Konpers Wisuda Universitas Terbuka. Foto: Medcom/Citra Larasati
Konpers Wisuda Universitas Terbuka. Foto: Medcom/Citra Larasati

Soal Wacana Kuliah Gratis Dongkrak APK, UT: Kami Siap Jadi Mitra Pemerintah

Citra Larasati • 26 Oktober 2026 12:21
Ringkasnya gini..
  • APK Pendidikan Tinggi RI baru 35%, artinya 65% masyarakat usia kuliah 19-23 tahun belum menikmati bangku perkuliahan.
  • Kemendiktisaintek targetkan APK capai 40%, dorong hilangkan stigma PTN minded demi kejar ketertinggalan global.
  • Pemerintah sepakat gagasan kuliah S1 gratis seperti skema BOS, namun harus kalkulasi kapasitas fiskal negara.
Jakarta: Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia saat ini masih di angka 35 persen. Angka tersebut menjadi alarm tersendiri bagi potret akses pendidikan nasional, mengingat ada 65 persen kelompok usia muda yang tercatat belum menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI, Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T., IPU., menyoroti, perhatian pemangku kepentingan seharusnya tidak lagi terfokus pada populasi yang sudah terserap di dunia akademik.

"APK Dikti masih 35 persen. Kampus UT menyumbang terbesar. Saat ini banyak kampus kekurangan mahasiswa. Sementara UT kebanyakan mahasiswa. Kalau kita bicara APK 35 persen. Masih ada 65 persen usia kuliah belum mendapatkan kesempatan kuliah. Atau bisa jadi belum tertarik kuliah," ungkap Samsuri di sela-sela  Seminar Wisuda Tahun Akademik 2026/2027 Ganjil Wilayah 1 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Senin, 26 Oktober 2026. 

Ia menegaskan, pekerjaan rumah terbesar ada pada kelompok mayoritas yang belum terjangkau akses studi lanjutan tersebut. "Jadi jangan membicarakan yg 35 persen. Tapi fokus menyasar yang 65 persen. Lulusan UT perlu sosialisasi ke masyarakat untuk bisa kuliah. Karena ada 65 persen masyarakat yang waktunya kuliah tapi belum kuliah. Banyak peluang, banyak beasiswa yang bisa dimanfaatkan," paparnya.

Menurut Samsuri, motif perkuliahan di era modern telah bergeser dari sekadar formalitas administrasi ke arah penguasaan keterampilan nyata. "Sekarang orang kuliah tidak sekadar cari ijazah. Tapi benar-benar ingin mencari kompetensi atau keterampilan," kata Samsuri.

Di lapangan ada kampus yang banyak menyerap mahasiswa, namun ada juga yang kekurangan mahasiswa. "Usia 19-23 tahun ada 65 persen belum kuliah," tuturnya.

Kesenjangan angka partisipasi ini terlihat kontras bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan negara maju. Pemerintah sendiri menetapkan sasaran baru untuk mendongkrak capaian nasional.

"Target kami 40 persen. Korea sudah 90 persen. Malaysia 45-50 persen," jelas Samsuri.
 

Penyebab APK Rendah

Menganalisis faktor di balik rendahnya APK, Samsuri memetakan bahwa problem utama berakar pada kesadaran masyarakat yang masih terbiasa membatasi pendidikan hanya sampai jenjang sekolah menengah.

"Kalau saya amati masyarakat kita soal kesadaran. Wajib belajar masih sampai SMA. Setelah itu kecenderungan bekerja. Jadi perlu ada perubahan mindset. Berikutnya sosialisasi perlu dibarengi dengan kualitas kampus. Karena jika kita melihat beberapa kampus kita, belum banyak yang dipercaya masyarakat," urainya.

Kendala kultural lainnya adalah fanatisme terhadap kampus berstatus negeri atau perguruan tinggi negeri (PTN) yang masih mengakar kuat di tengah masyarakat. "Berikutnya masyarakat kita masih PTN minded. Ketika kuliah inginnya di kampus negeri. Padahal Harvard, MIT, itu kampus swasta. Ketika tidak diterima di kampus karena kuota, maka tidak kuliah," tambah Samsuri.

Di sisi lain, Universitas Terbuka dinilai menjadi salah satu contoh institusi yang mampu membaca dinamika zaman secara adaptif dan futuristik dalam memperluas daya tampung mahasiswa.

