TKA SMA. Foto: Meddcom.id/Ilham Pratama Putra
TKA SMA. Foto: Meddcom.id/Ilham Pratama Putra

Hasil TKA Matematika Rendah, Pola Belajar di Kelas Harus Dibenahi!

Renatha Swasty • 19 Mei 2026 14:27
Ringkasnya gini..
  • Nilai TKA Matematika rendah menunjukkan pola pembelajaran di banyak sekolah masih belum menyentuh kemampuan berpikir siswa.
  • Masih banyak pembelajaran yang hanya berisi rumus dan latihan soal berulang.
  • Anak akhirnya terbiasa menghafal cara cepat, tetapi tidak benar-benar memahami konsep.
Jakarta: Nilai rata-rata hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA mata pelajaran Matematika 36,10 dan Bahasa Inggris 24,93 mesti menjadi alarm agar cara belajar di kelas perlu dibenahi. Khusus pada rendahnya nilai Matematika menunjukkan pola pembelajaran di banyak sekolah masih belum menyentuh kemampuan berpikir siswa.
 
“Masih banyak pembelajaran yang hanya berisi rumus dan latihan soal berulang. Anak akhirnya terbiasa menghafal cara cepat, tetapi tidak benar-benar memahami konsep,” ujar Ketua Umum Organisasi Pendidikan Guru Matematika Nusantara, Moch. Fatkoer Rohman, dalam keterangan tertulis dikutip Selasa, 19 Mei 2026. 
 
Menurut dia, kondisi ini membuat siswa kesulitan ketika menghadapi soal yang membutuhkan logika, analisis, dan penalaran. Padahal, kemampuan itulah yang diukur dalam TKA.

Ia mencontohkan masih ditemukannya siswa SMA mengandalkan hitungan jari untuk operasi dasar. Hal ini menjadi tanda bahwa persoalan pemahaman konsep sebenarnya sudah terjadi sejak jenjang awal dan terus terbawa hingga tingkat menengah. 
 
“Kalau fondasi numerasinya tidak kuat sejak SD, dampaknya akan terus terbawa. Di SMA akhirnya siswa kesulitan memahami materi yang lebih kompleks,” jelas dia.
 
Fatkoer menegaskan TKA seharusnya tidak direspons dengan memperbanyak drilling soal semata. Ia mengingatkan fokus utama tetap harus pada perubahan proses belajar di kelas. 
 
“TKA itu alat ukur, bukan tujuan akhir. Yang perlu dibenahi adalah proses pembelajarannya. Siswa harus diajak berpikir, berdiskusi, mencoba, dan menemukan konsep, bukan hanya menghafal jawaban,” tegas dia.
  Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Surabaya, Iva Afiati Rahma, mengungkapkan hasil TKA membantu sekolah membaca kondisi pembelajaran lebih terukur. Sebab, data capaian siswa dapat dibandingkan dengan rata-rata nasional. 
 
“Dari hasil TKA, kami bisa melihat mata pelajaran mana yang perlu perhatian lebih serius. Ini membantu guru melakukan evaluasi yang lebih objektif dan berbasis data,” ujar dia.
 
Di SMAN 1 Surabaya, hasil TKA tidak berhenti sebagai laporan angka. Sekolah menjadikannya dasar untuk menyusun langkah perbaikan, mulai dari klinik belajar bagi siswa yang membutuhkan pendampingan tambahan, evaluasi metode pengajaran, hingga pelatihan guru untuk memperkuat pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif.
 
Kolaborasi antar guru juga diperkuat agar evaluasi tidak berjalan sendiri-sendiri di tiap kelas, melainkan menjadi gerakan perbaikan bersama di tingkat sekolah. Selain itu, hasil TKA turut disosialisasikan kepada orang tua agar mereka dapat melihat perkembangan belajar anak secara lebih jelas. Dampaknya, keterlibatan orang tua dalam mendampingi proses belajar siswa ikut meningkat.
 
“TKA bukan untuk menghakimi guru atau siswa dari angka semata, tetapi menjadi dasar untuk melihat apa yang perlu diperbaiki bersama,” tegas Iva.
 
Pemanfaatan hasil TKA secara terbuka mulai mendorong perubahan cara pandang sekolah terhadap evaluasi belajar. Apabila sebelumnya fokus pembelajaran sering berhenti pada penyelesaian materi dan persiapan ujian, kini sekolah didorong lebih serius membangun kemampuan berpikir, bernalar, dan memahami konsep secara utuh.
 
Pada akhirnya, tantangan pendidikan hari ini bukan hanya membuat siswa bisa menjawab soal, tetapi memastikan mereka benar-benar memahami apa yang dipelajari.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA