Momen tersebut terlihat dalam video yang diunggah akun Instagram @sandifirmanto. Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan, “Ketika guru Gen Z jadi pembina upacara,” yang kemudian memperlihatkan aksi sang guru saat memberikan amanat di hadapan para siswa.
Alih-alih hanya menyampaikan pesan secara verbal, guru tersebut membuat para siswa terlibat langsung dalam sebuah simulasi sederhana.
Guru Ajak Siswa Ambil Kesempatan
Dalam video tersebut, sang guru terlihat berdiri di depan para siswa sambil mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya. Ia kemudian menawarkan uang tersebut kepada para siswa.“Ada yang mau? Silakan.”
Seorang siswa laki-laki kemudian memberanikan diri maju ke depan dan mengambil uang yang ditawarkan gurunya.
Sang guru lalu menjadikan momen tersebut sebagai bagian dari pesannya. Ia mengatakan, dari sekian banyak siswa yang menginginkan uang tersebut, hanya satu orang yang benar-benar melakukan aksi dengan maju dan mengambil kesempatan tersebut.
Setelah itu, ia kembali memberikan simulasi serupa kepada para siswa. Guru tersebut kembali menawarkan kesempatan, tetapi kali ini situasinya dibuat berbeda.
Ketika seorang siswa mulai maju untuk mengambil kesempatan yang diberikan, sang guru justru menyimpan kembali uang tersebut ke dalam sakunya.
“Tapi sayangnya kesempatan tidak datang dua kali, dan kalian yang menyia-nyiakan kesempatan itu.”
Kesempatan Datang kepada yang Terus Berusaha
Guru tersebut kemudian memberikan kesempatan untuk terakhir kalinya. Ia kembali mengeluarkan uang sambil bertanya kepada para siswa apakah ada yang menginginkannya.Kali ini, seorang siswa laki-laki maju ke depan dan mengambil uang tersebut. Siswa itu kemudian bersalaman dengan sang guru sebelum kembali ke tempatnya.
Sang guru pun memberikan uang tersebut sembari mengatakan, “Silakan.”
Ia kemudian menyampaikan inti dari amanatnya kepada para siswa.
“Kesempatan memang tidak datang dua kali, tapi kesempatan selalu datang kepada orang yang tidak mau berhenti berusaha.”
Pesan tersebut sekaligus menjadi penutup amanat sang guru sebelum mengakhiri penyampaiannya dengan permintaan maaf apabila terdapat kekurangan dan kesalahan.
Cara penyampaian yang dilakukan guru tersebut membuat amanat upacara tidak hanya berisi nasihat, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Melalui simulasi sederhana itu, siswa diajak memahami bahwa kesempatan perlu dikenali dan dimanfaatkan ketika datang.
Unggahan tersebut pun memperlihatkan pendekatan berbeda yang dilakukan seorang guru muda dalam menyampaikan pesan kepada siswa, dengan melibatkan mereka secara langsung dalam prosesnya.
(Ellen Octovia Suherman)