"Dunia sudah berubah. Kampus UT sudah antisipasi lebih dahulu. Paling futuristik. Ketika masa covid, banyak kampus berupaya melakukan pembelajaran daring. Sementara UT sudah melaksanakan perkuliahan daring lebih dulu," sebutnya.

Pendidikan Tinggi Gratis

​Wacana pemerataan akses pendidikan tinggi dan skema perkuliahan tanpa biaya terus bergulir di tengah dorongan peningkatan APK.  Mengenai peluang pembebasan biaya kuliah bagi masyarakat luas, Samsuri menyatakan pihaknya sejalan dengan visi Presiden, Prabowo Subianto untuk membuka akses pendidikan tanpa beban biaya hingga jenjang sarjana.

Meski demikian, skema tersebut membutuhkan perhitungan anggaran yang cermat. "Kami sepakat dengan gagasan presiden supaya pendidikan sampai S1 itu gratis. Ada skema BOS di sekolah, di TK ada BOP. Kenapa perguruan tinggi tidak. Tapi perlu dikalkulasi menyesuaikan dengan kapasitas fiskal di Kemenkeu," kata Samsuri.

Merespons hal tersebut, perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh menegaskan perannya dalam skema pembiayaan pendidikan yang disiapkan negara. Wakil Rektor Bidang Akademik UT, Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., menyatakan, institusinya menyambut terbuka arah kebijakan tersebut, khususnya melalui pendekatan bantuan biaya studi atau beasiswa.

"Terkait kuliah gratis, saya lebih suka pakai istilah beasiswa. UT siap menjadi mitra pemerintah untuk menjalankan hal tersebut," jelas Rahmat.
 
UT 2
Suasana Seminar Wisuda UT. Foto: Medcom/Citra Larasati

Meski mendukung perluasan akses melalui skema beasiswa, Rahmat menegaskan bahwa keterbukaan akses tidak berarti mengabaikan mutu kelulusan. Ia memastikan proses evaluasi pembelajaran tetap berjalan dengan tolok ukur yang ketat demi menjaga standar kualitas pendidikan tinggi.

"Kami betul-betul menjaga muruah akademik. Kami apresiasi yang sudah wisuda. Karena memenuhi capaian kuliah. Di UT jika belum mencapai capaian mata kuliah, belum dapat lulus," tegasnya.

Menjawab tantangan kompetensi di pasar kerja, UT juga mengadopsi struktur pembelajaran yang adaptif. Rahmat memaparkan bahwa pembaruan materi ajar dapat dilakukan secara berkala tanpa harus tertahan siklus formal jangka panjang, sekaligus memberi ruang eksplorasi keilmuan bagi mahasiswa di semester lanjutan.

"Mata kuliah yang fleksibel. Tidak harus nunggu 5 tahun dievaluasi. Sehingga kurikulum sangat kaya. Sementara sekarang di semester 5 dan 7 untuk ambil mata kuliah di luar prodi, akan kaya wawasan," urai Rahmat.

Fleksibilitas model pembelajaran ini dinilai selaras dengan realitas zaman yang kini bersentuhan langsung dengan teknologi sejak usia dini. Menurut Rahmat, kesiapan menghadapi transformasi digital menjadi keniscayaan dalam ekosistem pendidikan saat ini.

"Saat ini dunia sudah berubah dengan cepat. Saat ini era digitalisasi. Bahkan anak TK sudah kenal gadget. Ini sudah bukan barang baru," ujarnya.

Menjelang prosesi wisuda, fase kelulusan mahasiswa sejatinya bukan sekadar penanda akhir masa studi akademik, melainkan momentum krusial untuk melompat lebih jauh ke dunia nyata. Mengukuhkan kesiapan sumber daya manusia (SDM) unggul, Universitas Terbuka (UT) menyelenggarakan Seminar Wisuda Tahun Akademik 2026/2027 Ganjil Wilayah 1 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Senin, 26 Oktober 2026.

Kegiatan pembekalan yang mengusung tema “Generasi Cerdas, Berintegritas, dan Siap Mendunia” ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UT, Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D. Acara ini dirancang untuk mematangkan visi ribuan calon lulusan agar mampu menjawab tantangan pascakampus yang kian dinamis.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan