Mahasiswa tersebut, yakni, Tiara Ramayani, Bobby Kurniawan, dan Fauziah Wulandari. Mereka menciptakan Gibal karena sedih melihat begal di jalanan telah menjatuhkan banyak korban.
"Tak hanya harta mereka yang dicuri, mereka juga menjadi korban tindak kekerasan. Kadang jatuh dari motor, dan luka terkena benda tajam. Kami juga melihat tiap tahun kasus begal ini terus meningkat," papar Tiara pada Medcom.id, Jumat, 10 Agustus 2018.
Gibal bekerja secara otomatis menghubungkan korban atau calon korban dengan pihak keluarga dan pihak kepolisian. "Jadi, ketika pengendara merasa diikuti dan akan menjadi korban begal, bisa memencet tombol pada gelang," jelas Tiara.
Tiara menerangkan Gibal bekerja menggunakan dua metode. Alat ini bekerja mengirim lokasi dan sensor detak jantung pengguna, serta aplikasi yang berfungsi menyimpan nomor telepon keluarga maupun pihak yang ingin dihubungi pengguna saat terjadi ancaman.
"Kita harus membentuk komunitas Gibal, yang nantinya diharapkan pengguna Gibal ketika terancam bisa segera ditolong oleh pengguna Gibal terdekat tanpa harus menunggu bantuan dari keluarga yang jauh dari lokasi,” ucap Tiara.
Untuk waktu pembuatan, satu Gibal membutuhkan waktu dua bulan dan menghabiskan biaya sebesar Rp170.000-200.000. Alat ini merupakan prototipe ketiga yang mereka buat selama masa percobaan.
“Ini sudah percobaan yang ketiga. Dalam percobaaan sebelumnya, kami melihat kekurangan dan kelebihan dari masing-masing alat dengan teliti. Hingga akhirnya kami memilih percobaan ketiga ini sebagai alat yang kami perkenalkan ke masyarakat, dan akan lanjut ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) nantinya,” tutup Tiara.
Temuan ini sudah mendapat bantuan dari Kemenristekdikti dalam Program Kreatif Mahasiswa (PKM) 2018 dan dipersiapkan untuk berlaga pada Pimnas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News