Hewan kurban. DOK MTVN Rhobi Shani
Hewan kurban. DOK MTVN Rhobi Shani

Jangan Dibuang Sembarangan, Pakar IPB Ungkap Bahaya Tersembunyi Limbah Kurban Iduladha

Renatha Swasty • 26 Mei 2026 19:03
Ringkasnya gini..
  • Limbah ternak selama masa kurban perlu dikelola secara tepat karena jumlahnya sangat besar dan tersebar di berbagai titik.
  • Limbah kurban terbagi menjadi dua kategori utama berdasarkan lokasi, yakni limbah di area penjualan dan limbah di area penyembelihan.
  • Dengan pengelolaan yang tepat, limbah kurban tidak lagi menjadi beban lingkungan.
Jakarta: Peningkatan jumlah ternak setiap Iduladha tidak hanya menghadirkan berkah, tetapi juga memunculkan persoalan klasik, yakni lonjakan limbah. Pakar IPB University, Salundik, menyebut limbah kurban berpotensi mencemari lingkungan dan menimbulkan risiko kesehatan bila tidak dikelola dengan baik.
 
Salundik menegaskan limbah ternak selama masa kurban perlu dikelola secara tepat karena jumlahnya sangat besar dan tersebar di berbagai titik. Ia menjelaskan limbah kurban terbagi menjadi dua kategori utama berdasarkan lokasi, yakni limbah di area penjualan dan limbah di area penyembelihan.
 
“Limbah di lokasi penjualan umumnya berupa kotoran (feses) dan sisa pakan hijauan. Karena ternak dikumpulkan dalam jumlah besar sekitar 20 hari sebelum Iduladha, akumulasinya menjadi sangat masif,” jelas Salundik dalam keterangan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

Sebagai gambaran, 50 ekor sapi masing-masing menghasilkan sekitar 20 kilogram kotoran per hari dapat menghasilkan hingga 20 ton limbah selama periode tersebut. Sementara itu, limbah di tempat penyembelihan memiliki karakteristik berbeda dan lebih berisiko. 
 
Limbah ini mencakup darah, isi rumen, serta saluran pencernaan yang berpotensi menimbulkan kontaminasi, terutama di wilayah perkotaan dengan keterbatasan lahan. “Jenis limbah di area penyembelihan memerlukan penanganan khusus karena risiko kontaminasinya lebih tinggi,” ujar dia.
  Salundik mendorong pemanfaatan limbah organik dari area penjualan, seperti feses dan sisa pakan, untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. “Feses dan sisa pakan dapat diolah menjadi pupuk organik seperti kompos atau vermikompos. Ini menjadi solusi praktis sekaligus memberikan nilai ekonomi,” jelas dia.
 
Namun, dia mengakui pengelolaan limbah di tempat penyembelihan masih menjadi tantangan. Hal ini disebabkan oleh jumlah ternak yang tidak pasti, lokasi penyembelihan yang tersebar, serta keterbatasan lahan untuk pengolahan limbah.
 
Kondisi tersebut menunjukkan pengelolaan limbah kurban tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan pendekatan lebih terencana dan terkoordinasi, terutama di wilayah perkotaan.
 
Melalui pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik, masyarakat tidak hanya dapat mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada praktik ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.
 
Dengan pengelolaan yang tepat, limbah kurban tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA