Sejumlah peserta mengikuti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) di SBMPTN UI, Depok, Jawa Barat, ANT/Indrianto Eko Suwarso.
Sejumlah peserta mengikuti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) di SBMPTN UI, Depok, Jawa Barat, ANT/Indrianto Eko Suwarso.

UTBK Meminimalisir Angka Mahasiswa Drop Out

Pendidikan SNMPTN/SBMPTN 2019 SBMPTN 2019
Intan Yunelia • 15 April 2019 16:26
Jakarta: Sistem Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dinilai lebih menguntungkan para calon mahasiswa dari pada ujian tulis berbasis pensil dan kertas. Sistem ini memberikan transparansi, meningkatkan efisiensi mekanisme seleksi penerimaan calon mahasiswa dan juga meminimalisir potensi drop out.
 
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Krishnamurti mengatakan,UTBK juga mampu memperkecil potensi kecurangan, karena pelaksanaannya menggunakan komputer dan sistem soal yang berbeda-beda. Dengan mengizinkan calon mahasiswa mengetahui kemampuan akademis dan skolastika, mereka dapat terbantu untuk mengenali minat dan bakat masing-masing, sehingga dapat mengambil keputusan dengan lebih baik mengenai program studi atau Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang akan mereka tuju.
 
Baca:1,29 Juta Peserta Ikut UTBK

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sistem penerimaan di PTN juga akan lebih mudah dan relatif terhindar dari kecurangan karena menggunakan sistem IT. “Seharusnya penerapan sistem ini akan membuat pelaksanaan UTBK lebih cepat dan mudah. Namun pemerintah harus memastikan infrastruktur IT-nya sudah siap di semua tempat pelaksanaan ujian. Satu hal lagi yang harus dipastikan adalah kesiapan sumber daya manusia yang mengawal jalannya ujian ini,” jelas Indra.
 
Selain itu, peserta ujian dapat mengulang ujian hingga dua kali. Hal ini memberikan mereka kesempatan untuk mendaftarkan diri di PTN / program studi tujuan dengan nilai yang lebih baik. Ini tentu membuka kesempatan yang lebih lebar bagi calon mahasiswa untuk bersaing dengan kemampuan terbaiknya.
 
Melakukan ujian dengan metode paperless (berbasis komputer) seperti ini, lanjut Indra, akan mengurangi beban peserta ujian. Sistem ujian tertulis yang menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK) bisa jadi sebuah stresor (pemicu stres) bagi peserta ujian, karena aktivitas mengarsir lingkaran cukup menguras energi.
 
"Ditambah lagi, seringkali peserta merasa khawatir, apakah arsiran yang dibuat dapat terbaca komputer atau tidak. Hal ini tentu menambah beban peserta ujian. Sistem paperless ini tentunya akan lebih ramah lingkungan dengan menghemat kertas," ujarnya.
 
Pelaksanaan UTBK Gelombang Pertama dilakukan pada 13, 14, 20, 27, 28 April, dan 4-5 Mei 2019. Sedangkan gelombang kedua diadakan pada 11, 12, 18, 25, dan 26 Mei 2019.
 
Baca:Kampus Swasta Mulai Lirik UTBK
 
Salah satu persyaratan untuk mendaftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) 2019 adalah wajib mengikuti UTBK. Ujian ini dapat diikuti oleh siswa lulusan 2017, 2018, dan 2019 dari pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) dan sederajat, serta lulusan Paket C tahun 2017, 2018, dan 2019.
 
UTBK menggunakan soal-soal ujian yang dirancang sesuai kaidah akademik, di mana tes ini dapat memprediksi keberhasilan calon mahasiswa di semua program studi. Pengelolaan dan pengolahan data untuk kepentingan seleksi jalur SBMPTN dilakukan LTMPT yang merupakan satu-satunya lembaga penyelenggara tes perguruan tinggi terstandar di Indonesia.
 
Materi yang diujikan dalam UTBK 2019 adalah soal Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA). TPS bertujuan mengukur kemampuan kognitif, terdiri atas kemampuan penalaran umum, pengetahuan kuantitatif, pengetahuan dan pemahaman umum, serta kemampuan memahami bacaan dan menulis.
 
Sementara TKA mengukur pengetahuan dan pemahaman keilmuan yang diajarkan di sekolah.
Tak kurang dari 698.505 peserta akan mengikuti ujian gelombang pertama dan 597.115 peserta di gelombang kedua UTBK di seluruh Indonesia.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif