Jakarta: Dokter sekaligus influencer bidang kesehatan Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta bakal kuliah S2 untuk kedua kalinya. Sebelumnya, Tirta sudah menuntaskan pendidikan S2 pertamanya di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk gelar Master of Business Administration pada 2024.
Tirta menjelaskan jika keputusan untuk kuliah S2 lagi di usia 35 tahun bukan semata-mata untuk mengejar gelar. Ia mengatakan ada rasa tanggung jawab yang mendorongnya untuk terus memperbarui pengetahuan, terutama karena dirinya diikuti banyak orang dari berbagai generasi melalui media sosial.
“Jawaban pertama adalah karena responsibilitas,” kata dr. Tirta melalui akun Instagram pribadinya @dr.tirta dikutip Rabu 16 September 2026.
Menurut dia, sebagai praktisi yang selama ini mempelajari bidang kesehatan sekaligus bisnis, dirinya merasa perlu terus memperbarui ilmu. Terlebih, berbagai informasi yang disampaikannya di media sosial turut menjadi rujukan bagi orang-orang yang mengikutinya.
“Kalau saya nggak update ilmu, maka rasanya kayak kasihan nanti yang ngikutin,” ujarnya.
Kali ini, dr. Tirta memilih melanjutkan pendidikan S2 di bidang public health atau kesehatan masyarakat di Universitas Gadjah Mada (UGM). Pilihan tersebut dinilai lebih sesuai dengan bidang yang selama ini digelutinya, terutama edukasi, promosi kesehatan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Dia menjelaskan aktivitasnya selama ini tidak hanya berkaitan dengan dunia medis. Tirta juga banyak bekerja sama dengan sejawat di bidang kesehatan maupun pihak dari sektor lain yang memiliki dampak terhadap edukasi kesehatan, termasuk influencer di bidang olahraga seperti gym dan lari.
“Selama ini kalian tahu bahwa saya itu bidang edukasi, promosi kesehatan, terus berkolaborasi dengan berbagai sejawat. Entah itu di bidang kesehatan atau yang di bidang non-kesehatan tapi masih berimpak dengan edukasi kesehatan,” jelasnya.
Ketertarikannya terhadap data dan statistik juga menjadi alasan lain memilih public health. Menurut Tirta, ilmu kesehatan masyarakat memiliki keterkaitan erat dengan hal-hal yang selama ini ingin dia dalami.
“Apalagi soal data dan statistik saya tuh suka. Nah itu alasan saya pengen membaca di situ,” tuturnya.
Lebih lanjut, Tirta juga menjelaskan alasan dirinya tidak memilih pendidikan dokter spesialis setelah mengantongi S1 kedokteran. Tidak mengambil pendidikan dokter spesialis Bukan karena tidak memiliki keinginan, melainkan pertimbangan waktu dan arah karier yang ingin dijalaninya.
Dia menyebut pendidikan spesialis membutuhkan waktu yang sangat panjang. Di sisi lain, pada usia 35 tahun, ia merasa pilihan melanjutkan pendidikan di bidang public health lebih sesuai dengan aktivitasnya saat ini.
“Kenapa kok nggak ambil spesialis? Jawabannya adalah karena spesialis itu membutuhkan jam waktu yang sangat panjang,” katanya.
Tirta juga menyinggung kondisi finansialnya saat ini sudah cukup stabil untuk kembali melanjutkan pendidikan. Karena itu, keputusan melanjutkan pendidikan bukan didorong kebutuhan untuk mengejar pekerjaan atau memperbaiki kondisi ekonomi.
“Saya sudah usia 35 tahun. Saya sudah, sebenarnya sudah freedom secara finance. Jadi udah stable alhamdulillah,” ujarnya.
Di samping itu, terdapat pertimbangan lain untuk memberikan kesempatan ke orang lain untuk menempuh studi spesialis. “Kalau saya ngambil spesialis tapi kalau prakteknya dikit kok, kayak kurang aja. Kursi itu bisa diambil orang yang lebih layak dan lebih menginginkan praktik di situ,” katanya.
Bagi Tirta, pendidikan lanjutan yang ditempuhnya memiliki tujuan yang lebih panjang. Dia ingin memperkuat kapasitasnya untuk mengajar, khususnya dalam bidang komunikasi kesehatan dan edukasi kesehatan.
Saat ini, dia mengaku masih terlibat dalam kegiatan mentoring mahasiswa S2 di SBM ITB serta menjadi dosen tamu di UGM. Karena itu, pendidikan public health yang akan ditempuhnya dianggap relevan dengan cita-cita akademiknya.
“Goal akhirnya tetap mengajar. Jadi sampai sekarang saya tuh masih jadi mentoring S2 di SBM dan saya masih menjadi dosen tamu, 'dosen panggilan' kalau istilah baratnya di UGM,” ungkapnya.
Tirta mengatakan dirinya ingin terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral. Baginya, proses belajar tidak berhenti hanya karena seseorang telah memiliki pekerjaan, karier, atau kondisi finansial yang mapan.
“Cita-cita saya tuh memang ngajar di bidang komunikasi kesehatan, di bidang edukasi kesehatan. Jadi memang akan sekolah terus sampai S3. Saya cita-citanya pengen ngambil tiga Master dulu. Baru nanti S3,” tegasnya.
Keseriusan Tirta mengambil S2 di Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKM) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk studi public health telah dibuktikanya dengan mengikuti rangkaian pendaftaran. Dalam video yang diunggahnya, ia mengaku baru saja pulang dari Tes TOEFL sebagai persyaratn pendaftaran.
"Alhamdulillah ini abis barusan saya tes TOEFL ya. Tapi nggak belajar sama sekali. Tapi ternyata tes TOEFL-nya masih dapat 550-an. Alhamdulillah ya. Terima kasih ini tes TOEFL-nya di UGM. Tinggal tes TPA aja," tutup dia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan