KTJI 2026. Foto: Medcom.id/Adinda Kinanthi
KTJI 2026. Foto: Medcom.id/Adinda Kinanthi

Duh! 70 Persen Jurnal Ilmiah Masih Numpuk di SINTA 4 dan 5, KTJI Soroti Kualitas

Citra Larasati • 03 November 2026 07:05
Ringkasnya gini..
  • Hanya sekitar 1,5 persen jurnal terakreditasi masuk SINTA 1. KTJI 2026 dorong peningkatan kualitas dan integritas publikasi ilmiah nasional.
  • KTJI 2026 menghadirkan tujuh penerbit internasional untuk memperkuat tata kelola jurnal, visibilitas riset, dan reputasi publikasi Indonesia.
  • Sembilan jurnal terbaik dari bidang STEM, Soshum, dan Multidisiplin akan menerima penghargaan dalam KTJI 2026 di Surabaya.
Jakarta: Kualitas publikasi ilmiah nasional masih menjadi pekerjaan rumah bagi ekosistem riset dan pendidikan tinggi Indonesia. Berdasarkan jumlah misalnya, dari 16 ribu jurnal ilmiah yang telah terakreditasi, hanya sekitar 200 jurnal yang berada pada peringkat SINTA 1.

Kondisi ini menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KTJI) 2026. KTJI 2026 akan diselenggarakan pada Senin, 9 November 2026, pukul 08.00–17.00 WIB di Universitas Ciputra Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat ekosistem publikasi ilmiah nasional, meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal, serta menjaga integritas dan kredibilitas akademik.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menjelaskan Indonesia saat ini memiliki sekitar 29.076 jurnal ilmiah. Berdasarkan jumlah tersebut, sekitar 16 ribu jurnal telah terakreditasi.

Namun, distribusi kualitas jurnal masih didominasi oleh peringkat SINTA 4, 5, dan 6. "Kalau kita cermati, sekitar 70 persen jurnal kita itu berada di SINTA 4, 5, dan 6. Sementara yang SINTA 1 hanya sekitar 200-an atau sekitar 1,5 persen dari jumlah jurnal terakreditasi," jelasnya dalam acara Taklimat Media KSTI, KPPTI, dan KTJI, di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin, 2 November 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan, peningkatan jumlah jurnal ilmiah perlu diimbangi dengan penguatan kualitas pengelolaan, standar penerbitan, dan integritas penelitian. Oleh karena itu, KTJI 2026 diarahkan untuk membangun ekosistem produksi pengetahuan yang lebih berkualitas dan memiliki daya saing internasional.

Perkuat Tata Kelola dan Integritas Jurnal

Penyelenggaraan KTJI 2026 menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat profesionalisasi produksi pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi Indonesia. Pembahasannya mencakup peningkatan akreditasi jurnal, berbagai persoalan integritas akademik, termasuk plagiarisme, praktik penerbitan jurnal yang tidak kredibel, serta kualitas karya ilmiah yang diterbitkan.

Indonesia perlu membangun ekosistem publikasi ilmiah yang mampu menjamin kredibilitas hasil penelitian sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap karya akademik nasional.

"Intinya, kegiatan kita lebih banyak berkaitan dengan produksi pengetahuan, komunitas akademik, pengelola jurnal, perpustakaan, dan asosiasi ilmuwan," ungkap Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, dalam acara Taklimat Media KSTI, KPPTI, dan KTJI, di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin, 2 November 2026.

Melalui konvensi ini, peserta akan mendapatkan pembahasan mengenai regulasi akreditasi jurnal ilmiah, tata kelola proses akreditasi, serta standar pengelolaan jurnal yang baik.

Salah satu agenda utama adalah peluncuran regulasi baru terkait akreditasi jurnal ilmiah, yakni Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penguatan tata kelola dan standar akreditasi publikasi ilmiah nasional.

Hadirkan Penerbit Internasional

Untuk memperkuat kualitas dan visibilitas jurnal Indonesia di tingkat global, KTJI 2026 juga menghadirkan sejumlah penerbit internasional ternama. Beberapa penerbit yang dijadwalkan berpartisipasi antara lain Taylor & Francis, SAGE, iGroup Asia Pacific, Emerald, Elsevier, Wiley, dan Springer.

Kehadiran penerbit internasional tersebut akan diisi dengan berbagai sesi diskusi yang membahas strategi meningkatkan kualitas penerbitan, visibilitas jurnal, dampak penelitian, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam industri publikasi ilmiah.

Sejumlah topik yang akan dibahas di antaranya:
  • Taylor & Francis membahas penguatan kepercayaan, dampak, dan visibilitas global jurnal pada era AI.
  • SAGE menghadirkan pembahasan mengenai integritas dan perkembangan penerbitan ilmiah.
  • iGroup Asia Pacific mengangkat topik pengembangan hasil riset menuju dampak global melalui kepercayaan, visibilitas, dan pemanfaatan AI yang bertanggung jawab.
  • Elsevier membahas peran editor dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.
  • Emerald mengulas strategi jurnal Indonesia meningkatkan visibilitas, sitasi, dan pengakuan internasional tanpa mengabaikan integritas penelitian.
KTJI 2026 juga menyediakan coaching clinic penerbitan internasional. Fasilitas ini diharapkan membantu pengelola jurnal memahami standar penerbitan global dan mempersiapkan jurnal nasional agar mampu meningkatkan reputasinya di tingkat internasional.

(Adinda Kinanthi) 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan