Kapal-kapal Spanyol tercatat sempat berlabuh di perairan Indonesia jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda. Kehadiran mereka dipicu oleh perburuan rempah-rempah yang diperebutkan juga oleh pesaingnya, yaitu Portugis.
Sengitnya persaingan dua kekuatan Eropa ini bahkan mendorong Paus Yulius II turun tangan untuk meredakan ketegangan. Melalui Perjanjian Tordesillas pada 7 Juni 1494, wilayah jelajah dunia di luar Eropa akhirnya dibagi dua antara Spanyol dan Portugis.
Atas dasar perjanjian tersebut, ekspedisi pimpinan Ferdinand Magellan berlayar mengarungi samudra menuju Tanah Hindia. Meski Magellan tewas di Filipina, rombongannya tetap berhasil melanjutkan pelayaran hingga akhirnya mendarat di Indonesia.
Lantas, apakah kehadiran bangsa Spanyol di Tanah Air kala itu dapat disebut sebagai penjajahan? Berikut informasi lengkapnya yang dikutip dari Buku Sejarah Indonesia karya Sardiman dan Amurwani Dwi Lestariningsih
Apakah Spanyol Pernah Menjajah Indonesia?
Apabila melihat catatan sejarah resmi, jawabannya adalah Spanyol tidak pernah menjajah Indonesia secara menyeluruh ataupun dalam jangka waktu panjang. Meskipun armada Spanyol sempat mendarat dan menanamkan pengaruhnya di wilayah Indonesia, keberadaan mereka di sini sangat singkat.Hubungan Spanyol dengan masyarakat lokal pada saat itu lebih berfokus pada aktivitas perdagangan rempah-rempah serta persekutuan politik dengan kerajaan setempat, bukan pendudukan wilayah secara luas atau penjajahan bernilai konstan.
Mendarat di Maluku dan Bersekutu dengan Tidore
Perjalanan panjang rombongan Spanyol di bawah pimpinan Sebastian del Cano akhirnya berhasil membawa mereka mendarat di Kepulauan Maluku pada tahun 1521. Kedatangan armada Spanyol ini disambut hangat oleh pihak Kesultanan Tidore.Sambutan baik tersebut bukan tanpa alasan. Saat itu, Kesultanan Tidore sedang terlibat persaingan politik dan ekonomi yang sengit dengan Kesultanan Ternate, yang mana Ternate telah lebih dulu menjalin hubungan dekat dengan Portugis.
Bagi Tidore, kehadiran Spanyol merupakan kesempatan strategis untuk memperkuat posisi mereka. Bagi Spanyol sendiri, hubungan baik ini dimanfaatkan untuk membeli serta mengangkut rempah-rempah berharga ke dalam kapal mereka sebelum berlayar kembali.
Perjanjian Saragosa Mengakhiri Langkah Spanyol di Indonesia
Kehadiran Spanyol di perairan Maluku langsung memicu reaksi keras dan protes dari Portugis. Pihak Portugis menilai Spanyol telah melanggar Perjanjian Tordesillas pada 1494, yaitu kesepakatan internasional yang membagi pembagian garis wilayah jelajah dunia di luar Eropa antara Spanyol dan Portugis.Perselisihan dan pertikaian antara kedua negara Eropa ini pun sempat memanas di kawasan Maluku. Untuk meredakan ketegangan dan menyelesaikan sengketa hak dagang tersebut, kedua pihak sepakat menggelar perundingan hingga melahirkan Perjanjian Saragosa pada tahun 1529.
Poin penting dari Perjanjian Saragosa tersebut mencakup:
- Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memindahkan seluruh fokus penjelajahan serta kekuasaannya ke Filipina
- Portugis memperoleh hak penuh untuk menguasai dan memonopoli perdagangan rempah-rempah di seluruh Kepulauan Nusantara
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda