Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Sharia Economic Forum 2026: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact. MTVN/Duta Erlangga
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Sharia Economic Forum 2026: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact. MTVN/Duta Erlangga

Sharia Economic Forum 2026

Menkeu Purbaya: Orang 'Islam-islaman' Ganti Istilah Riba yang Ternyata Lebih Mahal

Renatha Swasty • 12 Februari 2026 18:50
Ringkasnya gini..
  • Menkeu Purbaya mengkritik perbankan syariah Indonesia yang dianggapnya hanya sekadar mengganti istilah tanpa memberikan keadilan ekonomi nyata.
  • Kenyataan di lapangan banyak pelaku usaha merasa skema pembiayaan syariah justru lebih mahal dan membebani dibandingkan dengan bank konvensional.
  • Apabila ingin membangun ekonomi syariah, Indonesia harus berani menjalankan praktik yang benar-benar adil tak sekadar mengganti nama ‘bunga’,
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik sekaligus tantangan terbuka bagi para pelaku ekonomi syariah di Indonesia. Purbaya menyebut potensi besar ekonomi syariah di Indonesia masih terjebak dalam ruang retorika dan simbol belaka, tanpa instrumen nyata yang dirasakan masyarakat.
 
​Purbaya mengungkapkan kegelisahannya yang telah dipendam selama 25 tahun sebagai ekonom. Ia melihat adanya ketimpangan antara ambisi menjadikan Indonesia pusat syariah dunia dengan kenyataan di lapangan.

Dia menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Jerman pada 2012. Purbaya terkejut ketika ahli Bank Sentral menyebut sistem perbankan Jerman justru lebih ‘syariah’ dibandingkan dengan Indonesia.
 
​"Dia bilang, negara saya lebih syariah dari negara kamu. Ternyata 80 persen perbankan mereka dikuasai bank-bank daerah dengan bunga hanya 1 persen dan biaya pinjam 2 persen, di mana keuntungan hanya untuk operasional, bukan untung besar-besaran," ujar Purbaya ​dalam acara Sharia Economic Forum 2026: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact di The Tribrata Hotel, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

​Ia menyebut sistem tersebut justru lahir dari pembelajaran sejarah atas peristiwa di Indonesia masa lalu. "Saya yakin mereka belajar dari prinsip Islam, cuma orang Islam sendiri yang lupa dan sekarang malah mengagungkan ekonomi Barat," ujar dia. 
 
Purbaya mengkritik perbankan syariah Indonesia yang dianggapnya hanya sekadar mengganti istilah tanpa memberikan keadilan ekonomi nyata. Ia melihat kenyataan di lapangan banyak pelaku usaha merasa skema pembiayaan syariah justru lebih mahal dan membebani dibandingkan dengan bank konvensional.
 
​"Orang Islam itu pintar, yang 'Islam-Islaman' ya. Diubah istilah riba, jangan dipakai, tapi pakai istilah lain yang ternyata lebih mahal. Nyusahin, bahkan lebih nyusahin. Itu arah yang salah," tegas Purbaya.
 
​Menurutnya, jika ingin membangun ekonomi syariah, Indonesia harus berani menjalankan praktik yang benar-benar adil, bukan sekadar mengganti nama ‘bunga’ menjadi istilah lain sementara marginnya jauh lebih tinggi.
 
Purbaya juga menyayangkan minimnya penguasaan pasar oleh produsen muslim lokal. Ia mencontohkan industri busana muslim yang 99 persen pasarnya justru dikuasai produk impor dari Tiongkok.
 
​"Pasar kita besar, tapi kita tidak menguasai kapasitas produksi. Di sini siapa pemimpinnya? Siapa imamnya dalam bisnis syariah? Enggak ada," sentil dia. 
 
​Purbaya membuka pintu bagi para ahli dan pelaku ekonomi syariah untuk mengajukan proposal kebijakan dan insentif fiskal yang konkret ke Kementerian Keuangan. Ia berjanji akan membantu penuh bila program yang ditawarkan benar-benar bertujuan membangun ekosistem syariah yang nyata, bukan sekadar simbolis.
 
​"Mumpung Menterinya orang Islam nih, saya bantu kalau Bapak mau betul-betul bangun ekonomi syariah. Tapi kalau cuma pakai nama-namanya saja, saya enggak ikut," tegas dia. (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan