Kampus MM UGM. Foto: UGM
Kampus MM UGM. Foto: UGM

MM FEB UGM Tembus Top 200 Dunia di QS Global MBA Ranking 2027, Satu-satunya dari Indonesia

Citra Larasati • 18 September 2026 15:59
Ringkasnya gini..
  • MM FEB UGM cetak rekor tembus peringkat 191-200 dunia dan 27 Asia di QS Global MBA Ranking 2027.
  • MM UGM jadi satu-satunya program MBA Indonesia yang naik kasta berkat lonjakan skor keberagaman dan ROI.
  • Sinergi unik mahasiswa eksekutif di Jakarta dan jiwa riset di Jogja bikin program ini makin unggul global.
Jakarta: Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MM FEB UGM) kembali unjuk gigi di kancah global. Tahun ini, MM FEB UGM sukses menembus peringkat 191 - 200 dunia dari 423 program prestisius dalam ajang pemeringkatan bergengsi QS Global MBA Ranking 2027.

Di level Asia, posisi kampus ini juga meroket ke urutan 27 dari total 81 program. Lompatan ini menjadi kebanggaan tersendiri.

Pada edisi 2026, mereka masih bertengger di posisi 201–250 dunia dan 30 Asia. Kerennya lagi, MM FEB UGM sah menjadi satu-satunya program MBA asal Indonesia yang sukses naik peringkat di level dunia tahun ini!

Wakil Dekan FEB UGM Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Bayu Sutikno, Ph.D., menyambut positif prestasi luar biasa ini. “Kenaikan peringkat dalam QS Global MBA rankings 2027 yang diraih oleh Program Studi MM FEB UGM adalah yang yang sangat disyukuri dan membanggakan. Kami naik 1 band dari peringkat 201-250 dunia ke band 190-200 dunia. Di Asia, Prodi MM FEB UGM juga naik 3 peringkat dari ranking 30 ke ranking 27 Asia,” tuturnya dikutip dari laman UGM, Jumat, 18 September 2026. 

Keberhasilan ini membuktikan solidnya ekosistem pendidikan tinggi di FEB UGM yang diakui dunia. “Hal ini membuat MM FEB UGM satu-satunya Prodi dari Indonesia yang mampu menaikkan band peringkatnya dan memiliki kenaikan peringkat tertinggi yaitu 3 peringkat dibandingkan dengan sekolah bisnis lain yang ada di Indonesia,” tambahnya.

Meroket di Empat Indikator Utama

Naiknya peringkat ini didorong oleh rapor mentereng di berbagai metrik penilaian. QS Global MBA Ranking menggunakan lima indikator, yakni Employability, Return on Investment (ROI), Entrepreneurship and Alumni Outcomes, Thought Leadership, serta Class and Faculty Diversity.

Hebatnya, empat dari lima metrik ini melesat tajam dibanding capaian tahun 2025. Lonjakan paling signifikan terjadi di aspek keberagaman (Class and Faculty Diversity) yang meroket 11,1 poin menjadi 75,2. Indikator ROI juga naik tajam 10,2 poin ke angka 41,7.

Sementara itu, skor prospek kerja (Employability) dan kewirausahaan turut menghijau. Menanggapi pencapaian kolektif ini, Bayu menegaskan, “Tentunya ini hasil kerja keras dan kesolidan sivitas akademika bersama mahasiswa, alumni dan semua mitra nasional dan internasional,”.

Satu hal yang paling menonjol adalah skor Entrepreneurship and Alumni Outcomes. Dengan poin 60,9, MM FEB UGM mantap duduk di peringkat 72 dunia dan 13 Asia. Rahasianya terletak pada cara mereka meracik kurikulum: jiwa wirausaha tidak hanya dijejalkan lewat satu mata kuliah khusus, melainkan menjadi denyut nadi di seluruh materi pembelajaran.

Ketua Program Studi MM FEB UGM Kampus Yogyakarta, Prof. Amin Wibowo, membeberkan strateginya. “Kami memilih untuk tidak menempatkan kewirausahaan hanya sebagai satu konsentrasi. Ia menjadi semangat di seluruh mata kuliah, bersama kepemimpinan dan keberlanjutan. Skor 60,9 dan peringkat 72 dunia pada indikator kewirausahaan menunjukkan pilihan itu terbaca oleh penilai internasional,” ungkapnya.

Praktiknya, mahasiswa benar-benar diajak hands-on membedah persoalan riil. Mulai dari menguji kelayakan usaha startup, mengulik proposisi nilai, hingga simulasi ambil keputusan strategis di situasi bisnis yang penuh ketidakpastian.

MM FEB UGM
Kampus MM FEB UGM. Foto: UGM

Sinergi Dua Kampus Jadi Senjata Rahasia

Faktor penentu lainnya adalah kolaborasi ciamik antara dua lokasi operasional: Kampus Yogyakarta dan Kampus Jakarta. Keduanya punya profil peserta yang sangat kontras. Di Jakarta, bangku kuliah didominasi para eksekutif dan profesional sarat pengalaman. Sementara di Yogyakarta, mahasiswanya banyak diisi talenta muda dengan daya analitis dan riset yang segar.

Dua dunia ini diracik menjadi ajang pertukaran insight lintas generasi lewat kuliah tamu gabungan, mentoring, hingga kompetisi studi kasus.

Ketua Program Studi MM FEB UGM Kampus Jakarta, Prof. Gugup Kismono, menjelaskan bahwa tren positif ini murni hasil orkestrasi tim yang terstruktur. “Kenaikan ini milik program, bukan milik satu kampus. Arah perbaikannya ditetapkan bersama Departemen Manajemen dan Dekanat FEB UGM, dan dikerjakan setiap hari oleh pengelola, dosen, dan staf di Yogyakarta maupun Jakarta, dengan dukungan mahasiswa dan alumni. Yang kami lihat pada angka QS adalah pola tiga tahun yang konsisten naik, bukan lompatan sesaat,” jelasnya.

Menurutnya, perbedaan demografi mahasiswa justru melahirkan ruang diskusi yang kaya. “Perbedaan profil peserta di kedua kampus justru menjadi kekuatan. Eksekutif senior di Jakarta membuka wawasan praktik bagi lulusan baru di Yogyakarta, dan sebaliknya kesegaran cara berpikir peserta muda menantang asumsi yang sudah mapan. Itu tumbuh dari keputusan menjalankan satu program di dua kota,” lanjut Gugup.
 

Belajar Langsung dari Jantung Industri

Lokasi Kampus Jakarta yang strategis di episentrum bisnis nasional juga dimanfaatkan sebagai katalis. Kedekatan dengan top tier korporasi memastikan materi kuliah selalu relate dengan problematika industri masa kini.

“Kerja sama dengan dunia industri memberi kami bahan yang tidak bisa dihasilkan sendiri di ruang kelas. Penulisan kasus perusahaan Indonesia dan penelitian bersama membuat dosen tetap berpijak pada persoalan nyata, dan membuat mahasiswa berlatih pada situasi yang benar-benar dihadapi manajer. Perspektif praktis itu sama pentingnya dengan ketajaman teori, baik bagi pengajar maupun bagi lulusan,” papar Gugup.

Resolusi Mengejar Top Tier Global

Meski sudah menembus level elite dunia, pengelola program menolak berpuas diri. Target selanjutnya adalah mendongkrak skor Employability dan ROI, mengingat dua indikator ini menyumbang 60 persen dari total penilaian QS. Strateginya mencakup pemolesan layanan karier kelas dunia dan ekspansi jejaring kerja.

“Untuk makin meningkatkan posisi yang saat ini diraih, Prodi MM FEB UGM akan makin mengintensifkan jejaring nasional dan internasional untuk meningkatkan aspek employability selain updating desain dan muatan kurikulum yang dilakukan secara terstruktur dengan mengintegrasikan aspek sustainability dan teknologi terkini,” janji Bayu.

Ekspansi internasional pun akan digenjot sebagai motor inovasi, bukan sekadar pelengkap portofolio.

“Kerja sama internasional tidak kami perlakukan sebagai pelengkap. Kemitraan dengan sekolah bisnis mancanegara, kelas bersama, dan pertukaran mahasiswa memperluas jejaring, sekaligus memaksa kami membandingkan cara berpikir sendiri dengan cara berpikir orang lain. Dari situ tumbuh keterbukaan terhadap kritik, dan keterbukaan itulah yang membuat perbaikan mutu berjalan terus-menerus, tidak berhenti setelah satu capaian,” pungkas Amin.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan