Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho. DOK MTVN/Duta Erlangga
Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho. DOK MTVN/Duta Erlangga

Pakai Strategi Terlihat Mata, BSI Cetak Rekor Tambah 2 Juta Nasabah dalam Setahun

Renatha Swasty • 13 Februari 2026 09:54
Ringkasnya gini..
  • BSI melakukan strategi investasi besar-besaran pada infrastruktur fisik dan penguatan branding untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat Indonesia.
  • BSI melakukan branding masif melalui lebih dari 1.000 kantor cabang hingga menyediakan 5.000 mesin ATM baru di area publik.
  • Pada 2025, BSI mencetak rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan dengan menambah lebih dari dua juta nasabah baru hanya dalam waktu satu tahun.
Jakarta: Di tengah tantangan inklusi keuangan syariah nasional, PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk berhasil mencatatkan pencapaian signifikan. Strategi investasi besar-besaran pada infrastruktur fisik dan penguatan branding terbukti menjadi kunci bagi BSI  mendapatkan kepercayaan masyarakat Indonesia.
 
Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, mengungkapkan sepanjang tahun 2025, BSI mencetak rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan dengan menambah lebih dari dua juta nasabah baru hanya dalam waktu satu tahun.
 
Cahyo menjelaskan berdasarkan riset mendalam, hambatan terbesar masyarakat Indonesia untuk beralih ke bank syariah bukan karena prinsip kesyariahan, melainkan kehadiran fisik atau physical presence.

"Nasabah Indonesia itu unik. Mereka melihat bank dengan mata, baru bertransaksi dengan tangan. Jika mata mereka tidak melihat keberadaan bank tersebut, mereka tidak akan menggunakan app-nya," ujar Cahyo dalam acara Sharia Economic Forum 2026: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact, di The Tribrata Hotel, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.
 
Menyadari hal tersebut, BSI melakukan langkah berani dengan melakukan branding masif melalui lebih dari 1.000 kantor cabang. Selain itu, pada 2023, BSI melakukan investasi besar dengan menyediakan 5.000 mesin ATM baru yang disebar di area publik seperti stasiun MRT dan pusat perbelanjaan.
 
Cahyo mengakui persaingan industri perbankan memang sangat menantang. Hal tersebut mengharuskan BSI untuk terus bekerja cerdas. Salah satu strategi yang dijalankan adalah memastikan BSI hadir berdampingan dengan bank-bank besar konvensional di area-area strategis.
 
"Data kami menunjukkan, jika BSI diletakkan sejajar dengan bank konvensional besar di jalan utama, winning rate atau ketertarikan nasabah untuk memilih bank syariah bisa mencapai 50 persen," beber Cahyo.
 
Meskipun terus memperluas jangkauan ke segmen korporasi besar seperti PLN dan Pertamina, BSI tetap memegang teguh identitasnya sebagai bank retail. Cahyo menegaskan pendekatan ke korporasi merupakan pintu masuk untuk menjangkau ribuan individu di dalamnya.
 
Selain itu, inovasi produk seperti investasi emas juga menjadi motor pertumbuhan baru. BSI memanfaatkan tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap emas sebagai instrumen perlindungan nilai di masa tua. Hal ini selaras dengan posisi BSI yang kini menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang memiliki izin sebagai bullion bank atau bank emas.
 
Optimisme BSI kian meningkat seiring dengan statusnya yang kini telah menjadi bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam lima tahun ke depan, BSI menargetkan berdiri setara dengan bank-bank besar papan atas di Indonesia dan masuk dalam jajaran 10 besar bank syariah dunia.
 
"Kami tidak merasa terancam dengan kehadiran bank syariah lain yang akan spin off. Justru kami senang, karena perjuangan meyakinkan masyarakat bahwa bank syariah itu keren, modern, dan tidak kuno akan jauh lebih ringan jika dilakukan bersama-sama," tutur Cahyo. (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan