Mencari nafkah, menyuapi istri, membantu pekerjaan rumah, hingga menyambut keluarga dengan wajah ramah mungkin terlihat sebagai rutinitas biasa. Namun, dalam ajaran Islam, perbuatan tersebut tidak selalu sekadar urusan duniawi. Ada pahala yang dapat diperoleh ketika seorang suami menjalankannya sebagai bentuk tanggung jawab dan upaya mencari rida Allah subhanahu wa ta a'la.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahkan memberikan teladan bahwa ukuran kebaikan seorang laki-laki juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya.
Lantas, apa saja amalan sederhana seorang suami yang sering dianggap remeh, tetapi memiliki nilai pahala besar?
1. Memberi nafkah kepada istri dan anak dengan niat ibadah
Bekerja mencari nafkah sering kali dianggap sebagai kewajiban rutin seorang suami. Setiap hari berangkat pagi, pulang sore, menghadapi kemacetan, atau bekerja di bawah tekanan demi memenuhi kebutuhan keluarga.Namun, seorang suami perlu memahami bahwa nafkah yang diberikan kepada keluarga dapat bernilai sedekah apabila diniatkan karena Allah.
Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seorang laki-laki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharapkan pahala, maka nafkah itu menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga bukan hanya aktivitas mencari uang. Ada nilai ibadah di dalamnya selama dilakukan dengan cara yang halal dan disertai niat mengharap pahala dari Allah.
Bahkan, dalam hadis lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala dari setiap harta yang dikeluarkan untuk mencari rida Allah, termasuk makanan yang disuapkan ke mulut istrinya.
Artinya, seorang suami tidak perlu menunggu memiliki banyak uang untuk bersedekah. Menyediakan makanan, membelikan kebutuhan istri, dan memenuhi keperluan anak pun dapat menjadi ladang pahala.
2. Menyuapi istri, meskipun hanya sesuap makanan
Ada satu gambaran menarik dalam hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang pahala yang bisa diperoleh dari tindakan sederhana kepada istri.Dari Sa'ad bin Abi Waqqash, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa seseorang tidak mengeluarkan infak demi mengharap rida Allah melainkan akan diberi pahala, bahkan makanan yang diletakkan di mulut istrinya.
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memperlihatkan bahwa perhatian kepada istri tidak harus diwujudkan melalui hadiah mahal atau perjalanan mewah. Tindakan kecil seperti menyuapi istri ketika makan pun memiliki nilai kebaikan.
Tentu, yang menjadi kunci bukan semata-mata gerakan menyuapkan makanan, melainkan niat dan kasih sayang yang menyertainya.
Suami yang menyuapi istrinya dengan penuh perhatian, misalnya ketika istri sedang lelah atau sakit, sedang menunjukkan kepedulian dalam kehidupan rumah tangga.
Hal sederhana yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik itu bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan ikhlas.
3. Memperlakukan istri dengan ramah dan tidak menyakitinya
Bersikap lembut kepada istri sering dianggap sebagai hal biasa dalam kehidupan rumah tangga. Padahal, Islam memberikan perhatian besar terhadap akhlak seorang suami kepada keluarganya.Allah subhanahu wa ta a'la berfirman dalam Al-Qur'an:
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19).
Ayat tersebut menjadi pedoman agar suami memperlakukan istri dengan cara yang baik, tidak menyakiti, serta menjaga hak-haknya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”
(HR. Tirmidzi).
Dalam penjelasan mengenai kewajiban suami, Rumaysho menekankan bahwa bergaul secara ma'ruf antara lain berarti tidak menyakiti istri, memenuhi haknya, serta menampakkan wajah yang ramah dan ceria di hadapannya.
Karena itu, menyapa istri dengan baik, mendengarkan ceritanya, tidak membentak, dan menjaga ucapan merupakan bagian dari akhlak yang perlu dibiasakan.
Jangan sampai seorang suami mampu bersikap ramah kepada orang lain, tetapi justru mudah marah kepada orang-orang yang paling dekat dengannya.
4. Membantu pekerjaan rumah tangga
Sebagian orang masih menganggap pekerjaan rumah sepenuhnya menjadi urusan istri. Akibatnya, suami merasa tidak perlu ikut membantu mencuci piring, merapikan tempat tidur, menyapu, atau menjaga anak.Padahal, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan teladan yang berbeda.
Ketika Aisyah RA ditanya tentang aktivitas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di rumah, ia menjelaskan bahwa beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya. Ketika waktu salat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan salat.
(HR. Bukhari).
Teladan ini menunjukkan bahwa kesibukan sebagai kepala keluarga tidak membuat seorang suami kehilangan kesempatan untuk membantu pekerjaan rumah.
Membantu istri membereskan rumah, mengangkat jemuran, menyiapkan makanan, atau menjaga anak ketika istri beristirahat mungkin terlihat sebagai kegiatan sederhana. Namun, tindakan tersebut mencerminkan kepedulian dan akhlak yang baik.
Tidak perlu menunggu istri meminta bantuan. Suami dapat mengambil inisiatif untuk meringankan pekerjaan rumah tangga sesuai kemampuan dan keadaan.
5. Meluangkan waktu untuk istri dan anak
Mencari nafkah memang penting. Namun, kehidupan keluarga tidak hanya membutuhkan uang. Istri dan anak juga membutuhkan perhatian, komunikasi, serta kehadiran seorang suami dan ayah.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan bahwa tubuh dan keluarga memiliki hak yang harus dipenuhi.
Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan kepada Abdullah bin Amr bahwa tubuhnya memiliki hak, matanya memiliki hak, dan istrinya juga memiliki hak.
Hadis tersebut menjadi pengingat agar seseorang tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk satu urusan, termasuk pekerjaan, hingga melupakan hak keluarga.
Meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita istri, menemani anak belajar, mengajak keluarga makan bersama, atau sekadar berbincang sebelum tidur merupakan bentuk perhatian yang penting.
Apabila dilakukan dengan niat menjaga keharmonisan dan menunaikan tanggung jawab keluarga, kegiatan sederhana itu dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.
6. Menjaga hubungan intim dengan istri sebagai ibadah
Hubungan suami istri bukan semata-mata pemenuhan kebutuhan biologis. Dalam Islam, hubungan yang halal antara pasangan juga dapat bernilai sedekah.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menjelaskan bahwa hubungan intim seseorang dengan pasangannya pun mengandung pahala.
Para sahabat bertanya, apakah seseorang mendapatkan pahala ketika memenuhi syahwatnya? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jika hal itu dilakukan melalui jalan yang haram, ia berdosa. Sebaliknya, jika dilakukan melalui jalan yang halal, ia memperoleh pahala.
(HR. Muslim).
Hadis ini memberikan pemahaman bahwa kehidupan rumah tangga, termasuk hubungan intim, dapat menjadi bagian dari ibadah.
Karena itu, seorang suami hendaknya tidak memandang hubungan dengan istri hanya dari sisi pemenuhan keinginannya sendiri. Perhatian, kasih sayang, dan pemenuhan hak pasangan juga perlu dijaga.
7. Mengucapkan kata-kata baik kepada istri
Ucapan yang baik terkadang dianggap tidak memiliki nilai istimewa karena mudah dilakukan. Padahal, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan bahwa perkataan baik merupakan sedekah.Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa setiap kebaikan adalah sedekah.
Mengucapkan terima kasih kepada istri, memuji masakannya, menanyakan kabarnya, atau mengatakan bahwa suami menghargai kerja kerasnya merupakan contoh sederhana.
Sebaliknya, ucapan kasar, merendahkan, dan menyakitkan dapat melukai perasaan orang yang mendengarnya.
Seorang suami tidak harus selalu memberikan hadiah untuk membuat istrinya merasa dihargai. Terkadang, kalimat sederhana yang tulus justru memiliki arti besar.
Amalan Kecil, Pahala Besar
Kehidupan rumah tangga menyediakan banyak kesempatan bagi seorang suami untuk mengumpulkan pahala. Tidak semuanya membutuhkan biaya besar, waktu khusus, atau kemampuan yang luar biasa.Memberi nafkah, menyuapi istri, membantu pekerjaan rumah, menjaga ucapan, dan meluangkan waktu untuk keluarga adalah contoh kebaikan yang dapat dilakukan dalam keseharian.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diingat: niat memiliki peran besar dalam menentukan nilai ibadah. Rutinitas yang dilakukan semata-mata sebagai kebiasaan belum tentu memiliki nilai yang sama dengan perbuatan yang disertai niat mencari rida Allah.
Karena itu, seorang suami dapat memulai dari hal-hal sederhana. Bekerja dengan jujur, memperlakukan istri dengan baik, tidak mengabaikan anak, serta menjadikan rumah sebagai tempat menebarkan kasih sayang.
Sebab, menjadi suami yang baik bukan hanya tentang seberapa besar penghasilan atau seberapa banyak harta yang diberikan. Lebih dari itu, seorang suami juga dinilai dari tanggung jawab, akhlak, dan kebaikan yang ia hadirkan bagi keluarganya.