Pentas seni di Trip Observasi SMA Labschool Kebayoran. Foto: SMA Labschool Kebayoran
Pentas seni di Trip Observasi SMA Labschool Kebayoran. Foto: SMA Labschool Kebayoran

Bukan Sekadar Tugas, Intip Keseruan Trip Observasi SMA Labschool Kebayoran 2026

Citra Larasati • 28 September 2026 15:15
Ringkasnya gini..
  • ​299 siswa SMA Labschool Kebayoran ikuti Trip Observasi 2026 di Subang, ubah desa jadi laboratorium kehidupan nyata.
  • Program ini sukses asah empati, kepemimpinan, dan wawasan global Gen Z melalui nilai-nilai kearifan lokal Nusantara.
  • Siswa tak sekadar belajar teori, tapi mempraktikkan langsung 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat bersama warga setempat.
Jakarta: Sebanyak 299 siswa SMA Labschool Kebayoran berani keluar dari zona nyaman dengan memindahkan 'ruang kelas' mereka ke Dusun Arjasari, Desa Cikujang, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Lewat agenda tahunan Trip Observasi (TO) yang digelar pada 24  - 28 September 2026, para pelajar diajak menyelami langsung realitas kehidupan masyarakat desa.

Mengangkat tema “Meningkatkan Wawasan Global Berbingkai Indonesia dan Semangat Kearifan Lokal”, TO tahun ini membuktikan bahwa wawasan kelas dunia tak melulu harus dicari ke luar negeri. Cukup dengan membumi di Nusantara, generasi muda bisa belajar banyak hal tentang keragaman, empati, dan gotong royong.

Sejak diinisiasi pada 2001, program ini terus bertahan sebagai tradisi apik yang memposisikan kehidupan nyata sebagai laboratorium edukasi paling efektif. Kepala SMA Labschool Kebayoran, Dr. Suparno, S.Pd., M.M., menegaskan bahwa kegiatan ini adalah esensi nyata dari konsep Pembelajaran Mendalam.

“Trip Observasi merupakan laboratorium kehidupan. Anak-anak tidak hanya belajar tentang kehidupan, tetapi mengalami kehidupan itu sendiri. Mereka belajar menggunakan ilmu dengan landasan iman dan mewujudkannya melalui amal yang memberikan manfaat,” ujar Suparno dikutip dari siaran persnya, di Jakarta, Senin, 28 September 2026.
 
PENELITIAN(1)
Trip Observasi SMA Labschool Kebayoran di Subang. Foto: SMA Labschool Kebayoran
 

Dari Riset Desa hingga Pentas Seni

Selama lima hari penuh, ratusan pelajar ini digembleng lewat serangkaian program yang terstruktur dan jauh dari kata membosankan. Mulai dari Pengenalan Kehidupan Desa (PKD) yang memaksa mereka membaur dengan warga, hingga Pengetahuan Dasar Penelitian (PDP) di mana siswa ditantang melakukan riset sosial sederhana langsung di lapangan.

Tak ketinggalan, ada sesi Lintas Budaya, Pentas Seni untuk unjuk kreativitas, serta Penjelajahan alam yang dirancang khusus untuk mengukur nyali, ketangguhan fisik, dan kekompakan tim.

Menariknya, rutinitas di Cikujang ini juga menjadi ajang implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH). Mulai dari bangun pagi, beribadah, makan bergizi, gemar belajar, hingga bermasyarakat, semuanya dipraktikkan langsung di tengah kesederhanaan warga. Pesan mendalam pun disematkan kepada seluruh peserta.

“Datanglah ke masyarakat sebagai pembelajar: amati dengan rendah hati, dengarkan dengan empati, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan pulanglah dengan membawa perubahan dalam diri,” ujarnya.
   

Wawasan Global Berakar Lokal

Pengalaman membumi di Dusun Arjasari ini menjadi fondasi krusial bagi siswa sebelum mereka merambah kancah internasional. Mereka didorong untuk menyadari bahwa kearifan lokal bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan kekuatan identitas yang vital saat bersaing di era keterbukaan.

Dari masyarakat desa, mereka membuktikan bahwa gotong royong dan empati adalah kunci sukses lintas budaya.  Pada akhirnya, tolok ukur kesuksesan Trip Observasi ini bukan dinilai dari tebalnya laporan atau ribuan foto estetis untuk media sosial, melainkan dari transformasi karakter setiap individu.

“Harapan kami, anak-anak tidak sekadar pulang membawa cerita dan pengalaman. Mereka pulang sebagai pribadi yang lebih mandiri, disiplin, peduli, sehat, mampu bekerja sama, berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Itulah makna pembelajaran yang sesungguhnya: pengalaman yang tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi menjadi karakter dan kebiasaan dalam kehidupan,” lanjut Suparno.

Perjalanan lima hari di pelosok Subang pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar tur edukasi. Ini adalah transisi pembentukan mental di mana dari pedesaan Indonesia, siswa Labschool bersiap menatap dunia, dan kelak dari dunia, mereka kembali untuk memberi makna bagi Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan