Jakarta: Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo (Nino), menyebut pihaknya menciptakan Kurikulum Merdeka melanjutkan semangat dan niat yang sudah tercermin dalam kurikulum yang sudah ada. Nino menyebut melalui Kurikulum Merdeka hal itu dibuat lebih serius.
Dia menuturkan sekolah tak cuma penting untuk mengejar pendidikan holistik, tapi juga karakter, spiritualitas, tata nilai, dan kualitas anak. Selama ini sekolah mesti mencari-cari waktu untuk mengajarkan perkembangan karakter anak lantaran mata pelajaran habis untuk mengejar target kurikulum.
"Di Kurikulum Merdeka ada 20-30 persen jam pelajaran untuk pengembangan karakter. Sebelumnya, seolah-olah harus mencuri waktu di luar jam pelajaran. Pengembangan karakter manfaatnya lebih besar. Di Kurikulum Merdeka ada jam khusus, jadi nggak usah khawatir cari-cari waktu," kata Nino dalam Sapa GTK Episode 2 dikutip dari YouTube Ditjen GTK Kemendikbud RI, Kamis, 31 Maret 2022.
Nino menyebut pengembangan kompetensi dan karakter anak mesti memerlukan proses mendalam. Seperti anak-anak diajak berdiskusi, ditanyakan pendapat, diajak berefleksi, mengerjakan proses kolaborasi, hingga diberi umpan balik.
"Semua proses itu perlu waktu juga. Dan untuk mencapai itu harus ada yang dikorbankan sayangnya, itu bisa kalau materi dari pusat dikurangkan," kata Nino.
Dia menyebut pihaknya mengurangkan materi pelajaran untuk punya waktu lebih mengembangkan karakter anak. Namu, dia menyebut materi tetap diberikan.
"Jadi, materi kurikulum itu tidak terlalu banyak. Ini yang kita lakukan di Kurikulum Merdeka, kita memfokuskan materi pada hal-hal esensial. Materi dari pusat lebih sedikit, jadi guru punya waktu untuk memperhatikan kualitas proses pembelajaran," tutur dia.
Nino menyebut Kurikulum Merdeka juga memberikan fleksibilitas bagi sekolah dan guru. Sekolah bisa membuat struktur kurikulum kreatif.
Misalnya, minggu pertama guru mengkombinasikan pelajaran Matematika dan IPA. Atau, fokus pada literasi dasar karena banyak anak belum bisa membaca.
Sekolah juga dibebaskan konvensial membagi rata materi pelajaran seperti biasa per minggu. Terpenting, target capaian tercapai.
"Capaian pembelajaran dikuci per dua sampai tiga tahun. Jadi, guru bisa menyelesaikan pembelajaran sesuai tingkatan anak," tutur Nino.
Baca: Penerapan Kurikulum Merdeka Tak Wajib, Kemendikbudristek Tak Mau Ganti Kurikulum Cuma Kosmetik
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan