Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Deep Learning Bakal Diterapkan di Semua Mata Pelajaran, Bagaimana Penerapannya?

Ilham Pratama Putra • 10 Juli 2026 13:01
Ringkasnya gini..
  • Deep learning diterapkan pada semua mata pelajaran sesuai karakteristiknya.
  • Pelatihan guru kini berbasis mata pelajaran agar implementasi lebih efektif.
  • AI dan coding menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan tujuan utama.
Jakarta: Pembelajaran mendalam atau Deep Learning bukanlah mata pelajaran baru di sekolah. Sebaliknya, pendekatan tersebut akan diterapkan pada seluruh mata pelajaran dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing bidang studi, mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, hingga mata pelajaran lainnya.
 
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan masih banyak yang memahami Deep Learning sebagai mata pelajaran baru. Padahal, konsep tersebut merupakan pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk membuat proses belajar lebih bermakna, mendalam, dan melibatkan peserta didik secara aktif.
 
"Semua mata pelajaran itu akan menggunakan pendekatan deep learning yang memang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing. Penerapannya memang tidak selalu sama. Itulah mengapa pelatihan ini diselenggarakan untuk semua guru mata pelajaran," kata Mu'ti di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
 
Baca Juga: Kriteria Seleksi PPG Calon Guru 2026 Kemendikdasmen  

Menurut dia, setiap mata pelajaran memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penerapan pembelajaran mendalam tidak dapat diseragamkan. Guru diberikan keleluasaan menyesuaikan metode pembelajaran dengan kompetensi, materi, dan kebutuhan peserta didik di kelas.

Karena itu, pelatihan yang diselenggarakan Kemendikdasmen pada 2026 juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya seluruh guru memperoleh materi yang sama, kini pelatihan dilakukan berbasis mata pelajaran agar guru dapat langsung mendiskusikan implementasi pembelajaran mendalam sesuai bidang studinya.
 
"Jadi yang berbasis mata pelajaran, kalau sebelumnya semua berkumpul mendapatkan substansi pembelajaran mendalam, sekarang langsung implementasi di mata pelajaran masing-masing. Sehingga guru Matematika bertemu dengan guru Matematika, guru Bahasa Indonesia bertemu dengan guru Bahasa Indonesia," ujarnya.
 
Mu'ti menjelaskan penerapan pembelajaran mendalam tidak dapat dipisahkan dari pemanfaatan teknologi, termasuk coding dan kecerdasan artifisial (AI). Namun, keduanya bukan tujuan utama pembelajaran, melainkan instrumen yang dapat membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih berkualitas.
 
Ia mengatakan AI dapat berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri di sekolah. Di sisi lain, teknologi tersebut juga bisa digunakan sebagai alat bantu untuk mendukung penerapan pembelajaran mendalam di berbagai mata pelajaran.
 
"AI itu bisa menjadi mata pelajaran tersendiri, tapi juga bisa sekaligus menjadi pendukung pembelajaran mendalam. Karena itu AI dan coding sebenarnya satu paket yang semuanya bisa dimanfaatkan untuk menyukseskan pembelajaran mendalam," jelasnya.
 
Artinya, guru tidak dituntut mengubah seluruh proses belajar mengajar menjadi berbasis teknologi. Sebaliknya, guru didorong memanfaatkan AI dan coding secara proporsional untuk memperkuat proses pembelajaran sesuai kebutuhan mata pelajaran.
 
Baca juga: Gratis! Pemerintah Tanggung Biaya PPG 2026 untuk Calon Guru  

Mu'ti menegaskan pembelajaran mendalam tidak hanya berbicara mengenai metode mengajar atau penggunaan perangkat digital. Pendekatan tersebut merupakan upaya mengubah pengalaman belajar agar siswa benar-benar memahami materi, mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata, serta aktif membangun pengetahuan melalui proses belajar.
 
Karena itu, implementasi pembelajaran mendalam akan berbeda antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Guru matematika, misalnya, dapat mengembangkan pembelajaran berbasis pemecahan masalah, sementara guru Bahasa Indonesia dapat mendorong siswa mengeksplorasi pengalaman melalui diskusi, membaca, maupun penulisan.
 
Dengan fleksibilitas tersebut, pemerintah berharap guru tidak melihat deep learning sebagai beban tambahan ataupun kurikulum baru. Sebaliknya, pendekatan itu menjadi cara baru dalam mengelola pembelajaran sehingga lebih berpusat pada peserta didik dan menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
 
"Pelatihan berbasis mata pelajaran ini diharapkan mampu membantu guru menerjemahkan konsep pembelajaran mendalam ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari sesuai karakteristik bidang studi masing-masing," pungkasnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA