Pengembalian dana ini terkait dengan pelanggaran yang dilakukan Arya yaitu tidak memenuhi kewajiban mengabdi di Indonesia. Hal ini buntut kontroversi yang melibatkan istrinya, Dwi Sasetyaningtyas, yang juga penerima beasiswa LPDP.
"Dirut LPDP sudah bicara dengan suami terkait ya dan dia sepertinya sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dia pakai dari LPDP ini termasuk bunganya loh," sebut Purbaya dalam unggahan di akun Instagram @metrotv dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
Selama studi, sebenarnya berapa uang yang dihabiskan Arya Iwantoro? Berapa pembiayaan LPDP yang notabene berasal dari uang rakyat untuk studi S2 dan S3 Arya di Belanda? Simak perkiraan berikut ini.
Medcom.id mencoba menghitung perkiraan biaya studi hingga benefit yang diterima Arya selama studi. Arya studi S2 dan S3 di Utrecht University, Belanda. Arya studi selama 7 tahun, rinciannya studi S2 selama 2 tahun (2014-2016) dan studi S3 selama 5 tahun (2017-2022).
Berdasarkan laman students.uu.nl, biaya studi pascasarjana (2025) per tahunnya di Utrecht University beriksar EUR16.000-20.000. Apabila dirupiahkan dengan kurs Rp19.000, biaya maksimal adalah Rp380 juta per tahun.
Dengan begitu, untuk biaya pendidikan saja, dengan masa studi total 7 tahun, Arya sudah menikmati dana LPDP sebesar Rp2,6 miliar. Biaya tersebut belum menghitung sejumlah benefit yang diberikan LPDP.
Dalam buku panduan komponen pembiayaan beasiswa LPDP 2024, LPDP tidak hanya menanggung biaya pendidikan dan uang pendaftaran sesuai yang ditetapkan perguruan tinggi. LPDP juga memberikan bantuan pembiaan seperti buku, bantuan riset hingga biaya hidup.
Baca Juga :
44 Alumni LPDP Belum Kembali ke Indonesia, 8 Orang Dapat Sanksi Kembalikan Dana Beasiswa
Untuk benefit per tahun, Arya mendapatkan bantuan sebagai berikut:
- Tunjangan Buku: Rp10 juta
- Bantuan seminar: Rp15 juta
- Bantuan Publikasi Jurnal Internasional: Rp25 juta
- Asuransi kesehatan: Rp29 juta
- Biaya hidup: Rp342 juta
Nah, apabila digabungkan dengan biaya studi dan benefit yang didapat selama tujuh tahun masa studi, Arya sudah menghabiskan dana LPDP setidaknya Rp5,5 miliar. Bantuan tersebut belum termasuk bantuan transportasi, visa dan bantuan thesis sebesar Rp40 juta, dan disertasi Rp100 juta.
Kontrovesi ini bermula dari pernyataan Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas yang bangga anaknya mendapat kewarganegaraan Inggris. Namun, amarah publik terpantik karena ia mengucapkan: "I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat,".
Pernyataan Tyas mendapat kecaman dari warga net, pasalnya ia bisa berada di luar negeri atas bantuan pendidikan dari LPDP yang merupakan uang dari pajak rakyat. Warga net lalu mengulik kehidupan Tyas.
Rupanya, suaminya juga merupakan penerima LPDP dan belum menjalankan kewajiban kontribusi di Indonesia setelah lulus studi.
Belakangan, Tyas meminta maaf atas ucapannya. Dia menyadari kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai WNI.
Untuk itu, Tyas mengakui kesalahannya dan memahami dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawabnya. "Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi," tulis Tyas di akun Instagramnya @sasetyaningtyas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News