Founder Mata Garuda, Rinatania Anggraeni. DOK Metro TV
Founder Mata Garuda, Rinatania Anggraeni. DOK Metro TV

Mata Garuda: Enggak Semua Alumni LPDP Kayak Dwi Sasetyaningtyas

Ilham Pratama Putra • 24 Februari 2026 11:43
Ringkasnya gini..
  • Tidak semua penerima beasiswa LPDP memiliki sikap seperti Tyas dan Arya.
  • Banyak alumni LPDP yang telah berjuang dalam memberikan kontribusi untuk Indonesia.
  • Banyak juga alumni LPDP yang bergabung dengan lembaga internasional, seperti IMF, World Bank dan bekerja di lintas sektor.
Jakarta: Founder Mata Garuda, Rinatania Anggraeni, mengecam perilaku alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Dwi Sasetyaningtyas serta suaminya, Arya Iwantoro. Keduanya dinilai telah merendahkan negara dan tak menjalankan kewajiban kontribusi sebagai penerima beasiswa LPDP.
 
"Saya mengecam dari statement Mbak DS," kata Rina dalam Top News Metro TV dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
 
Rina mengatakan perilaku Tyas dan Arya tak bisa digeneralisir. Tidak semua penerima beasiswa LPDP memiliki sikap seperti Tyas dan Arya. Hal itu dia lihat dalam Mata Garuda yang juga wadah resmi ikatan alumni LPDP.

"Jadinya asumsi publik itu bahwa seolah-oalah semua alumni LPDP seperti itu," tutur dia. 
 
Padahal, banyak alumni LPDP yang telah berjuang dalam memberikan kontribusi untuk Indonesia. Mereka menjalankan kewajiban kontribusi selama dua kali masa studi ditambah satu tahun (2n+1).
 
"Kami sama-sama bekerja untuk Indonesia dengan berbagai cara," ujar alumni LPDP tahun 2013 itu.
 
Rina menyebut banyak alumni LPDP yang bergabung dengan lembaga internasional, seperti IMF, World Bank dan bekerja di lintas sektor.
 
"Ada yang sampai ke Papua, Aceh segala macam. Kekhawatiran kami sebagai alumni itu kasus ini kemudian menghilangkan kontribusi alumni lainnya karena dianggap 'wah berarti alumni LPDP kayak gini semua'," ujar dia. 
 
Kontrovesi ini bermula dari pernyataan Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas yang bangga anaknya mendapat kewarganegaraan Inggris. Namun, amarah publik terpantik karena ia mengucapkan: "I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat,".
 
Pernyataan Tyas mendapat kecaman dari warga net, pasalnya ia bisa berada di luar negeri atas bantuan pendidikan dari LPDP yang merupakan uang dari pajak rakyat. Warga net lalu mengulik kehidupan Tyas. 
 
Rupanya, suaminya juga merupakan penerima LPDP dan belum menjalankan kewajiban kontribusi di Indonesia setelah lulus studi. 
 
Belakangan, Tyas meminta maaf atas ucapannya. Dia menyadari kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai WNI.
 
Untuk itu, Tyas mengakui kesalahannya dan memahami dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawabnya. "Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi," tulis Tyas di akun Instagramnya @sasetyaningtyas.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan