus menjadi juru bicara presiden dengan masa jabatan terlama. Kiprahnya berlanjut sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat pada tahun 2010 hingga 2013 yang berhasil mempererat hubungan bilateral kedua negara. Atas dedikasinya, ia dianugerahi penghargaan Bintang Jasa Utama dan Bintang Mahaputra Adipradana.
Dino menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia dari 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014. Dia ia menggantikan Wardana yang mengemban tugas baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Turki.
Setelah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri pada 2014, Dino tidak berhenti berkontribusi. Ia mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), yang kini tumbuh menjadi komunitas kebijakan luar negeri terbesar di Indonesia. Melalui platform ini, ia melahirkan inisiatif populer seperti program Supermentor dan konferensi kebijakan luar negeri tahunan.
Dino juga dikenal sebagai Bapak Diaspora Indonesia berkat perannya dalam menyatukan jaringan warga Indonesia di seluruh dunia melalui Kongres Dunia Diaspora. Di sisi kemanusiaan, ia menggagas 1000 Abrahamic Circles untuk mempromosikan toleransi antarumat beragama di level global.
Di luar meja perundingan, Dino adalah penulis produktif dengan 11 karya buku, termasuk buku kepemimpinan fenomenal berjudul Harus Bisa yang terjual jutaan eksemplar. Ia bahkan sempat merambah dunia hiburan dengan menjadi host di Mola TV dan mewawancarai sejumlah bintang papan atas Hollywood.
Itulah profil Dino Patti Djalal. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Sobat Medcom
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News