Berangkat dari temuan di lapangan, para mahasiswa UNDIP melihat potensi besar yang terbuang sia-sia. Pemahaman warga terkait pemilahan limbah masih sangat minim. Akibatnya, sampah organik dan anorganik yang sebenarnya memiliki nilai jual dan potensi daur ulang justru berujung di tempat pembuangan begitu saja.
Untuk memutus rantai masalah tersebut, Tim 10 KKN UNDIP menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan ibu-ibu PKK setempat. Misi utamanya bukan sekadar aksi bersih-bersih desa sesaat, melainkan membentuk kebiasaan baru bergaya ekonomi sirkular yang sustainable alias berkelanjutan.
Koordinator Tim 10 KKN UNDIP, Jadev Abrar, menegaskan pentingnya pelibatan warga lokal sejak awal pembentukan agar napas program ini tetap panjang meski masa KKN mahasiswa telah usai.
“Kami ingin masyarakat tidak melihat sampah hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sesuatu yang bisa dipilah dan memiliki nilai. Karena itu, sejak awal kami melibatkan BUMDes dan PKK agar program ini bisa terus berjalan,” ujar Jadev dalam keterangannya, dikutip Kamis, 13 Agustus 2026.
Lebih lanjut, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UNDIP tersebut berharap gerakan ini bisa menjadi budaya baru di setiap rumah tangga. Jika pemilahan tuntas di sumbernya, penyaluran material yang bernilai ekonomi akan jauh lebih maksimal.
“Harapannya, setelah KKN selesai, masyarakat tetap konsisten memilah sampah dari rumah. Bank sampah ini bukan hanya tempat menyetorkan sampah, tetapi juga bisa menjadi wadah pemberdayaan dan kegiatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Sinergi Menuju Desa Mandiri dan Berdaya
Nama Dena Lestari Berdaya sendiri bukan sekadar pajangan. Kata "Dena" merepresentasikan Desa Denasri Wetan, "Lestari" sebagai komitmen menjaga alam, dan "Berdaya" sebagai visi kemandirian ekonomi warga.Ketua Bank Sampah Dena Lestari Berdaya, Ilham Yahya, S.Kom., meyakini inisiatif ini akan mendobrak stigma lama masyarakat terhadap limbah rumah tangga.
“Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dengan mengubah sampah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual,” kata Ilham.
Guna memastikan tata kelola yang profesional, struktur kepengurusan dibentuk melalui Focus Group Discussion (FGD) yang alot dan terarah. Hasilnya, posisi ketua dipegang oleh perwakilan BUMDes, sementara roda operasional sehari-hari digerakkan oleh tenaga tangguh ibu-ibu PKK.
Mengambil lokasi strategis di Balai Desa Denasri Wetan, Gang Anggrek, kehadiran bank sampah ini terbukti langsung disambut antusias. Saat soft launching alias uji coba operasional pada Minggu, 9 Agustus 2026 lalu, pergerakan ibu-ibu PKK sukses mengumpulkan sampah bernilai ekonomi hingga memenuhi kapasitas satu mobil pikap.
Capaian perdana yang fantastis ini menjadi sinyal positif. Lewat sentuhan kolaborasi mahasiswa dan warga, limbah tak lagi dipandang sebagai masalah kotor yang membebani desa, melainkan aset tersembunyi yang siap memberdayakan ekonomi masyarakat Denasri Wetan.
Baca Juga :
Last Call Beasiswa Kemerdekaan UMB 2026! Diskon hingga Kuliah Gratis Sampai Lulus, Cek Caranya
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda