Ilustrasi. DOK Pexel
Ilustrasi. DOK Pexel

Cara Cek Jurnal Predator Sebelum Submit Naskah, Jangan Asal Publikasi!

Bramcov Stivens Situmeang • 17 September 2026 14:44
Ringkasnya gini..
  • Jurnal predator merupakan publikasi ilmiah yang mengutamakan keuntungan finansial ketimbang kualitas akademik dengan proses peer review tidak wajar.
  • Terjebak dalam jurnal predator berisiko merusak reputasi akademik, membuang biaya penelitian, hingga menyebabkan karya ilmiah hilang dari internet.
  • Penulis diimbau memverifikasi kredibilitas jurnal secara mandiri melalui sumber resmi seperti SINTA, Scopus Sources, SJR, ISSN Portal, dan DOAJ.
Jakarta: Jurnal predator menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai peneliti, dosen, dan mahasiswa yang hendak menerbitkan karya ilmiah. Tak sedikit penulis baru menyadari jurnal yang dipilih bermasalah setelah biaya publikasi dibayarkan dan naskah terlanjur diterbitkan.

Karena itu, penting bagi penulis untuk mengenali tanda-tanda jurnal predator serta memastikan kredibilitasnya sebelum mengirimkan naskah. Sebelum mengirim naskah, penulis perlu memahami apa yang dimaksud dengan jurnal predator. Berikut ulasannya dikutip dari predatoryjournals.org:

Apa Itu Jurnal Predator?

Jurnal predator merupakan publikasi ilmiah yang terlihat seperti jurnal resmi. Tetapi lebih mengutamakan keuntungan finansial dibandingkan kualitas dan kredibilitas akademik.

Kemunculan sistem publikasi akses terbuka atau open-access turut membuat perbedaan antara jurnal kredibel dan jurnal predator semakin sulit dikenali. Akibatnya, peneliti maupun mahasiswa berpotensi menjadi korban.

Berikut sejumlah ciri jurnal predator yang perlu diperhatikan:
  1. Mengirim email penawaran secara masif dan agresif, disertai pujian berlebihan atau desakan agar penulis segera mengirim naskah maupun bergabung sebagai dewan redaksi.
  2. Tidak mencantumkan biaya publikasi atau Article Processing Charge (APC) secara jelas sejak awal dan baru mengungkapkannya setelah naskah diterima.
  3. Menawarkan proses review yang tidak wajar cepat, bahkan naskah dapat dinyatakan lolos hanya dalam hitungan jam atau beberapa hari.
  4. Mencatut nama akademisi terkenal sebagai anggota dewan redaksi tanpa persetujuan, bahkan ada yang fiktif atau tidak dapat dihubungi.
  5. Mengklaim mempunyai impact factor tinggi atau terindeks di basis data bereputasi seperti PubMed dan Scopus, padahal informasi tersebut tidak sesuai kenyataan.
  6. Memiliki laman jurnal yang tidak profesional, ditandai banyak kesalahan penulisan, tautan rusak, atau kontak yang hanya menggunakan email pribadi.
  7. Menerima naskah dari berbagai bidang tanpa proses seleksi yang memadai, termasuk memuat tulisan yang terindikasi plagiarisme.
Terjebak dalam jurnal predator dapat menimbulkan berbagai kerugian. Reputasi akademik peneliti bisa terdampak, biaya penelitian terbuang, dan kepercayaan publik terhadap hasil penelitian ikut terganggu.

Jurnal semacam ini juga kerap tidak memiliki sistem pengarsipan yang baik. Akibatnya, karya ilmiah yang telah diterbitkan berisiko hilang dari internet.

Minimnya jaminan etika juga dapat membuka peluang terjadinya plagiarisme maupun penyalahgunaan data. Lantas, bagaimana cara mengecek jurnal predator sebelum submit naskah? Ini penjelasannya.

Ilustrasi jurnal ilmiah_ DOK Medcom
Ilustrasi jurnal ilmiah. DOK Medcom
 

Cara Cek Jurnal Predator

Mengenali jurnal predator sebenarnya dapat dipelajari dengan memahami sumber verifikasi dan aspek-aspek yang harus diperiksa. Langkah ini penting dilakukan sebelum naskah dikirim, bukan setelah publikasi berlangsung.

Penulis juga tidak bisa langsung mempercayai klaim indeksasi yang terpampang pada situs jurnal. Misalnya, logo SINTA atau Scopus belum tentu menunjukkan status jurnal yang sebenarnya.

Ada jurnal yang statusnya sudah discontinued dari basis data resmi. Tetapi masih memasang logo indeksasi lama di situs mereka untuk menarik calon penulis yang tidak melakukan pengecekan ulang.

Karena itu, pengecekan perlu dilakukan melalui beberapa sumber resmi. Penulis dapat membandingkan informasi jurnal pada SINTA, Scopus Sources, SJR (Scimago Journal Rank), ISSN Portal, DOAJ (Directory of Open Access Journals).

Verifikasi lintas sumber ini membantu memastikan apakah jurnal benar-benar terindeks, memiliki identitas penerbit yang jelas, serta menjalankan proses publikasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain memeriksa indeksasi, penulis juga perlu mencermati biaya publikasi, susunan dewan redaksi, kebijakan peer review, informasi kontak, hingga kualitas laman jurnal.

Sebaiknya kamu jangan terburu-buru mengirim naskah hanya karena mendapat undangan publikasi dengan janji proses cepat. Bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti yang sedang mempersiapkan publikasi ilmiah, kehati-hatian pada tahap awal dapat mencegah kerugian waktu, biaya, dan reputasi akademik.

Itulah cara mengenali dan mengecek jurnal predator sebelum submit naskah. Semoga bermanfaat ya!
 


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan