Peserta tunarungu dari SMAN 16 Surabaya, Muhammad Pasha Fawwazdian, mengaku telah mempersiapkan diri dengan maksimal. Ia menilai soal UTBK cukup beragam, mulai dari yang mudah hingga sulit, namun tetap dapat dikerjakan dengan baik.
“Alhamdulillah saya sudah mempersiapkan UTBK ini dengan sebaik mungkin. Soalnya ada yang sulit dan ada juga yang gampang, tapi insyaallah bisa saya kerjakan,” ujar Pasha dikutip dari laman unair.ac.id, Jumat, 24 April 2026.
Pasha memilih Program Studi Psikologi Unair karena ketertarikannya membantu orang lain, terutama dalam hal konseling. Dia bercita-cita menjadi psikiater di masa depan.
Dukungan keluarga dan teman-teman menjadi kekuatan besar baginya dalam menempuh proses ini. “Pesan saya, disabilitas bukanlah halangan. Jadikan disabilitas sebagai power dan kelebihan tersendiri. Saya banyak mengalami pembullyan verbal, tapi itu justru membuat saya semakin kuat,” ujar dia.
Baca Juga :
Kisah Pedagang Mi Ayam Antar Anak UTBK di IPB, Menginap di Rumah Saudara Demi Kejar Cita-cita

Khalifah Nisyapuri, peserta disabilitas UTBK di Unair. DOK Unair
Hal serupa juga dirasakan peserta tunadaksa dari SMAN 4 Sidoarjo, Khalifah Nisyapuri. Dia mengaku sempat merasa gugup sebelum ujian dimulai.
Khalifah mengapresiasi kemudahan akses yang diberikan Unair. Termasuk, bantuan mobilitas dari lantai satu hingga lantai sembilan.
"Saya banyak dibantu oleh petugas, mulai dari naik lift hingga masuk ke ruang ujian,” ujar dia.
Meski mengaku soal cukup sulit, ia merasa lega telah menyelesaikan ujian. Motivasi terbesarnya datang dari melihat banyak mahasiswa disabilitas yang berprestasi.
“Ternyata kita punya kesempatan yang sama, dan itu keren banget. Pesan saya, jangan takut mencoba dan jangan pernah patah semangat,” pesan dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News